Misteri Pos Kuburan Kuda (Instagram @urban.hikers) Misteri Pos Kuburan Kuda. (Istimewa/Instagram/@urban.hikers)
Selasa, 17 Oktober 2017 14:30 WIB Muhammad Rizal Fikri/JIBI/Solopos.com Peristiwa Share :

Misteri Suara Tapak Kuda & Kaki Tentara Saat Mendaki Gunung Ceremai

Kisah misteri kali ini tentang pendaki di Gunung Ceremai yang mendengar suara tapak kaki kuda.

Solopos.com, KUNINGAN – Antara percaya tak percaya, kisah misteri kerap mewarnai proses pendakian. Kali ini sebuah cerita misteri datang dari pendaki tentang pengalamannya mendaki Gunung Ceremai, Jawa Barat. Suara tapak kaki kuda dan manusia serta tangisan bayi mewarnai momen mereka berkemah di areal Pos Kuburan Kuda.

Cerita misteri ini diunggah oleh pengelola akun Instagram @urban.hikes, Kamis (12/10/2017), yang merupakan kiriman dari pengguna akun @reza.znlm. Berdasarkan cerita Reza pengalaman misterius itu ia alami saat mendaki Gunung Ceremai pada 2013.

Waktu itu pengalaman mendaki pertama bagi Reza, ia dan dua temannya mendaki Gunung Ceremai melalui jalur Linggarjati. Pendakian dimulai sore hari sekitar pukul 15.30 WIB. Awalnya perjalanan lancar-lancar saja, memasuki waktu Maghrib Reza dan dua temannya sempat berhenti di Selter Condang Amis. Di situ ketiga orang itu sempat salat, makan, dan istirahat.

Perjalanan dilanjutkan sekitar pukul 20.30 WIB, dari Selter Condang Amis itu Reza dan dua temannya adalah satu-satunya rombongan yang mendaki. Tak ada rombongan lain yang berdekatan atau melintas selama mereka beristirahat.

Ketiga orang itu sebenarnya mengejar waktu agar sampai Pos Pangasinan sebelum waktu Subuh, dengan tujuan menikmati matahari terbit di puncak Ceremai. Namun di tengah perjalanan salah satu teman Reza mengalami kram di paha kiri. Rombongan pun berhenti, setelah dirasa membaik, perjalanan dilanjutkan. Baru melanjutkan perjalanan beberapa menit, kram kambuh, kali ini di paha kanan ditambah kedinginan hebat. Dirasa tak bisa melanjutkan perjalanan, Reza dan teman-temannya memutuskan istirahat dan mendirikan tenda.

Sekitar pukul 00.30 WIB, saat kedua temannya sudah tertidur, Reza malah tak bisa tidur. Ia mendengar jelas suara tapak kaki menginjak ranting dan daun kering. Padahal di luar tenda tidak ada suara perbincangan pendaki lain yang mungkin kebetulan melintas. Setelah kondisi kembali sunyi, Reza mendengar suara lain, yang kali kedua ini suara tapak kaki kuda.

Di tengah ketakutan Reza menyadari salah satu temannya belum tidur. “Eh, lu dengaer suara kaki kuda lagi jalan sama suara sepatu tentara gak? Rame banget ini!” bisik Reza. Temannya itu mengaku tak mendengar apa yang didengar Reza, tapi ia mendengar suara bayi menangis di dekat tenda.

Menurut pengakuan Reza, ia dan temannya mendengar suara misterius itu dalam waktu lama. Mereka sama-sama tak bisa tidur karena suara tersebut. Hingga pukul 03.00 WIB, suara perlahan hilang. Suara tersebut digantikan suara pendaki yang mulai banyak melintas.

#urbanmystery Narasumber : @reza.znlm Saya mau berbagi cerita dan pengalaman saat melakukan pendakian ke Gunung Ciremai, 2013 lalu. Kebetulan waktu itu pendakian pertama saya, dan langsung ke gunung Ciremai. . Siang itu, kami bertiga menuju basecamp Linggarjati untuk melakukan registrasi dan sekaligus minta ijin ke petugas pos regist untuk lintas jalur (naik Linggarjati-turun Palutungan) karena memang waktu itu tidak ada larangan untuk lintas jalur. Pukul 15:30 setelah sholat Ashar di pos pertama (Cibunar) kami berdoa terlebih dahulu sebelum memasuki hutan dan mulai mendaki. Saat itu cuma kami bertiga yang melakukan pendakian. . Memasuki waktu Maghrib, kami tiba di shelter Condang Amis. Disana kami istirahat lumayan lama, lalu sholat Maghrib, makan, ngopi dan beberapa sebat..hehe, juga membuat perapian sekedar untuk menghangatkan badan, karena memang malam itu suhu terasa dingin. . Setelah semuanya beres, kami sempatkan untuk sholat Isya sebelum melanjutkan pendakian. Pukul 20:30 perjalanan kami lanjutkan. Keheningan pun kami rasakan malam itu, benar-benar tak ada pendaki lain selain kami bertiga. Malam semakin larut, tak ada keanehan yang berarti selain suara-suara hewan malam yang saling bersahutan. . Setelah sekian lama berjalan dari shelter Condang Amis, tiba-tiba salah satu teman kami mengalami keram dibagian paha sebelah kiri. Kamipun segera berhenti dan memberikan pertolongan. Setelah dirasa sudah membaik dan sanggup untuk berjalan, lalu kami bergegas segera melanjutkan pendakian. Karena memang waktu itu target kita tiba di pos terakhir (Pangasinan) sebelum Subuh, agar bisa menikmati sunrise. . Setelah berjalan beberapa menit dari kejadian kram tadi, pukul 22:30 teman yang sama mengalami kedinginan hebat dan keram (lagi) untuk yang kedua kalinya, kali ini di bagian paha sebelah kanan, yang mengakibatkan dia jalannya terpincang-pincang. Kami pun memutuskan untuk beristirahat dan segera memberi pertolongan sebisa kami. . (Lanjutan di kolom komentar, males scroll baca di website aja, link ada di BIO. Punya cerita misteri selama pendakian? Kirim aja ke > urbanhikersmagazine@gmail.com < )

A post shared by INDONESIA RAYA (@urban.hikers) on

Lowongan Pekerjaan
CV SINDUNATA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…