Camat Karangdowo, Agus Suprapto, (ketiga dari kanan) menyerahkan bantuan kepada keluarga Sartono, 53, warga Karangdowo yang ditemukan meninggal dunia di Kalimantan Tengah, Selasa (17/10/2017). (Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos) Camat Karangdowo, Agus Suprapto, (ketiga dari kanan) menyerahkan bantuan kepada keluarga Sartono, 53, warga Karangdowo yang ditemukan meninggal dunia di Kalimantan Tengah, Selasa (17/10/2017). (Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos)
Selasa, 17 Oktober 2017 17:35 WIB Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos Klaten Share :

KISAH TRAGIS
Pergi Menambang Emas ke Kalimantan, Bakul Mi Klaten Tewas Terdampar di Pantai

Kisah tragis dialami warga Karangdowo, Klaten, yang berniat memperbaiki nasib dengan pergi ke Kalimantan tapi pulang tinggal nama.

Solopos.com, KLATEN — Seorang warga Dukuh Klengkingan, Desa Demangan, Kecamatan Karangdowo, Klaten, Sartono, 53, ditemukan tewas terdampar di Pantai Ujung Pandaran, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, Senin (16/10/2017).

Keluarga Sartono memilih tak membawa pulang dan memakamkan jenazah Sartono di kampung halaman lantaran terbentur biaya. Saat ditemukan, kondisi jenazah Sartono sudah tak utuh.

Sartono dikabarkan menghilang sejak Kamis (12/10/2017) saat perjalanan menggunakan Kapal Motor (KM) Kirana III dari Semarang menuju Kalimantan. Sartono memiliki dua anak perempuan dan tiga cucu.

Salah satu anak Sartono, Zarohtul, 24, mengatakan bapaknya berangkat ke Kalimantan bersama seorang kerabatnya dari Boyolali. Selama ini, Sartono bersama istrinya, Harni, 51, merantau di Semarang dan bekerja sebagai pedagang mi godok keliling. Sementara Harni berjualan pecel.

Sartono berangkat ke Kalimantan karena ingin beralih pekerjaan di pertambangan emas agar mendapatkan penghasilan lebih besar. Namun, belum sampai di tempat kerja baru, Sartono meninggal dunia.

“Ingin mengubah nasib mendapatkan penghasilan lebih besar. Ada keluarga dari Boyolali yang sudah lebih dulu bekerja di Kalimantan. Saat ia pulang ke Boyolali dan mau berangkat lagi ke Kalimantan, Bapak ikut,” kata Zarohtul saat ditemui wartawan di rumahnya, Selasa (17/10/2017).

Zarohtul mengatakan keluarga sudah mendapat kabar Sartono menghilang sejak Jumat (13/10/2017) dan kembali mendapat kabar Sartono ditemukan meninggal dunia pada Senin (16/10/2017) sore. “Bapak berangkat ke Boyolali pada Selasa [10/10/2017] dan berangkat ke Semarang pada Rabu [11/10/2017] sebelum ke Kalimantan,” kata Zarohtul.

Istri Sartono, Harni, mengatakan jenazah suaminya dimakamkan di Sampit, Kalimantan Tengah, pada Selasa (17/10/2017) siang. Selama bekerja di Kalimantan, kerabat Sartono dari Boyolali tinggal di Sampit.

Keluarga memutuskan tak memakamkan jenazah Sartono di kampung halaman lantaran terbentur biaya. Dari keterangan yang diperoleh keluarga, untuk memulangkan jenazah Sartono dari Kalimantan dibutuhkan biaya hingga Rp60 juta.

“Kondisi jenazah tidak memungkinkan untuk dipulangkan. Selain itu, biaya untuk pemulangan juga mencapai Rp60 juta. Pemakaman siang ini tadi diurus menantu saya yang juga bekerja di Kalimantan,” ungkapnya.

Harni mengatakan selama ini suaminya dikenal pekerja keras. Ia sudah bertahun-tahun merantau di Semarang untuk berjualan mi godok. “Bapak orangnya biasa saja. Tidak memiliki keinginan yang berlebihan,” urai dia.

Sementara itu, Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) Karangdowo mendatangi keluarga Sartono pada Selasa siang. Selain menyampaikan belasungkawa, rombongan terdiri dari pemerintah kecamatan, koramil, dan polsek itu juga memberikan sembako.

“Muspika sudah menerjunkan tim sejak mendapat informasi itu pada Senin malam. Ini kami mendatangi keluarga sebagai untuk menyampaikan belasungkawa,” kata Camat Karangdowo, Agus Suprapto.

lowongan pekerjaan
BMT ALFA DINAR, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…