M. Ferri Setiawan Pelatih Persis Solo, Widyantoro (kanan), memberi arahan saat melawan PSIS Semarangdalam kompetisi Liga 2 di Stadion Manahan, Solo, Kamis (6/7/2017). Tuan rumah Persis Solo berhasil menang skor 1-0 atas PSIS Semarang. M. Ferri Setiawan Pelatih Persis Solo, Widyantoro (kanan), memberi arahan saat melawan PSIS Semarangdalam kompetisi Liga 2 di Stadion Manahan, Solo, Kamis (6/7/2017). Tuan rumah Persis Solo berhasil menang skor 1-0 atas PSIS Semarang.
Senin, 16 Oktober 2017 22:25 WIB Moh. Khodiq Duhri/JIBI/Solopos Indonesia Share :

LIGA 2
Kuasa Hukum Persis Solo: Sanksi Untuk Wiwid Tidak Ada Dasarnya!

Liga 2 diwarnai dengan Widyantoro yang dihukum PSSI.

Solopos.com, SOLO – Sanksi dari Komisi Disiplin (Komdis) PSSI kepada Widyantoro yang dilarang beraktivitas di dunia sepak bola selama 12 bulan dan denda senilai Rp100 juta dianggap tidak ada dasar hukumnya.

Hal itu disampaikan kuasa hukum sekaligus Wakil CEO Persis Solo, Dedi M. Lawe, dalam jumpa pers di Mes Persis Solo, Senin (14/10/2017). Dedi menganggap tidak ada payung hukum yang membenar sanksi untuk Widyantoro.

“Mendengar sanksi itu, saya seperti mendengar petir di siang bolong. Dalam regulasi, tidak ada sanksi 12 bulan tidak bisa berkegiatan dalam sepak bola hanya karena memprotes keputusan wasit. Yang ada itu sanksi untuk perbuatan suap, intimidasi dan penggelapan. Jadi, harus ada pidana dulu baru disanksi 12 bulan. Intimidasi itu berbeda dengan protes. Kami menganggap ada kekeliruan dalam menjatuhkan sanksi oleh Komisi Disiplin PSSI,” jelas Dedi M. Lawe.

Dedi meminta Komisi Disiplin PSSI lebih berhati-hati dalam menjatuhkan sanksi kepada siapapun yang dianggap salah. Komisi Disiplin PSSI diminta selalu merujuk pada payung hukum dalam menjatuhkan sanksi. “Kami tidak tinggal diam dengan sanksi tidak manusiawi ini kepada Mas Wiwid [sapaan Widyantoro]. Kami nyatakan manajemen melawan atas sanksi dari PSSI itu.”

“Perlu diketahui, Mas Wiwid itu tidak punya pekerjaan lain sebagai pelatih sepak bola. Kalau dia tidak boleh melatih selama setahun, dia mau memberi makan apa kepada anak dan istrinya. Kompetisi ini akan berakhir pada November 2017. Setelah kompetisi selesai, tidak akan ada tim yang meminangnya menjadi pelatih sebelum masa hukuman itu habis,” lanjut Dedi.

Simpati untuk Wiwid datang dari pelatih senior yang menggantikan posisinya sebagai pelatih kepala di Persis Solo, Freddy Mulli. Mantan pelatih PSS Sleman itu menyebut sanksi larangan beraktivitas di dunia sepak bola selama 12 bulan itu tidak bisa diterima dengan logika.

“Sebagai pelatih, kita cari makan di sini. Ini ladang kita untuk mencari rezeki. Bagaimana kita bisa memajukan sepak bola bila kita dizalimi seperti ini,” kata Freddy Mulli.

Freddy masih memaklumi jika sanksi itu diberikan selama 1-3 bulan untuk pelatih yang melakukan protes atas keputusan wasit. “Sanksi 12 bulan itu sangat berat sekali. Kecuali kalau dia lakukan pemukulan kepada wasit. Nah ini kan masih abu-abu. Pelanggarannya di mana masih belum jelas. Komdis harus bisa lihat data yang ada di lapangan seperti apa,” ucap Freddy Mulli.

Lowongan Pekerjaan
CV SINDUNATA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…