Pengendara melintas di depan Hotel Diafan dekat perempatan Wonokarto, Kecamatan Wonogiri, Kabupaten Wonogiri, Kamis (12/10/2017). (Rudi Hartono/JIBI/Solopos) Pengendara melintas di depan Hotel Diafan dekat perempatan Wonokarto, Kecamatan Wonogiri, Kabupaten Wonogiri, Kamis (12/10/2017). (Rudi Hartono/JIBI/Solopos)
Jumat, 13 Oktober 2017 11:15 WIB Rudi Hartono/JIBI/Solopos Wonogiri Share :

WISATA WONOGIRI
Fasilitas Hotel Wonogiri Tak Dukung Perkembangan Sport Tourism

Wisata Wonogiri yang berkembang tak imbangi ketersediaan hotel berbintang.

Solopos.com, WONOGIRI — Perkembangan sport tourism atau pariwisata olahraga di Wonogiri dinilai belum diimbangi ketersediaan hotel yang memadai. Kondisi itu membuat Kota Sukses hanya menjadi tuan rumah kegiatan, sedangkan keuntungan ekonomi justru dinikmati daerah lain yang memiliki hotel representatif.

Sekretaris Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (DKOP) Wonogiri, Fredy Sasono, Kamis (12/10), menyampaikan tiap tahun Wonogiri mempunyai kegiatan olahraga bertaraf nasional dan internasional. Tahun lalu tergelar ajang paralayang yang diikuti banyak peserta dari luar negeri, triathlon bersakala nasional, dan kejuaraan road race.

Belum lama ini digelar event paralayang yang diikuti sejumlah peserta dari luar negeri. Agenda teranyar akan digelar Kejuaraan Nasional (Kejurnas) 76 Indonesian Downhill (IDH) Urban 2017 di Gunung Belah kawasan Waduk Gajah Mungkur (WGM), Sabtu-Minggu (14-15/10/2017).

Rencananya akan kembali digelar ajang paralayang tingkat internasioal yang lebih besar dari sebelumnya, akhir 2017 mendatang. Perputaran uang selama kegiatan-kegiatan itu berlangsung bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah. Pasalnya setiap kegiatan bisa menyedot banyak orang, baik atlet, official, dan penonton.

Dari kegiatan-kegiatan tersebut Wonogiri kini dikenal masyarakat luas, bahkan hingga ke luar negeri. Namun, perkembangan sport tourism itu tidak diimbangi ketersediaan hotel yang representatif dari segi infrastruktur, fasilitas, maupun pelayanan.

Akibatnya, atlet dan official lebih memilih menginap di Solo Baru Sukoharjo dan Solo yang memiliki hotel berbintang dengan fasilitas lengkap. Hanya sebagian kecil tamu bersedia menginap di hotel lokal Wonogiri.

“Di Wonogiri sebenarnya ada cukup banyak hotel, tetapi belum representatif. Selama ini Wonogiri hanya jadi tuan rumah kegiatan, sedangkan keuntungan ekonomi justru dinikmati daerah lain,” kata Fredy.

Minimnya hotel lokal yang reprentatif membuat panitia kegiatan kelimpungan menyediakan penginapan. Fredy mencontohkan yang dihadapi panitia Kejurnas IDH Urban 2017 belum lama ini. Panitia lokal harus bekerja sama dengan warga sekitar lokasi kegiatan untuk menyediakan home stay.

Beruntung, akhirnya ada 10 warga Kelurahan Wuryorejo yang bersedia menjadikan rumah mereka home stay bagi para atlet. Fredy yang juga Ketua Panitia Lokal Kejurnas IDH Urban itu memerkirakan kegiatan bakal menyedot lebih dari 500 orang yang terdiri atas 300-an atlet dan ratusan lainnya official.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Wonogiri, Imam Santoso, tak menampik kondisi tersebut mengingat 33 hotel di Wonogiri belum ada yang kelas bintang. Menurut dia membangun hotel megah membutuhkan modal besar. Sementara ekonomi dari sektor wisata di Kota Sukses belum memenuhi harapan.

Lowongan Pekerjaan
CV SINDUNATA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…