Sejumlah anak-anak melihat kambing-kambing mati karena serangan hewan misterius di Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus. Minggu (10/9/2017). (IST/dok. Pemdes Purwodadi) Sejumlah anak-anak melihat kambing-kambing mati karena serangan hewan misterius di Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus. Minggu (10/9/2017). (IST/dok. Pemdes Purwodadi)
Jumat, 13 Oktober 2017 01:20 WIB David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja Gunung Kidul Share :

Warga Akan Diajari Buat Perangkap Jebakan Hewan Liar

Kepala Seksi Pemerintahan Desa Purwodadi Suyanto mengatakan, di wilayahnya sudah ada 56 kambing mati karena digigit hewan liar

Solopos.com, GUNUNGKIDUL-Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul terus melakukan investigasi untuk mengetahui penyebab matinya puluhan kambing i Desa Purwodadi, Tepus. Total hingga sekarang ada 56 kambing milik warga Purwodadi mati karena diserang hewan liar.

Untuk mengakhiri teror ini, dinas tidak bekerja sendirian karena juga menggandeng akademisi dari Fakultas Kedokteran Hewan UGM. Rencananya, dalam waktu dekat akan dilakukan forum diskusi dengan tokoh masyarakat tentang upaya pencegahan serangan hewan liar.

Kepala Bidang Peternakan, Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul Suseno Budi mengatakan, pihaknya belum dapat menyimpulkan secara pasti penyebab matinya puluhan kambing milik warga. “Ya kami masih terus lakukan investigasi untuk memperkuat dugaan-dugaan kawanan pelaku penyerangan,” kata Suseno kepada wartawan, Rabu (11/10/2017).

Namun, dari hasil pemeriksaan di lapangan, diduga kuat pelaku penyerangan berasal dari anjing liar yang berada di sekitar masyarakat. Meski masih sebatas analisa, kata Suseno, dugaan tersebut diperkuat sejumlah bukti mulai dari ciri fisik hingga jasad kambing yang mati tidak pernah dimakan habis.

“Kalau memang dimakan hewan buas [sejenis harimau] harusnya kambing dimakan semua, tapi ini tidak karena setelah digigit langsung ditinggal,” ungkapnya.

Dia mengungkapkan, keberanian anjing liar menyerang hewan ternak karena dilakukan secara bergerombol. “Akibatnya dalam kawanan ini menimbulkan sikap liar sehingga mau melakukan penyerangan. Ini masih sebatas analisa dan untuk kepastian masih butuh bukti-bukti lain untuk memperkuat dugaan tersebut,” katanya.

Diharapkan dengan adanya diskusi ini dapat memberikan pemahaman kepada warga sehingga upaya pencegahan dapat maksimal. “Tidak hanya itu, kami juga akan mengajari warga membuat alat penjebak. Rencananya pelatihan akan dilakukan pada mala mini [kemarin],” ungkap dia.

Menurut dia, pembuatan alat penjebak sangat penting, sebagai salah satu upaya mengetahui hewan yang melakukan penyerangan. “Sebenarnya sudah berusaha diburu, tapi belum ada hasil. Jadi dengan membuat jebakan mungkin dapat memberikan hasil yang memuaskan,” kata dia.

Sebelumnya, Kepala Seksi Pemerintahan Desa Purwodadi Suyanto mengatakan, di wilayahnya sudah ada 56 kambing mati karena digigit hewan liar. Untuk antisipasi, warga sudah berusaha melakukan pencegahan, namun hingga sekarang belum membuahkan hasil. “Kami sudah berusaha dengan melakukan pemburuan, tapi hasilnya masih nihil,” katanya.

Menurut dia, masih adanya kambing mati karena diserang hewan liar disebabkan keengganan warga memindahkan ternak mendekat ke wilayah permukiman. “Kami hanya bisa mengimbau karena pemindahan tersebut juga suatu hal yang dilematis. Sebab, jika dipindah ke dekat rumah maka stok pangan ternak akan jauh berkurang. Sedang kalau tetap ditaruh di hutan maka potensi diserang hewan liar semakin besar,” kata dia.

lowongan pekerjaan
STAFF ADMINISTRASI & KEUANGAN, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

Dana Pensiun Ternyata Bukan Untuk PNS Saja

“Tahun kemarin [2016] ada satu yang dilikuidasi. Bisa saja karena pendanaannya tidak kuat” Solopos.com, JOGJA-Belum banyak masyarakat yang memahami dana pensiun swasta meskipun keberadaannya telah diatur dalam Undang-Undang No 11/1992 tentang Dana Pensiun. Jamaludin Joyoadikusumo selaku Direktur Dana Pensiun Muhammadiyah…