Min Aung Hlaing. (Istimewa/sybc) Min Aung Hlaing. (Istimewa/sybc)
Jumat, 13 Oktober 2017 10:30 WIB JIBI/Solopos.com/Antara Internasional Share :

Tak Merasa Bersalah, Panglima Militer Myanmar Bicara Gamblang Soal Krisis Rohingya

Min Aung mengatakan media telah melebih-lebihkan jumlah pengungsi yang melarikan diri.

Solopos.com, NAYPYIDAW – Pemimpin militer Myanmar, Jenderal Senior Min Aung Hlaing, mengeluarkan pernyataan mengejutkan soal krisis yang menimpa etnis Rohingya di Rakhine State, Myanmar. Min Aung memaparkan mengapa ia secara gamblang tidak menanggapi tuduhan-tuduhan pelanggaran hak asasi manusia oleh orang-orangnya.

Dilansir Reuters, Kamis (12/10/2017), Min Aung mengatakan media telah melebih-lebihkan jumlah pengungsi yang melarikan diri. Min Aung juga mengungkit status penduduk Rakhine

Min Aung Hlaing, merujuk kepada Rohingya dengan istilah “Bengali”, mengatakan kolonialis Inggris bertanggung jawab atas masalah itu.

“Orang-orang Bengali tidak dibawa ke negeri tu oleh Myanmar, tetapi oleh para kolonialis,” kata dia kepada Marciel, menurut laporan tentang pertemuan tersebut yang disiarkan pada Kamis. “Mereka bukan pribumi.” Serangan-serangan terkordinasi oleh pemberontak Rohingya atas 30 pos keamanan pada 25 Agustus memicu tanggapan brutal militer.

Kantor HAM PBB mengatakan pada Rabu (11/2017) pasukan Myanmar secara brutal mengusir setengah juta orang Rohingya dari negara bagian Rakhine di bagian utara Myanmar ke Bangladesh dalam beberapa pekan belakangan, membakar rumah-rumah, hasil panen dan desa-desa untuk mencegah mereka kembali.

Kantor HAM PBB mengatakan dalam laporannya, berdasarkan atas 65 wawancara dengan orang-orang Rohingya yang tiba di Bangladesh, bahwa operasi tak berperikemanusiaan oleh militer telah mulai berlangsung sebelum serangan-serangan pada 25 Agustus, mencakup pembunuhan, penyiksaan dan perkosaan anak-anak.

Ribuan orang Rohingya meninggalkan negara bagian itu pada Kamis (12/10/2017), menuju Bangladesh menggunakana perahu, dan mengatakan mereka mengalami kekurangan makanan dan ketakutan terhadap aksi represif, kata warga masyarakat.

Menurut seorang pejabat Myanmar, orang-orang pergi tetapi ia menolak pandangan bahwa kelaparan dan intimidasi merupakan faktor mengapa mereka pergi.

Min Aung saat memberikan laporannya tentang krisis pengungsi Rohingya ditujukan kepada hadirin dari berbagai negara dalam pertemuan dengan Dubes AS Scot Marciel.

Jenderal itu merupakan orang paling kuat di Myanmar yang mayoritas penduduknya menganut Buddha dan sikapnya yang tak mengenal kompromi akan mengindikasikan kurang sensitif mengenai citra militer atas sebuah krisis yang menarik kutukan masyarakat internasional dan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan mengenai transisi ke arah demokrasi di bawah Peraih Hadiah Nobel Aung San Suu Kyi.

Kampanye militer populer di Myanmar, tempat sedikit simpati diberikan kepada Rohingya yang sebagian besar tak memiliki kewarganegaraan dan nasionalisme Buddha telah meningkat.

lowongan pekerjaan
marketing, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

Dana Pensiun Ternyata Bukan Untuk PNS Saja

“Tahun kemarin [2016] ada satu yang dilikuidasi. Bisa saja karena pendanaannya tidak kuat” Solopos.com, JOGJA-Belum banyak masyarakat yang memahami dana pensiun swasta meskipun keberadaannya telah diatur dalam Undang-Undang No 11/1992 tentang Dana Pensiun. Jamaludin Joyoadikusumo selaku Direktur Dana Pensiun Muhammadiyah…