Jumat, 13 Oktober 2017 11:20 WIB Uli Febriarni/JIBI/Harian Jogja Kulon Progo Share :

Sultan Kritik Kopi dan Teh Menoreh, Begini Komentarnya

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X mengkritisi habis-habisan produk lokal yang diunggulkan warga Kulonprogo

 
Solopos.com, KULONPROGO – Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X mengkritisi habis-habisan produk lokal yang diunggulkan warga Kulonprogo.

Hal itu diungkapkan Ngarso Dalem usai mendengarkan pemaparan Bupati Kulonprogo, Hasto Wardoyo tentang produk lokal Kulonprogo. Hasto menunjukkan beberapa produk yakni kopi dan teh menoreh, air mineral AirKu, beras gapoktan dan kecap benguk.

Sri Sultan HB X mengkritisi habis-habisan apa yang diungkapkan Hasto. Sejumlah koreksi dilayangkan. Misalnya, tentang tepung umbi yang sesungguhnya tak dapat 100% menggantikan tepung terigu, dalam bahan olahan mi. Tepung terigu memiliki peranan penting, dalam menentukan kualitas mi konsumsi.

Menurut Sultan, Kulonprogo tak perlu anti dengan tepung terigu. Tak ada salahnya mencampurkan tepung terigu dalam bahan mi, agar kualitas mi tetap terjaga. Produsen bisa mencampur adonan dengan persentase tertentu, misalnya terigu hanya 30% dan tepung umbi 70%. Intinya, tepung terigu memiliki kekuatan tersendiri.

Sultan juga kembali mengkritisi produk beras menur yang sempat membuat Hasto antusias. Ia mengingatkan, bahwa sertifikasi produk jangan sampai lupa disematkan pada beras milik Kulonprogo ini.

Selain itu, kemasan juga harus bisa menjadi perlambang jaminan kualitas beras, dengan memasukkan keterangan produk beras. Sertifikasi bukan hanya soal jaminan kualitas, melainkan juga cara untuk membanggakan diri, dan mengenalkan produk agar lebih populer.

“Yang terpenting dari penjualan produk adalah teknik pemasaran produk, perlu ditekankan cara membangun jaringan. Kalau terus-menerus menjual dengan kekuatan sendiri, kapan berkembang? bangun jaringan!” tegas Sultan.

Di hari itu, Raja Jogja ini juga mendapat kesempatan mencicipi beragam produk olahan lokal warga setempat, mulai dari coklat, kopi, dan lainnya. Di salah satu stand produsen coklat, ia berkomentar bahwa coklat yang dihasilkan masih perlu ditambah susu, karena terlalu pahit dan pekat.

Padahal, coklat juga kerap dinikmati oleh anak-anak. Sementara itu, usai menyesap secangkir teh, ia menilai tekstur teh terlalu dominan dengan rasa sepat. Namun, sebagai pemimpin bagi warganya, Sultan tak henti memotivasi, bahwa jangan bangga sekadar mampu memproduksi sendiri, namun berkembanglah, kalau perlu, mendunia!

lowongan pekerjaan
dr. NORMA AESTHETIC CLINIC, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Mengenang (Pendidikan) Guru

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (24/11/2017). Esai ini karya Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi. Alamat e-mail penulis adalah bandungmawardi@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada akhir abad XIX orang-orang Jawa mulai memiliki cita-cita baru. Sekian orang ingin menjadi guru seperti tuan kulit…