Nur Hasyim, warga RT 001/RW 010, Dusun Tulung, Desa Tulung, Kecamatan Sampung, Ponorogo, bersama istrinya Sumiatin, Kamis (12/10/2017). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com) Nur Hasyim, warga RT 001/RW 010, Dusun Tulung, Desa Tulung, Kecamatan Sampung, Ponorogo, bersama istrinya Sumiatin, Kamis (12/10/2017). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com)
Jumat, 13 Oktober 2017 15:05 WIB Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com Madiun Share :

KISAH UNIK
Pria Ini Butuh Bantuan Usai Jalan Kaki Surabaya-Ponorogo

Istri Nur Hasyim, Sumiatin, bersyukur akhirnya suaminya telah melaksanakan nazar berjalan kaki Surabaya-Ponorogo.

Solopos.com, PONOROGO — Sumiatin, 38, bersyukur dan senang lantaran suaminya Nur Hasyim telah menjalani nazar dengan berjalan kaki dari Surabaya ke Ponorogo. Nazar itu dilakukan setelah Sumiatin dinyatakan sembuh dari penyakit tumor otak yang bertahun-tahun dideritanya.

“Saya senang dan lega sekali karena suami sudah menjalankan nazarnya untuk berjalan kaki dari Surabaya ke Ponorogo,” kata dia saat ditemui di rumahnya di Desa Tulung, Kecamatan Sampung, Ponorogo, Kamis (12/10/2017). (baca: Istri Sembuh dari Tumor, Pria Ini Jalan Kaki Surabaya-Ponorogo)

Dia mengaku selama menjalani perawatan di RSUD Dr. Sutomo Surabaya suaminya selalu menemani dan selalu ada saat dibutuhkan. Untuk menemani istrinya, bahkan Nur Hasyim sampai rela tidak bekerja satu tahun untuk memastikan Sumiatin tercukupi kebutuhannya.

Dia menceritakan sebenarnya awal mula tumor otak ini muncul saat dirinya masih bekerja di Hongkong sekitar tahun 2014. Saat itu, Sumiatin dirawat di rumah sakit Hongkong dengan biaya ditanggung majikannya.

Karena tidak kunjung sembuh, Sumiatin akhirnya memutuskan untuk berhenti bekerja dan pulang ke kampung halaman. Selama di rumah, dirinya sempat dirawat di RSUD Dr. Harjono Ponorogo dan dirujuk ke RSUP Dr. Sudono Madiun.

Setelah dirawat beberapa bulam tidak membuahkan hasil, kata dia, akhirnya dirinya dirujuk ke Surabaya.

Setelah menjalani operasi tumor otak, Sumiatin kemudian mengalami trakeostomi yang mengakibatkan tidak bisa bernapas. Sehingga dokter membuat lubang pernapasan di bagian leher. Lebih dari sebulan Sumiatin tidak bisa bernapas dan tidak bisa berbicara.

Selain itu, kondisi badan Sumiatin pun mati separuh hingga tidak bisa digerakkan. “Saat itu, badan saya mati separuh. Ga bisa digerakkan sama sekali. Ini sekarang sudah enakan dan bisa digerakkan,” terang dia.

Nur Hasyim menuturkan setelah nazar telah dilaksanakan. Kini, dirinya harus kembali bekerja untuk melunasi utang senilai Rp28 juta yang digunakan untuk merawat istrinya selama beberapa bulan di Surabaya.

“Saya biasanya kerja sebagai kuli bangunan. Tetapi sejak istri dirawat di Surabaya, saya tidak bekerja hampir satu tahun,” ujar dia.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup selama di Surabaya, Hasyim menjual sawahnya per tahun dan berhutang kepada temannya.

“Pengeluaran paling besar yaitu untuk penginapan. Saya di sana kan ngekos dengan biaya setiap harinya Rp40.000. Padahal saya di Surabaya sekitar dua bulan,” jelas dia.

Harapannya saat ini yaitu kondisi tubuhnya semakin sehat dan bisa segera bekerja untuk membayar utang-utang tersebut. Baginya kesehatan istri dan keberlangsungan masa depan dua anaknya adalah yang menjadi prioritas utama.

lowongan pekerjaan
marketing, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

Dana Pensiun Ternyata Bukan Untuk PNS Saja

“Tahun kemarin [2016] ada satu yang dilikuidasi. Bisa saja karena pendanaannya tidak kuat” Solopos.com, JOGJA-Belum banyak masyarakat yang memahami dana pensiun swasta meskipun keberadaannya telah diatur dalam Undang-Undang No 11/1992 tentang Dana Pensiun. Jamaludin Joyoadikusumo selaku Direktur Dana Pensiun Muhammadiyah…