Pedagang garam di Pasar Argosari, Kecamatan Wonosari, Dwi S. menunggui dagangannya, Kamis (12/10/2017). (Irwan A. Syambudi/JIBI/Harian Jogja) Pedagang garam di Pasar Argosari, Kecamatan Wonosari, Dwi S. menunggui dagangannya, Kamis (12/10/2017). (Irwan A. Syambudi/JIBI/Harian Jogja)
Jumat, 13 Oktober 2017 07:40 WIB Irwan A. Syambudi/JIBI/Harian Jogja Gunung Kidul Share :

Harga Garam Belum Normal

Harga garam di Gunungkidul masih mengalami fluktuasi

Solopos.com, GUNUNGKIDUL— Pasca melonjaknya harga garam sekitar dua bulan lalu, hingga saat ini harganya masih  mengalami fluktuasi alias naik turun. Setelah sempat mengalami penurunan, kini harga garam di pasaran kembali mengalami kenaikkan.

Salah seorang pedagang sembako di Pasar Argosari, Kecamatan Wonosari, Dwi S. mengatakan harga garam di pasaran masih belum stabil. Setelah sempat mengalami penurunan, selama sepekan terakhir kembali mengalami kenaikkan. “Sejak mulai hujan sepekan ini harga garam kembali naik, mungkin panen berkurang karena hujan,” kata dia, Kamis (12/10/2017).

Untuk saat ini harga garam jenis grosok atau yang biasa untuk campuran pakan ternak harganya Rp70.000 per 20 kilogram (kg), naik dari sebelumnya Rp68.000 per 20 kg. Sedangkan jenis garam beryodium atau garam konsumsi yang biasanya dijual Rp6.000 per pak, kini naik Rp7.000 per pak.

Kendati demikian harga tersebut masih lebih rendah jika dibandingkan dua bulan lalu. Pasalnya pada pertengahan Juli hingga awal Agustus lalu harga garam melonjak tajam. Saat itu garam jenis grosok yang biasa dijual Rp20.000 per 20 kg, sempat melonjak tajam menjadi Rp90.000 per 20 kg. Sedangkan garam beryodium yang biasa dijual Rp3.000 per pack, melonjak menjadi Rp10.000 per pck.

Salah seorang pedagang sembako di Pasar Argosari lainnya, Yanti mengatakan meskipun harga garam masih mengalami fluktuasi tapi permintaan sudah meningkat dibandingkan saat harganya melonjak beberapa waktu lalu. “Kemarin [saat harganya melonjak] Pembelinya turun derastis. Sepertinya masakannya pada enggak dikasih garam karena mahal,” ujarnya.

Namun kini permintaan garam sudah mulai mengalami peningkatan. Dari yang sebelumnya hanya dapat menjual satu atau dua pack per hari, kini rata-rata per hari ia dapat menjual lima pack garam beryodium. Sedangkan garam grosok pun penjulannnya sudah mulai meningkat.

Tambahnya lagi, untuk stok garam saat ini masih aman. Pasalnya pasokan garam yang datang dari Kabupaten Pati dan Rembang, Jawa Tengah juga lancar. “Kalau stok dan pasokan lancar, tapi memang harganya naik sejak hujan mulai turun,” kata Yanti.

lowongan pekerjaan
SYNUS, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

Dana Pensiun Ternyata Bukan Untuk PNS Saja

“Tahun kemarin [2016] ada satu yang dilikuidasi. Bisa saja karena pendanaannya tidak kuat” Solopos.com, JOGJA-Belum banyak masyarakat yang memahami dana pensiun swasta meskipun keberadaannya telah diatur dalam Undang-Undang No 11/1992 tentang Dana Pensiun. Jamaludin Joyoadikusumo selaku Direktur Dana Pensiun Muhammadiyah…