Delegasi Hamas Saleh Arouri (kiri) dan Pemimpin Fatah Azzam Ahmad setelah rekonsiliasi di Kairo, Mesir, 12 Oktober 2017. (JIBI/Reuters/Amr Abdallah Dalsh) Delegasi Hamas Saleh Arouri (kiri) dan Pemimpin Fatah Azzam Ahmad setelah rekonsiliasi di Kairo, Mesir, 12 Oktober 2017. (JIBI/Reuters/Amr Abdallah Dalsh)
Jumat, 13 Oktober 2017 11:10 WIB JIBI/Solopos.com/Antara Internasional Share :

Hamas dan Fatah Sepakat Rekonsiliasi, Palestina Bersatu!

Kesepakatan ditandatangani oleh pemimpin delegasi Fatah dan pemimpin tim perunding Hamas disaksikan oleh Kepala Dinas Intelijen Mesir.

Solopos.com, KAIRO – Dua faksi Palestina yang selama ini bertikai, Hamas dan Fatah akhirnya menandatangani kesepakatan rekonsiliasi di Kairo, Mesir, Kamis (12/10/2017) kemarin.

Dilansir Reuters, Jumat (13/10/2017), pihak penengah Mesir mengatakan bahwa Otoritas Palestina yang didominasi Fatah akan mengambil alih tanggung jawab pemerintahan sepenuhnya di Jalur Gaza dari Hamas terhitung mulai 1 Desember mendatang.

Sementara, pintu perlintasan Rafah dari Gaza ke Mesir akan segera diserahkan kepada pemerintahan bersama Palestina.

Kesepakatan ditandatangani oleh pemimpin delegasi Fatah, Azzam al-Ahmad dan pemimpin tim perunding Hamas, Saleh Arouri disaksikan oleh Kepala Dinas Intelijen Mesir, Khaled Fawzi.

Sejak tahun 2007 Hamas berkuasa di Gaza sementara Fatah memerintah di Tepi Barat. Kesepakatan itu disebut berbagai kalangan sebagai terobosan besar. Hamas merebut kemenangan dalam pemilihan parlemen tahun 2006 dan menegakkan kekuasaannya dengan mengusir Fatah dari Gaza.

Beberapa kesepakatan damai sebelumnya tak bisa terwujud.

Warga Palestina yang tinggal di Gaza berharap rekonsiliasi yang disepakati di Kairo juga bisa memperbaiki situasi kemanusiaan di sana. Apalagi wilayah itu tergantung pada bantuan pangan karena pembatasan dan blokade oleh Israel.

Sejak tahun 2006, Israel dan Mesir memperlakukan blokade laut dan darat atas Gaza untuk mencegah serangan dari militan yang berada di Gaza yang mendapat dukungan dari kelompok Hamas. Hamas selama ini menyerukan penghancuran negara Israel.

Blokade menyebabkan kekurangan listrik dan bahan bakar di wilayah tersebut. Israel dengan tegas menentang keterlibatan Hamas dalam Otorita Palestina dan pernah mengatakan tidak akan berhubungan dengan Palestina yang terdiri dari kelompok garis keras Hamas.

Selain Israel, beberapa pemerintahan dunia seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Uni Eropa juga menetapkan Hamas sebagai kelompok teroris.

Lowongan Pekerjaan
QUALITY CONTROL, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Perempuan Melawan Pelecehan Seksual

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (16/01/2018). Esai ini karya Evy Sofia, alumnus Magister Sains Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah evysofia2008@gmail.com.  Solopos.com, SOLO—Empathy is seeing with the eyes of another, listening with the ears of another,…