Pedagang pakaian dan pembeli saling bertransaksi di Pasar Lempuyangan, Selasa (10/10/2017). (Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja) Pedagang pakaian dan pembeli saling bertransaksi di Pasar Lempuyangan, Selasa (10/10/2017). (Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja)
Kamis, 12 Oktober 2017 18:20 WIB Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Pedagang Pakaian di Pasar Lempuyangan Tak Kepincut Berjualan Online

Pasar Lempuyangan tidak hanya menjual kebutuhan pangan

 
Solopos.com, JOGJA-Pasar Lempuyangan tidak hanya menjual kebutuhan pangan. Pasar yang terletak tidak jauh dari Stasiun Lempuyangan ini juga menjual kebutuhan sandang untuk bayi sampai dewasa. Maraknya bisnis online tetap tidak membuat pedagang ikut terbawa tren menjual pakaian melalui media sosial.

Tinuk, salah satu pedagang pakaian di Pasar Lempuyangan mengatakan, ia sama sekali tidak tergiur untuk menjual pakaian melalui online. Baginya, berjualan offline tetap masih mendapatkan tempat di hati pelanggan.

“Kalau online itu ribet. Harus ukurin bajunya, repot ngirimnya. Kalau langsung jual di pasar kan [konsumen] bisa ukur langsung,” katanya pada Solopos.com, Selasa (10/10/2017).

Perempuan 51 tahun yang tinggal di Kotabaru ini mengatakan, ia lebih tertarik menjual secara offline karena bisa langsung bertatap muka dengan konsumennya. Koleksi pakaian yang lain juga bisa ia tawarkan kepada konsumen, termasuk jika ada produk yang baru.

Sejak berjualan 27 silam, Tinuk mengikuti perkembangan bisnis pakaian di Jogja. Toko-toko pakaian yang semakin bermunculan dan bisnis pakaian online yang semakin marak, tak membuatnya putus asa kendati ia juga merasakan penurunan penjualan.

Ia berprinsip, pakaian yang ia jual memiliki kualitas yang baik sehingga ia pun yakin konsumen akan tetap berbelanja di tokonya. Tinuk sendiri mendatangkan koleksi pakaiannya dari Pasar Tanah Abang Jakarta. Ia kemudian menjualnya di Jogja dengan harga mulai Rp95.000-Rp250.000.

Tinuk mengakui, saat ini toko pakaian yang memasang harga di bawah Rp50.000 semakin banyak. Di beberapa tempat juga semakin mudah dijumpai toko yang menjual pakaian serba Rp35.000. Namun menurutnya, kualitas pakaian yang dijual murah tentu memiliki standar kualitas pakaian menengah ke bawah.

Di lapaknya, Tinuk menyediakan beragam jenis pakaian mulai dari gamis, daster, celana panjang jeans, celana pendek dewasa dan anak, kaus, dan juga seragam.

Saat musim Lebaran dan tahun ajaran baru, bisnisnya laris manis. Sebulan, ia bisa meraup pendapatan Rp36 juta yang kemudian ia gunakan untuk kulakan produk baru lagi.

Dita, salah satu pengunjung pasar mengaku kerap membeli pakaian di pasar tradisional. Menurutnya harga yang dipasarkan lebih mudah dijangkau masyarakat menengah ke bawah.

“Kalau beli di pasar, lebih murah. Modelnya juga enggak jauh beda sama yang di toko-toko,” katanya.

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…