Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita (kiri) melihat proses pengawetan bawang merah dengan mesin control atmosphere storage (CAS) saat kunjungan kerja di Kudus, Jateng, Sabtu (13/5/2017). (JIBI/Solopos/Antara/Yusuf Nugroho) Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita (kiri) melihat proses pengawetan bawang merah dengan mesin control atmosphere storage (CAS) saat kunjungan kerja di Kudus, Jateng, Sabtu (13/5/2017). (JIBI/Solopos/Antara/Yusuf Nugroho)
Kamis, 12 Oktober 2017 10:40 WIB Rheisnayu Cyntara/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

Masih Ada Tiga Desa Rawan Pagan di Bantul

Pemerintah menyatakan masih ada tiga desa di Bantul yang rawan pangan.

Solopos.com, BANTUL— Pemkab Bantul menyebut, tiga desa di wilayah ini berstatus rawan pangan. Ketiga desa tersebut adalah Desa Girirejo dan Wukirsari di Kecamatan Imogiri serta Desa Trimurti di Kecamatan Srandakan.

Kepala Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan (Diperpautkan) Bantul, Pulung Haryadi mengklaim, jumlah desa berstatus rawan pangan tersebut sudah menurun dibandingkan dua tahun sebelumnya. Pada 2015 lalu di wilayah ini terdapat tujuh desa rawan pangan, kemudian menurun menjadi lima desa di 2016 dan menyisakan tiga desa pada tahun ini.

Menurutnya indikator desa rawan pangan ini cukup beragam diantaranya ketersediaan pangan, kemampuan mengakses pangan serta faktor kemiskinan, kesehatan, kekurangan energi protein dan keseimbangan antara luasan lahan pertanian dengan jumlah penduduk.

“Di Bantul disebabkan oleh tidak seimbangnya rasio luas lahan dengan jumlah penduduk,” katanya, Rabu (11/10/2017). Tidak seimbangnya rasio tersebut, menurut Pulung disebabkan banyaknya lahan marjinal yang belum dapat dimanfaatkan secara optimal.

Kepala Desa Wukirsari, Bayu Bintoro membenarkan terkait lahan marginal. Dikatakannya, dari total luas lahan pertanian yang ada, hanya 37% yang berada di dataran rendah dan baru 12% yang mampu teraliri irigasi dengan baik. Pasalnya luas lahan pertanian yang mencapai 60% total luas wilayah Wukirsari, mayoritas merupakan dataran tinggi. Sejauh ini pihaknya dan Pemkab Bantul telah berupaya mengalirkan irigasi ke beberapa lahan marjinal tersebut, namun upaya itu belum berhasil dengan baik. Sementara untuk membuat sumur bor dalam dibutuhkan anggaran yang tidak sedikit. “Kalau mau mengalirkan dari sumber air cukup sulit karena jaraknya mencapai empat km dari lahan,” katanya.

Meskipun wilayah Wukirsari dilewati aliran Sungai Opak, namun karena posisi lahan lebih tinggi, air sungai tersebut belum bisa dimanfaatkan secara maksimal. Padahal 35% dari total penduduknya yang mencapai 17.160 jiwa bekerja di sektor pertanian. “Kami akan optimalkan lahan pekarangan warga untuk menanam palawija,” tutur Bayu.

lowongan pekerjaan
STAFF ADMINISTRASI & KEUANGAN, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

Jogja Istimewa Jangan Hanya Slogan, Ini Saran untuk Pemda DIY

Status istimewa yang disandang DIY, semestinya tidak hanya sekedar menjadi nama saja Solopos.com, JOGJA–Status istimewa yang disandang DIY, semestinya tidak hanya sekedar menjadi nama saja, melainkan bisa benar-benar mewujud dalam kehidupan sehari-hari, utamanya dalam hal urusan menyejahterakan masyarakat. Mantan Direktur…