Sejumlah Perangkat Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, meninjau telaga Thowet yang ada di wilayah ini, Jumat (21/10/2016). Kawasan telaga Thowet akan dijadikan hutan lindung guna menjaga kelestarian alam sekaligus bakal dibuka sebagai objek wisata air. (Bhekti Suryani/JIBI/Harian Jogja) Sejumlah Perangkat Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, meninjau telaga Thowet yang ada di wilayah ini, Jumat (21/10/2016). Kawasan telaga Thowet akan dijadikan hutan lindung guna menjaga kelestarian alam sekaligus bakal dibuka sebagai objek wisata air. (Bhekti Suryani/JIBI/Harian Jogja)
Kamis, 12 Oktober 2017 19:41 WIB David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja Gunung Kidul Share :

Lima Telaga di Gunungkidul Ini Habiskan Biaya Rp6,1 Miliar

BBWSO optimistis pembangunan telaga selesai tepat waktu.

Solopos.com, GUNUNGKIDUL— Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) optimistis revitalisasi lima telaga di Gunungkidul dapat selesai tepat waktu. Diharapkan pembangunan ulang ini dapat mengembalikan fungsi telaga seperti semula.

Pejabat Pembuat Komitmen Danau, Situ dan Embung, BBWSSO Tri Joko mengatakan, untuk pembangunan lima embung di Gunungkidul membutuhkan biaya sebesar Rp6,1 miliar. Hingga sekarang, proses pembangunan masih berjalan dan ditargetkan selesai pada akhir tahun nanti. “Akan terus kami awasi, tapi jika dilihat dengan perkembangan di lapangan prosesnya sudah sesuai harapan,” kata Tri Joko, Rabu (11/10/2017).

Menurut dia, meski sekarang sudah memasuki musim penghujan namun hal tersebut bukan menjadi masalah. Ini lantaran pembangunan yang sudah memasuki tahap akhir. “Bangunan embung sudah jadi dan tinggal menghaluskan di bagian atas talut. Oleh karenanya, saat telaga mulai tergenang, kami malah senang karena itu yang diharapkan,” ujarnya.

Tri mengungkapkan, lima telaga yang dibangun di Gunungkidul di antaranya Telaga Piji, Desa Balong, Girisubo; Telaga Sunut di Kecamatan Ponjong; Telaga Tileng, Desa Petir, Rongkop. Sedang dua telaga lainnya yang dibangun adalah Telaga Serapual di Desa Girisekar, Panggang dan Telaga Sudang yang terletak di Desa Jetis, Kecamatan Saptosari.

“Dana yang digunakan untuk pembangunan mencapai Rp6,1 miliar,”  ungkapnya. Dia menambahkan, upaya revitalisasi telaga yang dilakukan BBWSSO bertujuan agar telaga dapat berfungsi normal seperti semula.

“Telaga yang dibangun, memang kondisinya mati maka dilakukan revitalisasi sehingga dapat menjadi tampungan dan air di dalamnya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat,” tutru dia.

Kepala Desa Girisekar, Kecamatan Panggang Sutarpan mengatakan, sebelum dilakukan perbaikan,  keberadaan Telaga Serapual sudah mati sejak sepuluh tahun. Kondisi itu terjadi karena telaga mengalami pendangkalan sehingga tidak mampu menampung banyak air. Diharapkan dengan adanya perbaikan maka fungsi telaga dapat kembali normal.

“Sebelum ada perbaikan telaga tidak bisa digunakan karena kondisinya rata dengan tanah. Mudah-mudahan perbaikan tersebut dapat mengembalikan fungsi telaga sehingga dapat digunakan masyarakat untuk beraktivitas, khususnya saat musim kemarau,” tutur Sutarpan.
Hal senada diungkapkan oleh Kepala Desa Balong, Girisubo Suwardiyanto. Menurut dia, proses pembangunan ulang Telaga Piji masih dalam proses dan ditargetkan selesai pada akhir tahun nanti. “Harapan kami dengan perbaikan ini telaga dapat kembali normal karena pendangkalan yang sudah sangat parah,” katanya.

lowongan pekerjaan
CV.Indra Daya Sakti, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…