Ilustrasi imunisasi. (JIBI/Solopos/Dok) Ilustrasi imunisasi. (JIBI/Solopos/Dok)
Kamis, 12 Oktober 2017 10:15 WIB Akhmad Ludiyanto/JIBI/Solopos Boyolali Share :

Imunisasi MR di Boyolali Diperpanjang hingga 14 Oktober 2017

Imunisasi MR di Boyolali diperpanjang hingga 14 Oktober 2017.

Solopos.com, BOYOLALI — Capaian target pelaksanaan imunisasi measles dan rubela (MR) di Boyolali yang digelar Agustus-September 2017 mencapai 98 persen dari jumlah sasaran 224.000 anak usia di atas 9 bulan hingga di bawah 15 tahun.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Boyolali, Ratri S. Survivalina, mengatakan capaian tersebut didasarkan atas data dari Boyolali. “Kalau berdasarkan data lokal dari Boyolali yang lebih riil, targetnya tercapai 98%. Tapi kalau dari Kementerian kesehatan, angka target lebih kecil sehingga capaiannya 108,” ujarnya saat ditemui di Gedung DPRD Boyolali, Rabu (11/10/2017).

Sementara itu, meski cakupan tercapai, pihaknya masih memberikan kesempatan kepada masyarakat yang belum mengimunisasikan anak mereka hingga 14 Oktober 2017. Bahkan Lina mengatakan pihaknya melakukan sweeping imunisasi melalui petugas pada fasilitas kesehatan di daerah masing-masing. “Masih kami lanjutkan sweeping di bulan Oktober ini sampai tanggal 14,” ungkap Lina.

Di sisi lain, Lina mengakui resistensi atau penolakan masyarakat terhadap program pemerintah pusat tersebut masih ada. Tercatat 1.229 anak di 49 sekolah di Boyolali yang tidak terimunisasi karena penolakan orang tua mereka. “Yang menolak anak diimunisasi itu kan sebenarnya orang tua mereka. Pihak sekolah juga tidak menolak,” ungkap dia.

Sebagian orang tua yang menolak, lanjut Lina, berasal dari Kecamatan Sambi, Simo, Mojosongo, dan sedikit di kecamatan lainnya. Mereka menilai imunisasi tidak aman dan mengandung zat-zat yang dilarang agama meski sudah dijelaskan imunisasi itu aman dan halal.

Lina menegaskan pihaknya sudah melakukan berbagai upaya, dalam sosialisasi dan persuasi, termasuk melibatkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) setempat dan ahli yang menyatakan imunisasi MR benar-benar aman dan halal. Namun mereka yang menolak berkukuh dengan keyakinan mereka.

Lina menyayangkan penolakan itu karena measles (campak) dan rubela adalah dua dari sembilan penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi. Sehingga program nasional pencegahan penyakit akan terhambat dengan adanya penolakan itu.

lowongan pekerjaan
Carmesha Music School, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…