Pengunjung memilih buku yang akan mereka baca saat mengunjungi gedung Grhatama Pustaka yang terletak di Jalan janti, Bangutapan, Bantul, DI. Yogyakarta, Selasa (15/12/2015). (JIBI/Harian Jogja/Dok) Pengunjung memilih buku yang akan mereka baca saat mengunjungi gedung Grhatama Pustaka yang terletak di Jalan janti, Bangutapan, Bantul, DI. Yogyakarta, Selasa (15/12/2015). (JIBI/Harian Jogja/Dok)
Kamis, 12 Oktober 2017 06:00 WIB Kolom Share :

GAGASAN
Sastra Indonesia Perawat Kebinekaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (7/10/2017). Esai ini karya Tjahjono Widarmanto, seorang sastrawan yang tinggal di Ngawi, Jawa Timur, dan sedang menempuh studi doktoral di Universitas Negeri Surabaya. Alamat e-mail penulis adalah cahyont@yahoo.co.id.

Solopos.com, SOLO — Ada beberapa hal penting yang dapat dijadikan pijakan dan menjadi dasar pengembangan sastra Indonesia sebagai penjaga kebinekaan. Pijakan utamanya adalah bahwa sastra Indonesia bermula dari tradisi.

Pengertian tradisi tentu saja tidak boleh dimaknai dalam kerangka antropologis semata yang menyempitkan makna tradisi hanya sebagai bagian masa lalu. Pandangan yang linear semacam itu memunculkan anggapan yang terlampau subjektif sehingga memunculkan pemaknaan tradisi adalah bagian masa lampau sehingga eksistensinya tidak lagi relevan.

Tradisi harus dimaknai sebagai sebuah konteks memori dan sejarah yang melandasi proses penciptaan teks sastra. Tradisi harus dipandang, seperti kata Gadamer, sebagai konteks yang dibentuk dari sejarah dan memori penikmatan atas perjumpaan sastrawan dengan dengan ”sejarah”.

Itu berarti setiap teks sastra tidak mungkin lahir dari kekosongan sejarah dan penikmatannya atas berbagai konteks sejarah. Teks sastra mustahil diciptakan tanpa adanya memori-memori atas teks-teks sebelumnya.

Rifaterre dengan jelas mengatakan bahwa karya seorang penyair (sastrawan) adalah jawaban terhadap karya sebelumnya. Suatu teks sastra lama tidak mati begitu saja tapi selalu memberi inspirasi bagi teks-teks sastra selanjutnya.

Selanjutnya adalah: Teks satra yang baru lahir merupakan respons…

lowongan pekerjaan
STAFF ADMINISTRASI & KEUANGAN, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…