Anggota pemadam kebakaran Gunungkidul saat mencoba mengoperasikan armada kebakaran yang baru di Alun-alun Wonosari, Jumat (12/9/2014). (David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja)
Kamis, 12 Oktober 2017 13:55 WIB Rheisnayu Cyntara/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

Gagal Lelang Tiga Kali, Damkar Bantul Kekurangan Mobil

Hibah mobil pemadam kebakaran (damkar) dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) hingga kini belum dapat dimanfaatkan

Solopos.com, BANTUL–Hibah mobil pemadam kebakaran (damkar) dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) hingga kini belum dapat dimanfaatkan. Pasalnya hingga tiga kali proses lelang, belum ada kesesuaian antara spesifikasi yang ditetapkan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul dengan rekanan. Padahal mobil yang dimiliki Damkar masih minim.

Wakil Ketua Unit Pemadam Kebakaran Bantul, Yohanes Widiyanto mengakui dengan satu unit tanki dan dua unit mobil pemadam yang dilengkapi dengan pompa, pihaknya masih kewalahan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Bantul jika terjadi bencana kebakaran.

Padahal pertumbuhan penduduk di wilayah ini makin pesat, menilik banyaknya perumahan yang didirikan dan kawasan industri di beberapa kecamatan yang makin berkembang. Ditambah lagi, jumlah kejadian kebakaran mengalami tren peningkatan setiap tahunnya.

“Tidak imbang antara kebutuhan dengan jumlah armada yang kita miliki,” ujarnya, Rabu (11/10/2017).

Bahkan dengan dua Wilayah Manajemen Kebakaran (WMK) yang telah dimiliki damkar yakni di Kantor BPBD dan Banguntapan, menurutnya belum mampu memenuhi batas waktu respon yang ditetapkan. Berdasarkan ketentuan, damkar harus dapat mencapai TKP maksimal 15 menit setelah telepon permintaan pemadaman api didapatkan.

“Kami baru bisa mendekati [batas waktu respon yang ditetapkan],” ucapnya.

Kendalanya, menurut Yohanes WMK di Bantul tidak dapat diukur berdasarkan jarak per kilometer karena ada wilayah-wilayah padat penduduk yang rawan namun ada pula yang minim kejadian kebakaran.

Berdasarkan kajian Pusdalops BPBD Bantul, idealnya Bantul memiliki lima posko di lima WMK. Pada 2017, Yohanes menyebut tiga posko sedang dibangun di Kecamatan Imogiri, Kasihan dan Banguntapan. Pihaknya juga telah menambah personel damkar sehingga menjadi 51 orang yang dibagi menjadi empat regu.

Maskipun demikian, menurutnya tidak menutup kemungkinan damkar akan menambah personel lagi karena idealnya setiap satu mobil dilengkapi dengan lima hingga enam petugas.

lowongan pekerjaan
, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…