Mahasiswa Stikes Muhammadiyah mengikuti wisuda di gedung Al Mabrur, Kecamatan Klaten Utara, Klaten, Rabu (11/10/2017). (Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos) Mahasiswa Stikes Muhammadiyah mengikuti wisuda di gedung Al Mabrur, Kecamatan Klaten Utara, Klaten, Rabu (11/10/2017). (Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos)
Kamis, 12 Oktober 2017 12:15 WIB Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos Klaten Share :

Dosen Perguruan Tinggi Swasta Jateng Didorong Jadi Profesor

Pendidikan Jateng, jumlah profesor perguruan tinggi swasta di Jateng minim.

Solopos.com, KLATEN – Para dosen perguruan tinggi swasta di Jawa Tengah (Jateng) didorong menjadi profesor. Hal itu menyusul masih minimnya jumlah profesor dari perguruan tinggi swasta.

Sekretaris Pelaksana Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) wilayah VI Jateng, Amsar, mengatakan jabatan profesor masih didominasi para dosen yang berasal dari universitas.

“Dengan terbitnya UU No. 12/2012 tentang Perguruan Tinggi, dosesn perguruan tinggi pun bisa meraih profesor. Kopertis mendorong sekolah tinggi untuk menjadi profesor,” kata Amsar saat ditemui seusai wisuda Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Muhammadiyah Klaten di gedung Al Mabrur, Kecamatan Klaten Utara, Rabu (11/10/2017).

Amsar mengatakan di Jateng ada 255 perguruan tinggi. Dari jumlah perguruan tinggi swasta itu, baru terdapat 75 profesor. “Ada 71 profesor dari perguruan tinggi swasta di Jateng. Siang ini [Rabu, 11/10/2017], ada penyerahan empat profesor sehingga total ada 75 profesor,” kata Amsar.

Amsar mengatakan jenjang jabatan fungsional di perguruan tinggi yakni asisten ahli, lektor, lektor kepala, baru menjadi profesor. Ia mengatakan masih minimnya profesor dari perguruan tinggi swasta salah satunya lantaran panjangnya tahapan dari dosen seorang profesor.

Ia mengatakan untuk menjadi profesor lektor kepala harus memiliki publikasi bertaraf internasional. Mereka juga harus memenuhi syarat administrasi serta memenuhi nilai kredit atau KUM 850. Selain itu, proses untuk menjadi profesor juga harus melalui izin kementerian.

“Prosesnya memang membutuhkan waktu panjang. Kami mendorong dari perguruan tinggi itu segera ada dosen yang menduduki jabatan profesor,” kata dia.

Soal perguruan tinggi swasta di Jateng yang masuk kategori bermasalah, Amsar mengatakan hingga kini belum ada. “Memang ada indikasi. Tetapi, sejauh ini masih kondusif,” katanya.

Sementara itu, sebanyak 380 mahasiswa STIKes Muhamadiyah Klaten mengikuti wisuda di gedung Al Mabrur, Rabu pagi. Wisuda dipimpin ketua STIKes Muhammadiyah Klaten, Sri Sat Titi Hamranani.

Mahasiswa yang diwisuda berasal dari empat program studi yakni 108 lulusan S1 Keperawatan, 75 lulusan D3 Farmasi, 140 lulusan Jurusan D3 Keperawatan, dan 57 lulusan D3 Kebidanan.

Dalam kesempatan itu, Sri Sat Titi Hamranani berpesan agar para wisudawan bisa memperluas jaringan mereka dan mampu berkiprah di masyarakat berbekal ilmu yang mereka pelajari selama pendidikan di STIKes.

lowongan pekerjaan
Perusahaan Outsourcing PLN, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Bersama Rakyat Awasi Pemilu

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (05/01/2018). Esai ini karya Ahmad Halim, Ketua Panitia Pengawas Pemilihan Umum Kota Administrasi Jakarta Utara. Alamat e-mail penulis adalah ah181084@gmail.com Solopos.com, SOLO–Pemberlakuan UU No. 7/2017 tentang Pemilihan Umum (gabungan UU No. 8/2012, UU…