Slamet menunjukkan ikan patin bule seberat lima kilogram hasil budidayanya di kolam Ledokperi, Dusun Tanjungtirto, Desa Kalitirto, Kecamatan Berbah, Selasa (28/10/2014). (JIBI/Harian Jogja/Sunartono) Slamet menunjukkan ikan patin bule seberat lima kilogram hasil budidayanya di kolam Ledokperi, Dusun Tanjungtirto, Desa Kalitirto, Kecamatan Berbah, Selasa (28/10/2014). (JIBI/Harian Jogja/Sunartono)
Kamis, 12 Oktober 2017 17:20 WIB Rheisnayu Cyntara/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

Bantul Perketat Pengawasan Ikan Patin

Pemkab Bantul meningkatkan pengawasan terhadap peredaran jenis ikan patin

Solopos.com, BANTUL–Pasca temuan fillet ikan dori/patin impor di Jakarta dengan kandungan zat tripolyphosphate yang melebihi ambang batas, Pemkab Bantul meningkatkan pengawasan terhadap peredaran jenis ikan air tawar tersebut.

Meski peredaran ikan patin di Bantul cukup sedikit, namun tidak menutup kemungkinan adanya pasokan ke pasar modern.

Kepala Dinas Perdagangan Bantul, Subiyanta Hadi mengaku belum mendapat laporan terkait hal ini. Namun pasca temuan tersebut pihaknya akan meninjau beberapa tempat yang berpotensi mendapat pasokan ikan patin.

Jika melihat asalnya, filet ikan patin impor dimungkinkan beredar di pasar modern. “Soal ikan ini juga ada kewenangan dari Diperpautkan, kami sebatas perdagangannya,” ucapnya pada Selasa (10/10/2017).

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan Bantul, Pulung Haryadi memastikan belum ada ikan patin impor di wilayahnya. Sejauh ini patin di wilayah Bantul tidak banyak dan hanya beredar di beberapa pasar saja.

Hal ini lantaran minat konsumsi masyarakat akan ikan jenis ini masih rendah. “Mungkin hanya di rumah makan atau restoran saja, pasar-pasar sedikit sekali,” ujarnya.

Selain itu, budidaya ikan patin juga masih jarang di Bantul. Dari 17 kecamatan, menurut Pulung hanya kecamatan Banguntapan yang membudidayakan ikan tersebut. Dari satu kecamatan tersebut patin dipasok ke beberapa pasar di Bantul, rumah makan, dan wilayah lain di DIY.

Selama ini Diperpautkan masih fokus pada pengembangan budidaya ikan lele dan nila, sedangkan patin masih belum menjadi prioritas. “Kebutuhan patin masih bisa dipenuhi lokal,” tegasnya.

Sebagaimana diketahui, BKIPM dan Bareskrim mendapati peredaran ikan patin impor dari Vietnam di Jakarta. Diketahui fillet ikan ini mengandung zat tripolyphosphate. Zat itu merupakan pemutih yang sangat berbahaya bagi kesehatan usus manusia.

Tripolyphosphate bersifat mengikat air, sehingga fillet ikan patin inj banyak mengandung air dan cenderung lebih basah dibandingkan daging.

lowongan pekerjaan
PT. ATALIAN GLOBAL SERVICE, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…