Sejumlah siswa mencatat informasi benda bersejarah dalam Pameran Cagar Budaya di Ambarawa, Selasa (22/3/2016). (JIBI/Solopos/Antara/Aditya Pradana Putra) Sejumlah siswa mencatat informasi benda bersejarah dalam Pameran Cagar Budaya di Ambarawa, Selasa (22/3/2016). (JIBI/Solopos/Antara/Aditya Pradana Putra)
Kamis, 12 Oktober 2017 20:40 WIB Beny Prasetyo/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Anak-Anak Muda Joga Ini Keliling Kotabaru Belajar Sejarah

Ketjil Bergerak keliling wisata Kotabaru.

Solopos.com, JOGJA— Komunitas anak muda peduli pendidikan Ketjil Bergerak mengadakan tur keliling kawasan Kotabaru Jogja untuk berwisata sembari belajar sejarah.

Tur wisata yang digelar pada Kamis (12/10/2017) tersebut sekaligus memeriahkan gelaran Jogja Street Sculpture Project (JSSP) 2017 yang juga memilih Kotabaru sebagai latar tema pameran seni patung tersebut.

Pada tur wisata sejarah kali ini, Komunitas Ketjil Bergerak menggandeng organisasi pemuda Karang Taruna Kotabaru untuk terlibat dalam kegiatan. Safari wisata itu melibatkan sekitar 30 orang dengan batasan usia mulai dari 15 tahun hingga 28 tahun. Panitia sengaja membatasi usia peserta yang dapat berpartisipasi karena kegiatan ini sengaja menyasar anak muda. Harapannya mereka paham ikhwal peristiwa bersejarah di Kotabaru.

“Perlunya remaja mengetahui peninggalan dan peristiwa sejarah di Kotabaru,” jelas Aloysius Bram salah satu panitia tur sejarah Kotabaru, Rabu (11/10/2017).

Panitia tak hanya menyaratkan batasan usia, para peserta yang terlibat tur juga diminta menyumbang uang senilai Rp30.000 per orang. Uang tersebut akan disumbangkan kepada masyarakat kurang mampu di Kotabaru. “Dananya disumbangkan untuk masyarakat, peserta juga dapat makan, minum, stiker,” jelasnya lagi.

Acara dimulai Pukul 14.30 WIB di Monumen Serbuan Kota Baru. Peserta akan diajak mengelilingi Kotabaru dan diberikan informasi detail peristiwa sejarah yang tak banyak diketahui publik tersebut. “Kotabaru itu penting, dari sebelum Kerajaan Mataram hingga saat Orde Baru, banyak orang tidak tahu,” tutur dia.

Seperti diketahui, Kotabaru menyimpan sejarah yang disebut penyerbuan Kotabaru. Serbuan Kotabaru terjadi pada 7 Oktober 1945. Peristiwa tersebut merupakan tindak lanjut masyarakat atas keberpihakan Sri Sultan HB IX kepada negara Indonesia yang baru lahir.

Kompleks Pangkalan Markas Jepang di Kotabaru yang tidak mau menyerahkan pangkalan dan senjata menjadi target masyarakat Jogja kala itu. Dalam penyerbuan tersebut setidaknya 21 pejuang tewas dan 32 orang mengalami luka. Pihak jepang yang dipersenjatai lengkap justru menderita kekalahan lebih parah yaitu sebanyak 27 tentara.

lowongan pekerjaan
PT. SO GOOD FOOD, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…