Presiden Joko Widodo (Jokowi) berjalan kaki menuju lokasi upacara HUT ke-72 TNI di Dermaga Pelabuhan PT Indah Kiat, Cilegon, Banten, Kamis (5/10/2017). (Setkab.go.id) Presiden Joko Widodo (Jokowi) berjalan kaki menuju lokasi upacara HUT ke-72 TNI di Dermaga Pelabuhan PT Indah Kiat, Cilegon, Banten, Kamis (5/10/2017). (Setkab.go.id)
Rabu, 11 Oktober 2017 19:00 WIB Samdysara Saragih/JIBI/Bisnis Politik Share :

Tingkat Kepuasan Tinggi, Elektabilitas Jokowi Stagnan, Terhambat Isu SARA?

Tingkat kepuasan publik yang tinggi dibarengi dengan elektabilitas Jokowi yang stagnan. Benarkan isu SARA dan identitas menghambat?

Solopos.com, JAKARTA — Kinerja pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) yang paling dirasakan publik menyangkut pembangunan infrastruktur jalan, pelayanan kesehatan, dan sarana transportasi. Hal itu terekam dari survei yang digelar Indikator Politik Indonesia (IPI) yang dirilis pada Rabu (11/10/2017).

Direktur Eksekutif IPI Burhanuddin Muhtadi mengatakan bahwa tingkat ketidakpuasan publik pada bidang ekonomi masih relatif tinggi. IPI mencatat hanya 43,3% masyarakat yang merasa ekonomi nasional membaik, sedangkan 34,1% menganggap tidak ada perubahan dan 18,4% menilai tambah memburuk.

“Kinerja paling baik pemerintahan Jokowi bersama Jusuf Kalla dirasakan pada pembangunan infrastruktur jalan, pelayanan kesehatan, sarana transportasi,” katanya.

Burhanudin menjelaskan kinerja bukan satu-satunya tolok ukur kepuasan publik. Karena ada faktor lain semisal ideologi, identitas sosial, dan perilaku pribadi yang mempengaruhi. Faktor serupa juga turut menentukan dalam tingkat keterpilihan yang cenderung dipengaruhi persepsi.

“Persepsi bisa sesuai fakta atau tidak. Tapi dalam politik persepsi bisa lebih kuat dibandingkan dengan kinerja Presiden,” tuturnya.

Kinerja yang dinilai memuaskan tersebut tidak mendongkrak dukungan atau elektabilitas Jokowi. Pasalnya, dibandingkan hasil survei Agustus 2016, dukungan terhadap Jokowi relatif stagnan.

“Perbaikan kinerja pemerintahan Presiden Jokowi dalam setahun terakhir seolah tak memberikan insentif secara elektoral jika pemilihan presiden diadakan ketika survei dilakukan,” tulis Indikator dalam rilis survei itu.

Selain itu, Jokowi masih dihadapkan pada isu-isu lama terkait sentimen etnis dan agama. Isu-isu tersebut dan isu kebangkitan PKI dinilai masih menjadi hambatan serius, meski hanya sedikit orang yang percaya. Baca juga: Elektabilitas Prabowo Naik Padahal Belum Kerja, Begini Jika Lawan Jokowi.

“Umumnya publik tidak percaya Jokowi anti-Islam, memusuhi ulama, melindungi komunis (PKI) atau terkait dengan kebangkitan komunisme, keturunan China/Tionghoa atau lebih memihak kelompok China/Tionghoa,” tulis Indikator.

Survei IPI dilakukan melalui wawancara tatap muka dengan 1.220 responden yang memiliki hak pilih dalam pemilihan umum dan dipilih secara acak. Marjin kesalahan rata-rata dari survei sebesar plus-minus 2,9% pada tingkat kepercayaan 95%.

lowongan pekerjaan
PT. SO GOOD FOOD, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

Pemkab Kulonprogo Tak Akan Lepas Tangan

Sejumlah pelatihan kerja dan keterampilan, sudah seringkali digelar Pemkab Kulonprogo dengan menggandeng pihak lain Solopos.com, KULONPROGO-Pemerintah Kabupaten Kulonprogo akan selalu mendampingi warganya terutama masyarakat yang terdampak pembangunan bandara baru New Yogyakarta International Airport (NYIA). Asisten II Setda Kulonprogo Triyono mengatakan,…