Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Anies Baswedan berjabat tangan seusai melakukan pertemuan di Balai Kota, Jakarta, Kamis (20/4/2017).(JIBI/Solopos/Antara/Hafidz Mubarak A.)
Rabu, 11 Oktober 2017 21:30 WIB Samdysara Saragih/JIBI/Bisnis Politik Share :

PILPRES 2019
Pendukung Jokowi Ingin Ahok, Tapi Gatot Paling Menguntungkan

Ahok dan Gatot berada di urutan teratas calon wakil presiden yang diinginkan pendukung Jokowi.

Solopos.com, JAKARTA — Mayoritas pemilih Presiden Joko Widodo (Jokowi) masih mengidamkan sang petahana berpasangan dengan mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

Namun, Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo dinilai sebagai kandidat calon wakil presiden yang paling bisa mendongkrak elektabilitas Jokowi. Peluang Gatot digadang-gadang semakin besar setelah berbagai manuvernya akhir-akhir ini.

Dalam survei anyar Indikator Politik Indonesia (IPI), nama Ahok dan Gatot menduduki dua besar dalam simulasi 16 dan 8 nama kandidat cawapres. Ketika diberikan 16 pilihan, responden pemilih Ahok dan Gatot masing-masing 16% dan 10%.

Ketika dikerucutkan menjadi 8 nama, keduanya memperoleh dukungan berturut-turut 17% dan 14%. Namun, ketika IPI menyisihkan nama Ahok maka Gatot mendapatkan 25% suara, diikuti Menteri Keuangan Sri Mulyani sebesar 24% dan Kepala Polri Jenderal Pol. Tito Karnavian 12%.

Direktur Eksekutif IPI Burhanuddin Muhtadi menuturkan alasan IPI menyisihkan nama Ahok dalam simulasi tiga nama lantaran pemilihnya beririsan dengan Jokowi. Buktinya, dalam beberapa simulasi dukungan terhadap Ahok hanya berkisar 17%.

“Basis massa Ahok tidak menambah suara Jokowi. Pro Ahok kemungkinan pro Jokowi,” katanya seusai konferensi pers di Jakarta, Rabu (11/10/2017).

Sebaliknya, Burhanuddin mengatakan suara Gatot semakin tinggi ketika pilihan nama cawapres dikerucutkan. Pemilih mantan Kepala Staf TNI AD itu adalah kelompok masyarakat yang selama ini tidak mendukung Jokowi. “Kalau kemudian Gatot dipasangkan sama Jokowi, tentu Jokowi diuntungkan,” tuturnya.

Selain masuk dalam bursa cawapres, Gatot juga mendulang suara sebagai kandidat capres. Dari simulasi terbuka atau jawaban spontan, Gatot dipilih 0,7% responden. Pemilihnya makin melonjak ketika simulasi 40 nama, 8 nama, dan 6 nama calon. Berturut-turut dia mendapatkan 1,7%, 2,8%, dan 6%.

Elektabilitas Gatot selama ini masih di bawah Jokowi, Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, dan Gubernur DKI Jakarta terpilih Anies Baswedan.

Burhanuddin menjelaskan pendukung Gatot berasal dari kelompok Islam modernis dan Sumatra yang beririsan dengan pendukung Prabowo. Jika ditilik basis massa partai, potensi pemilih Gatot berasal dari Partai Keadilan Sejahtera, Partai Demokrat, dan Partai Persatuan Pembangunan.

“Basis massa PKS yang pada Pilpres cenderung mendukung Prabowo lari ke calon lainnya. Salah satunya Gatot,” ujarnya.

Menurut Burhanuddin, elektabilitas riil Gatot berpotensi lebih besar karena survei IPI merekam pendapat masyarakat hanya sampai 24 September 2017. Padahal, manuver pria asal Tegal itu semakin kencang pada 30 September melalui isu adanya kebangkitan PKI.

Survei IPI dilakukan pada 17-24 September 2017 melalui wawancara tatap muka dengan 1.220 responden. Mereka dipilih secara acak dari populasi yang memiliki hak pilih dalam pemilu. Marjin kesalahan rata-rata dari survei sebesar plus-minus 2,9% pada tingkat kepercayaan 95%.

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

WISATA SOLO
Pemkot Kehilangan Rp600 Juta Per Tahun akibat Penutupan THR Sriwedari

Pemkot Solo kehilangan pendapatan hingga Rp600 juta akibat penutupan THR Sriwedari. Solopos.com, SOLO — Penutupan Taman Hiburan Remaja (THR) Sriwedari, Solo, per 4 Desember 2017 bakal memberi efek domino bagi Kota Bengawan. Selain kehilangan potensi pendapatan asli daerah (PAD) Rp600…