Rabu, 11 Oktober 2017 03:20 WIB Irwan A. Syambudi/JIBI/Harian Jogja Gunung Kidul Share :

Penghayat Kepercayaan Semakin Diterima Masyarakat

“Selama ini hidup berdampingan dengan masyarakat tak ada penolakan, secara bermasyarakat penghayat hidup berdampingan”

Solopos.com, GUNUNGKIDUL-Selain haknya dijami pemerintah, keberadaan para penganut atau penghayat kepercayaan di Gunungkidul semakin mendapatkan tempat di masyarakat.

Salah satu penghayat kepercayaan Palang Putih Nusantara Kejawen Urip Sejati Suroso mengakui bersama dengan sekitar 800 pengikut, ia tak memiliki agama resmi. Dia mengungkapkan, pada awalnya memang banyak penghayat yang mendapatkan diskriminasi.

Namun, setelah diterbitkan UU No 23 tahun 2006, mereka sudah mulai bisa diterima masyarakat. Meski diakuinya untuk masyarakat, dan petugas di lapangan seringkali tak mengetahui implementasinya.

“Selama ini hidup berdampingan dengan masyarakat tak ada penolakan, secara bermasyarakat penghayat hidup berdampingan. Memang awal kami masa lalu sering terjadi benturan oleh oknum. Sejak uu terbit [UU No 23 Tahun 2006] sudah tidak ada,” kata pria yang kerap menjadi penghulu pernikahan bagi warga penghayat kepercayaan ini, Senin (9/10/2017).

Baca juga : Pemkab Gunungkidul Jamin Hak Penganut Kepercayaan

Selain itu, dia juga mengakui tidak ada diskriminasi lagi di lembaga pendidikan. Salah seorang anaknya yang duduk di bangku SD kini tak lagi dipaksa untuk belajar agama resmi, tetapi pelajaran agama diganti pelajaran budi pekerti.

Sementara itu, anggota presidum MLKI Bugisuwanto mengungkapkan, aliran kepercayaan di Indonesia total terdapat 156 paguyuban. Mereka tergabung dalam MLKI, sebagai wadah bagi penghayat kepercayaan dan komunitas kepercayaan adat di Indonesia. Untuk wilayah DIY paling besar pengikutnya adalah Sapta Dharma, dengan pengikut hampir seluruh Indonesia.

Diakuinya saat ini memang tidak banyak penghayat kepercayaan dari generasi baru, sebagian besar sudah berusia di atas 50 tahun. “Di DIY [penghayat] berusia 50 an tahun, tetapi ada juga yang berusia muda terutama di Kulonprogo karena di sana sifatnya bela diri,” tutur dia.

lowongan pekerjaan
marketing, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

BERITA TERPOPULER
Crane Ambruk Hingga Cerita Foto Jokowi Lap Sepatu Pakai Tisu

Berita terpopuler Solopos.com hari ini adalah berita tentang Crane pembangunan hotel roboh menimpa rumah Ketua RT. Solopos.com, SOLO – Kecelakaan kerja terjadi dalam proses pembangunan Hotel Swiss Bell di Kampung Cinderejo Lor, RT002/RW006, Gilingan, Banjarsari, Solo. Crane milik PT Surya…