Dokter Romy Novrizal (kiri), Wanto (tengah), dan Semi (kanan) berfoto di depan kamar bangsal Dahlia RSUD Wonogiri, Rabu (11/10/2017). (Ahmad Wakid/JIBI/Solopos) Dokter Romy Novrizal (kiri), Wanto (tengah), dan Semi (kanan) berfoto di depan kamar bangsal Dahlia RSUD Wonogiri, Rabu (11/10/2017). (Ahmad Wakid/JIBI/Solopos)
Rabu, 11 Oktober 2017 17:35 WIB Ahmad Wakid/JIBI/Solopos Wonogiri Share :

KISAH TRAGIS
Pemuda Wonogiri Ini Dipasung Selama 5 Tahun karena Sering Dibully

Kisah tragis dialami seorang pemuda yang harus dipasung selama lima tahun karena sering dibully dan marah-marah.

Solopos.com, WONOGIRI — Wanto, 27, duduk di depan kamar No. 16 bangsal Dahlia RSUD Soediran Mangun Sumarso Wonogiri, Rabu (11/10/2017). Ia berada di ruang isolasi bersama sembilan pasien gangguan jiwa lainnya.

Ruang khusus itu dibatasi pagar besi yang terkunci dari luar. Hanya petugas pembawa kunci yang bisa membuka pintu masuk ke ruang itu.

Saat Solopos.com bersama dokter spesialis kedokteran jiwa, Romy Novrizal, mengunjungi pasien yang sudah lima tahun lebih dipasung ibunya itu, tatapan mata Wanto kosong. Sementara sang ibu, Semi, tampak gelisah dan berjalan mondar-mandir di depan kamar.

Dokter Romy menyapa dan mengajak pindah tempat duduk, Wanto merespons dengan gerakan namun tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. “Dia memang pendiam,” kata Semi kepada Solopos.com.

Meski pendiam, Wanto sewaktu-waktu bisa sangat marah dan merusak barang-barang di sekitarnya. Tak jarang ia melukai dirinya sendiri. Ia sering menjadi bahan ejekan teman-temannya.

Bahkan, ia pernah pulang ke rumah dalam keadaan telanjang dada dengan membawa sobekan bajunya yang dipegangnya. “Dia menyobek bajunya karena disuruh teman-temannya. Saat itu, mereka bilang Wanto tidak pantas memakai baju. Maka Wanto langsung menyobek bajunya,” imbuh Semi.

Semi menceritakan awalnya Wanto merupakan anak yang normal, ceria, dan bermain dengan teman sebaya seperti anak pada umumnya. Namun, setelah dikhitan pada umur 12 tahun, ia mulai sering membuat ulah di desa tempat tinggalnya, Bakalan, Gambirmanis, Pracimantoro.

Wanto dikenal sering merusak barang, tanaman, rumah, dan lainnya. Ia dikenal sebagai pembuat onar.

Meski begitu, perbuatan itu bukan merupakan keinginannya sendiri melainkan karena dipaksa teman-temannya. Tak jarang Wanto harus menerima bogem mentah dari temannya jika apa yang disuruh tidak dilakukan Wanto.

Bahkan, ia pernah hampir tewas karena dimasukkan ke telaga secara paksa. “Kalau dia tidak mau [melakukan suruhan temannya], dia dipukul. Pernah juga di-lelepke di telaga,” imbuh Semi.

Semi yang merupakan orang tua tunggal karena suaminya sudah meninggal, akhirnya memutuskan memasung Wanto sejak lima tahun lalu. Penghasilannya dari mencari daun jati untuk dijual sebagai bungkus tempe tak mencukupi untuk mengobati Wanto.

Beruntung beberapa hari lalu RSUD Soediran Mangun Sumarso Wonogiri bersedia merawat Wanto secara gratis. Dokter Romy menyebut kasus pemasungan di Wonogiri seperti fenomena gunung es.

Dia memprediksi masih ada korban pemasungan lainnya di daerah pelosok yang belum terdeteksi. Oleh karena itu, dia berharap agar instansi terkait kembali mengadakan safari ke daerah untuk mencari korban pemasungan. “Pemasungan itu melanggar hak asasi manusia,” ujarnya.

Menurutnya, sepanjang 2017, Wanto merupakan pasien kedua yang merupakan korban pasung karena gangguan jiwa. Dokter Romy mengungkapkan pada 2013 lalu, ada 75-100 orang yang dipasung di Wonogiri.

Saat itu diadakan pencarian korban pemasungan di setiap kecamatan. Penyebab utama pemasungan, menurutnya, faktor ekonomi dan geografis. Pemasungan sering terjadi di kalangan keluarga kurang mampu dan berada di daerah pelosok yang aksesnya sulit.

Untuk menyembuhkan Wanto membutuhkan waktu lama. Setidaknya, Wanto harus menjalani terapi selama sebulan. Jika terapi itu berhasil, dia boleh pulang asal mengonsumsi obat tertentu.

“Untuk menghilangkan gejalanya, dia harus mengonsumsi obat terus. Semacam obat penenang agar dia tidak marah-marah. Obat itu harus terus dikonsumsi,” jelasnya.

lowongan pekerjaan
CV.Indra Daya Sakti, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

BERITA TERPOPULER
Crane Ambruk Hingga Cerita Foto Jokowi Lap Sepatu Pakai Tisu

Berita terpopuler Solopos.com hari ini adalah berita tentang Crane pembangunan hotel roboh menimpa rumah Ketua RT. Solopos.com, SOLO – Kecelakaan kerja terjadi dalam proses pembangunan Hotel Swiss Bell di Kampung Cinderejo Lor, RT002/RW006, Gilingan, Banjarsari, Solo. Crane milik PT Surya…