longsor sleman Proses evakuasi korban tertimpa longsor di lokasi penambangan di wilayah Gunungsari, Sambirejo, Prambanan, Sleman, Minggu (8/10/2017). (IST/Dok BPBD Sleman)
Selasa, 10 Oktober 2017 17:40 WIB Sekar Langit Nariswari/JIBI/Harian Jogja Sleman Share :

Tujuh Desa di Sleman Ini Rawan Kecelakaan Tambang

BPBD menyebut terdapat tujuh desa di Sleman rawan kecelakaan tambang.

Solopos.com, SLEMAN— Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat, terdapat tujuh titik lokasi penambangan yang rawan kecelakaan kerja di Sleman. Masyarakat perlu mewaspadai risiko kecelakaan yang mungkin terjadi.

Tujuh titik dengan kondisi rawan kecelakaan aktivitas tambang adalah Desa Hargobinangun Kecamatan Pakem, Desa Umbulharjo, Kepuharjo dan Glagaharjo Kecamatan Cangkringan serta Desa Sambirejo, Gayamharjo dan Bokoharjo Kecamatan Pramabanan.

Sejumlah desa itu merupakan lokasi penambangan batu dan pasir. Kepala Seksi Mitigasi Bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Joko Lelono mengatakan, Desa yang berada di lereng Merapi seperti Umbulharjo, Kepuharjo, Glagaharjo dan Hargobinangun terdapat penambangan pasir. “Sedangkan tiga desa terakhir itu ada di [kecamatan] Prambanan tambang batu, rawan karena memang pelapisan batuannya,” jelas dia Senin (8/10/2017).

BPBD lanjutnya tidak berwenang melarang aktivitas penambangan tersebut selain hanya melakukan langkah sosialisasi guna meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai kerawanan bencana dampak kegiatan tersebut. Joko mengatakan sosialisasi lebih mudah dilakukan di areal Kecamatan Prambanan karena puluhan penambang yang ada merupakan masyarakat setempat.

Upaya mengembangkan budaya sadar bencana dan perilaku pengurangan risiko dilakukan salah satunya dengan pembentukan desa tanggap bencana. Keberadaan desa tanggap bencana yang melibatkan masyarakat setempat membuat sosialisasi lebih mudah dilakukan dibandingkan dengan penambang di daerah utara Sleman yang didominasi masyarakat luar.

terkait lokasi tambang batu tempat terjadinya kecelakaan beberapa hari lalu, menurut Joko memang tidak aman. Pasalnya, penambang manual ini kerap melakukan penambangan tanpa mengeruk lapisan teratasnya lebih dahulu.

Batu yang diingkan warga berada di lapisan bawah sehingga tidak memperhitungkan risikonya. Masyarakat langsung mengeruk batuan di bagian bawah sehingga batu di bagian atas rawan longsor apalagi jika terkena getaran dan resapan air.

lowongan pekerjaan
SMK CITRA MEDIKA SRAGEN, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Bersama Rakyat Awasi Pemilu

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (05/01/2018). Esai ini karya Ahmad Halim, Ketua Panitia Pengawas Pemilihan Umum Kota Administrasi Jakarta Utara. Alamat e-mail penulis adalah ah181084@gmail.com Solopos.com, SOLO–Pemberlakuan UU No. 7/2017 tentang Pemilihan Umum (gabungan UU No. 8/2012, UU…