Ronandi Paradea Wahyunanta, 14, warga Kampung Mojo, Semanggi, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo, kurus kering dan lumpuh. (Istimewa) Ronandi Paradea Wahyunanta, 14, warga Kampung Mojo, Semanggi, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo, kurus kering dan lumpuh. (Istimewa)
Selasa, 10 Oktober 2017 18:33 WIB Hijriyah Al Wakhidah/JIBI/Solopos Solo Share :

KISAH TRAGIS
Kakak Beradik Solo Lumpuh Layu, 2 Rumah Terpaksa Dijual untuk Pengobatan

Dua kakak beradik asal Semanggi, Pasar Kliwon, Solo, menderita lumpuh layu.

Solopos.com, SOLO — Satu unit kursi roda tergeletak di teras rumah salah satu sudut Kampung Mojo, RT 003/RW 023, Kelurahan Semanggi, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo. Di antara kursi roda itu ada barang-barang berserakan seperti sudah beberapa hari tak dibersihkan penghuni rumah.

“Sudah beberapa hari rumah ini kosong, soalnya anaknya dirawat di RSUD dr. Moewardi,” ujar seorang perempuan yang muncul dari samping kediaman pasangan Tri Gunadi dan Suci Tri Winarsih itu.

Perempuan itu adalah Heni Widayati, kakak Suci Tri Winarsih. Sembari mengelus dada, Heni bercerita adiknya itu sudah delapan bulan terakhir ini harus bolak balik ke RS memeriksakan anak pertamanya, Ronandi Paradea Wahyunanta, 14, yang mengalami lumpuh layu. “Kasihan, enam bulan ini sudah operasi tiga atau empat kali gitu,” kata Heni saat berbincang dengan Solopos.com, Selasa (10/10/2017).

Ronan sejak bayi mengalami lumpuh. Meskipun dia sempat mengenyam pendidikan sampai lulus SD, tiga tahun terakhir fisiknya tak kuat lagi.

“Sebenarnya dia masih punya keinginan sekolah, bahkan saat SD dulu nilainya selalu baik, tapi sekarang fisiknya sudah tidak mampu lagi,” kata ayah Ronan, Tri Gunadi.

Menurut Tri, dalam kurun waktu enam hingga delapan bulan terakhir Ronan harus operasi tiga kali karena ada pembengkakan di usus besar akibat tidak bisa buang air besar, tumor pada usus, hingga usus buntu. “Ya, jadi ada saja penyakitnya.”

Selasa siang itu, Tri tidak menunggui Ronan yang sedang dirawat di RSUD dr. Moewardi. Ronan hanya ditemani ibunya. Tri harus kembali ke rumah orang tuanya di Laban, Mojolaban, Sukoharjo, karena juga punya tanggungan. Rafli Bima Ananta, 6, adik Ronan, juga mengalami sakit yang sama.

Sejak bayi Rafli tidak bisa berjalan. Namun, kondisi Rafli masih jauh lebih baik. “Ini adiknya masih mending badannya berisi, tapi kondisinya lumpuh. Kalau Ronan tinggal tulang dan kulit,” ujar dia.

Tri menceritakan saat Ronan masih berusia satu tahun, Ronan tumbuh seperti bayi pada umumnya. Dia bisa ditatih untuk belajar berjalan. Namun pada usia itu Ronan pernah terjatuh sehingga kemampuannya berjalan tak bisa berkembang.

“Sampai usia sembilan tahun masih bisa merayap. Setelah itu sudah tidak bisa apa-apa lagi.”

Tri hanya bisa pasrah dengan kondisi kedua anaknya. Dia sudah berusaha mengobati kedua anaknya tapi tidak ada hasil signifikan. “Untuk saat ini, kalau punya uang maka fokus untuk mengobati kakaknya dulu,” kata kakek Ronan, Kasih Widodo, 82.

Tri Gunadi dan Kasih sudah berusaha habis-habisan untuk menyembuhkan Ronan. Sebelum menjadi peserta Badan Pelayanan Jaminan Sosial (BPJS), mereka mati-matian mencari uang untuk biaya pengobatan. Dua rumah masing-masing milik Suci dan ayahnya terpaksa dijual.

“Rumah itu kecil ukuran 70 meter persegi dan 80 meter persegi, tahun lalu kami jual buat biaya pengobatan. Alhamdulillah sejak Januari tahun ini kami sudah punya BPJS, jadi biaya lebih ringan,” papar Kasih.

Tri tidak punya keinginan muluk-muluk terkait masa depan kedua anaknya. Biarpun sesekali Ronan menyampaikan cita-citanya untuk bisa memiliki alat permainan Playstation hingga seri 7, namun Tri hanya berkeinginan Ronan kembali sehat begitu juga Rafli.

“Mereka jelas tidak bisa seperti anak-anak yang lain, kami hanya ingin mereka sehat,” ujar Tri yang kesehariannya bekerja sebagai buruh gamelan.

Kendati lumpuh, kedua anak Tri bisa berkomunikasi dengan baik dengan orang-orang di sekelilingnya. Operasi yang dijalani berkali-kali pun seperti tak pernah dirasakan Ronan. “Dia tidak pernah mengeluh.”

Tim Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Pasar Kliwon mengunjungi Ronan di RSUD dr. Moewardi pada Selasa itu. TKSK akan mendampingi Ronan agar mendapatkan terapi dan upaya penyembuhan maksimal.

“Kasus ini perlu ada keberpihakan dari Pemerintah Kota Solo, minimal perlu menengok dulu pasien tersebut,” ujar TKSK Pasar Kliwon, Asmuni.

Pemkot Solo juga perlu menyikapi temuan adanya kakak adik yang sama-sama mengalami kelumpuhan mengingat RW 023 Semanggi akan dicanangkan sebagai kampung sehat. “Agar apa yang dicanangkan itu terealisasi, temuan ini harus diatasi,” tutur dia.

lowongan pekerjaan
sales, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

Wow, 1,5 Ton Apem Disiapkan untuk Upacara Adat Wonolelo

Rangkaian upacara adat Ki Ageng Wonolelo digelar di Pondok Wonolelo Widodomartani Ngemplak sejak Jumat (13/10/2017) malam Solopos.com, SLEMAN–  Rangkaian upacara adat Ki Ageng Wonolelo digelar di Pondok Wonolelo Widodomartani Ngemplak sejak Jumat (13/10/2017) malam. Event ini diharapkan dapat berdampak positif…