Prajurit juru masak dari Kompi Markas mengiris bumbu bakmi goreng saat lomba memasak estafet dalam perayaan HUT ke-51 Yonif Raider 408/Suhbrastha Sragen, Selasa (10/10/2017). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos) Prajurit juru masak dari Kompi Markas mengiris bumbu bakmi goreng saat lomba memasak estafet dalam perayaan HUT ke-51 Yonif Raider 408/Suhbrastha Sragen, Selasa (10/10/2017). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos)
Selasa, 10 Oktober 2017 21:13 WIB Tri Rahayu/JIBI/Solopos Sragen Share :

Berbaju Loreng Wajah Dicat, Para Tentara Sragen Ini Berbagi Keseruan Memasak Bakmi

Para tentara Yonif Raider 408/Suhbrastha Sragen mengikuti acara estafet memasak untuk merayakan HUT.

Solopos.com, SRAGEN — Sebanyak 25 prajurit TNI bersiap-siap. Wajah mereka dicat warna hijau dan hitam. Pakaian militer lengkap dengan baret hijau melekat di tubuh mereka.

Penampilan mereka persis ketika hendak terjun ke medan perang. Kini, medan perang yang dihadapi bukanlah di hutan daerah perbatasan negara atau zona daerah operasi militer. Medan peran mereka hanya seluas 2 meter x 1 meter dan setinggi 1 meter.

Medan perang mereka berupa dua unit meja besi. Perlengkapan perang mereka wajan, kompor, dan perkakasan dapur.

Mereka memang bukan mau maju perang melawan musuh negara tetapi perang antarkompi merebut juara I lomba masak. Semua perkakas itu menjadi “senjata” bagi para prajurit Yonif Raider 408/Suhbrastha Sragen dalam perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-51, Selasa (10/10/2017).

“Dalam tiga menit, semua prajurit peserta lomba masak harus siap,” seru Komandan Kompi Bantuan Kapten (Inf) Siswanto melalui pengeras suara.

Sebanyak 25 prajurit sigap mengenakan topi koki dan kain celemek. Kain itu ada yang bermotif klub kesebelasan sepak bola Barcelona, ada pula yang bermotif buah stroberi, dan polos dengan warna merah, pink, dan oranye.

Saat waktu tinggal satu menit, mereka segera berbaris sesuai kelompoknya menghadap ke tempat memasak. Lomba memasak estafet itu hanya dilakukan selama 15 menit. Setiap anggota kelompok hanya mendapat porsi tiga menit untuk memasak.

Dibutuhkan kekompakan dan kerja sama tim untuk menghasilkan satu menu masakan dengan cita rasa nikmat. Ketika lomba mau dimulai, setiap kelompok yang terdiri atas lima orang berbalik membelakangi meja masak.

“Awas jangan ada yang melirik ke belakang. Kalau ada satu personel yang melirik ke belakang akan didiskualifikasi,” ujar Siswanto.

Beberapa prajurit sibuk menyiapkan bumbu, sayuran, dan resep masakan. Setiap meja mendapat porsi bahan yang sama untuk memasak. Resep masakan itu tidak diberitahukan kepada tim juru masak.

Musik dangdut terdengar sebagai tanda dimulainya lomba. Di Kompi Markas, ada Kopral Indra sebagai koki pertama. Ia segera meracik bumbu. Bawang putih dan bawah merah diiris tipis-tipis.

Beberapa bulatan bakso juga dipotong menjadi empat bagian. Ia lalu siapkan wajan di kompor. Minyak goreng dituangkan dan telur mentah dimasukkan. “Waktu tiga menit selesai.”

Indra berlari bergantian dengan Praka Budi melanjutkan kerja memasak. Giliran itu berlanjut hingga anggota kelima untuk tiap kelompok. Ada prajurit yang bingung harus melakukan apa. Ada pula prajurit yang keliru memasukkan air ke wajan karena tidak menemukan minyak goreng.

Ada yang memberi takaran merica berlebih. Ada pula yang setiap ganti personel selalu menabur garam. Setelah 15 menit berlalu, masakan bakmi goreng pun tersaji.

Danyonif Letkol (Inf) Muhammad Arry Yudistira bersama istri dan Wadanyonif Mayor (Inf) Mohammad Isnaini bersama istri menjadi tim juri. Mereka mencicipi setiap masakan para prajurit. Ada yang kepedasan dan ada yang gurih.

“Rasane padha [rasanya sama],” kesan Danyonif Arry seusai mencicipi semua masakan anak buahnya.

Arry pun mengumumkan hasil penjurian. Kompi C menjadi juara I dengan skor 80, disusul Kompi B, Kompi Bantuan, Kompi Markas, dan paling akhir Kompi A. “Lomba masak ini bertujuan untuk melatih kekompakan. Kemampuan memasak itu dibutuhkan saat terjun ke zona operasi militer. Semua prajurit ditutut untuk bisa memasak. Kadang-kadang di medan operasi itu kami bertani. Jadi menanam sendiri, panen sendiri, dan memasak sendiri,” ujar Arry saat ditemui Solopos.com, Selasa siang.

Dia menambahkan selain lomba masak juga ada lomba menarik untuk para istri tentara. Sebelumnya ada pemberian hadiah bagi kompi berprestasi dan ada juga punishment bagi prajurit. Perayaan HUT kali ini cukup sederhana, hanya doa bersama dan pemotongan tumpeng yang dihadiri Bupati Sragen.

”Kami berharap satuan ini lebih siap untuk tugas negara terutama dalam pengamanan VIP Presiden di Soloraya. Tuntutannya lebih dewasa, profesional, dan siap tugas,” tuturnya.

lowongan pekerjaan
marketing, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

Wow, 1,5 Ton Apem Disiapkan untuk Upacara Adat Wonolelo

Rangkaian upacara adat Ki Ageng Wonolelo digelar di Pondok Wonolelo Widodomartani Ngemplak sejak Jumat (13/10/2017) malam Solopos.com, SLEMAN–  Rangkaian upacara adat Ki Ageng Wonolelo digelar di Pondok Wonolelo Widodomartani Ngemplak sejak Jumat (13/10/2017) malam. Event ini diharapkan dapat berdampak positif…