Gambar rencana pembangunan Menara Baskoro di Klaten. (Istimewa) Gambar rencana pembangunan Menara Baskoro di Klaten. (Istimewa)
Senin, 9 Oktober 2017 14:15 WIB Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos Klaten Share :

WISATA KLATEN
Warga Swadaya Bangun Ulang Menara Baskoro di Pandanan Karanganom

Wisata Klaten, warga membangun ulang Menara Baskoro.

Solopos.com, KLATEN – Warga Desa Soropaten, Kecamatan Karanganom, Klaten, membangun kembali Menara Baskoro yang berada di kompleks makam Kiai Karsorejo, Dukuh Pandanan, Soropaten. Pembangunan menara itu dilakukan secara swadaya dan diperkirakan membutuhkan biaya Rp60 juta.

Salah satu tokoh masyarakat Pandanan, Sri Nugroho, mengatakan proyek pembangunan sudah dimulai sekitar dua pekan lalu. Rencananya, menara yang dibangun setinggi 7,5 meter dengan fondasi melingkar seluas 6 meter persegi. Pada dinding luar menara bakal dilengkapi tangga menuju puncak menara yang dilengkapi lonceng.

Pembangunan menara dimaksudkan memulihkan kembali salah satu bangunan peninggalan bersejarah di kawasan tersebut. Di kompleks makam tersebut terdapat sendang serta bangunan bangunan bersejarah seperti Tugu Waseso, sebuah tugu setinggi 12,5 meter yang digunakan untuk mengibarkan bendara sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah.

 

Gambar rencana pembangunan Menara Baskoro di Klaten. (Istimewa)

Gambar rencana pembangunan Menara Baskoro di Klaten. (Istimewa)

Nugroho mengatakan Menara Baskoro dibangun saat penjajahan Belanda. Menara tersebut diyakini pernah digunakan mendiang Raja Keraton Solo Paku Buwono (PB) X beribadah. Namun, lantaran termakan usia, bangunan yang tersisa hanya fondasi menara.

“Kami bangun kembali berada di sebelah barat bekas bangunan lama karena struktur tanahnya tidak memungkinkan. Untuk bangunan lama itu hanya tersisa fondasi saja. Dulu sebenarnya menara ada loncengnya. Tetapi, lonceng bangunan lama sudah hilang,” kata Nugroho, Minggu (8/10/2017).

Nugroho mengatakan biaya pembangunan menggunakan dana swadaya warga. Selain itu, proyek pembangunan disokong dari para donatur. Biaya yang diperlukan untuk pembangunan itu berkisar Rp60 juta. Saat ini, dana yang sudah terkumpul sekitar Rp30 juta.

“Kami iuran dari warga. Ketika ada peziarah kami juga sumbangan seikhlasnya untuk bersama-sama membantu merawat peninggalan-peninggalan yang ada. Kami tidak mengandalkan bantuan pemerintah. Kami mengalir saja membangun itu dengan seikhlasnya,” katanya.

Salah satu pengunjung, Wendah, 24, mengatakan baru kali pertama mengunjungi kompleks makam Kiai Karsorejo lantaran penasaran dengan Tugu Waseso yang kerap digunakan sebagai tempat berfoto selfie. Ia mengatakan tugu itu merupakan peninggalan bersejarah yang menjadi penanda pertemuan antara Kiai Karsorejo dengan Soekarno pada zaman kolonial.

Soal kawasan tersebut, ia mengatakan bisa disulap menjadi kawasan wisata religi serta sejarah. “Harapan kami di sekitar kawasan dilengkapi toilet serta mulai bermunculan pedagang dan tentu nanti harus ditata agar rapi,” kata warga Kecamatan Seyegan, Kabupaten Sleman, DIY, itu.

lowongan pekerjaan
BPR BINSANI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Koes Plus dalam Peta Musik Indonesia

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (08/01/2018). Esai ini karya Lardianto Budhi, guru Seni dan Budaya di SMAN 1 Slogohimo, Wonogiri. Alamat e-mail penulis adalah s.p.pandamdriyo@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada Jumat, 5 Januari 2018, Yon Koeswoyo tutup usia. Beberapa tahun sebelumnya…