bulan eliminasi kaki gajah. Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo (paling kanan) dan Menteri Kesehatan, Nila Djuwita F. Moeloek (dua dari kanan), saat menghadiri acara Bulan Eliminasi Kaki Gajah (Belkaga) dan Gerakan Masyarakat Minum Obat Bersama untuk Keluarga Indonesia Bebas Kaki Gajah di Lapangan Desa Jatisono, Kecamatan Gajah, Demak, Sabtu (7/10/2017). (jatengprov.go.id)
Senin, 9 Oktober 2017 09:50 WIB Imam Yuda S./JIBI/Semarangpos.com Semarang Share :

KESEHATAN JATENG
Kaki Gajah Masih Jadi Momok Warga Demak

Kesehatan di wilayah Demak, Jawa Tengah (Jateng), masih rawan penyebaran penyakit kaki gajah.

Solopos.com, SEMARANG – Filariasis atau penyakit kaki gajah masih menjadi momok bagi masyarakat Kabupaten Demak. Hal itu dikarenakan penyakit kaki gajah belum ditemukan obatnya dan menyebabkan kaki penderitanya mengalami pembengkakan.

Bupati Demak, M. Natsir, membenarkan jika penyakit kaki gajah merupakan momok bagi warganya. Apalagi, setelah diketahui jika Demak merupakan salah satu salah satu endemis filariasis di Indonesia.

“Kabupaten Demak dinyatakan endemis kaki gajah. Jumlah penderita kaki gajah sejak 1995 hingga saat ini tercatat mencapai 41 orang yang tersebar di 12 kecamatan dari 14 kecamatan di Demak,” tutur Natsir seperti dikutip laman Internet resmi Pemprov Jateng, Minggu (8/10/2017).

Natsir menambahkan sejak tahun 2016, Pemkab Demak telah melaksanakan Bulan Eliminiasi Kaki Gajah (Belkaga) setiap Oktober. Belkaga dilakukan dalam berbagai kegiatan seperti gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) di lingkungan masyarakan dan pencegahan penyebaran penyakit kaki gajah dengan cara memberikan obat antifilariasis.

“Upaya yang telah kami lakukan di antaranya dengan memberikan obat pencegahan masalah filariasis pada penduduk sasaran. Alhamdulillah upaya tersebut bisa mencapai angka 90,3% dari sasaran,” ujar Bupati Demak.

Tak hanya menggalakkan upaya preventif terhadap serangan filariasis, pihaknya juga mencanangkan gerakan sedekah jamban untuk mendorong Kabupaten Demak bebas buang air besar sembarangan.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pencegahan dan Penularan Penyakit Kementerian Kesehatan, HM Subuh, menjelaskan filariasis dapat ditularkan oleh gigitan dari segala jenis nyamuk. Untuk itu, Kemenkes gencar melakukan kampanye pemberian obat pencegahan massal (POPM) ke sejumlah kabupaten dan kota yang dinyatakan endemis filariasis. Hal itu dilakukan sebagai upaya mewujudkan Indonesia bebas filariasis pada 2020.

“Pada tahun ini terdapat 150 kabupaten dan kota dari 236 kabupaten dan kota endemis penyakit kaki gajah di Indonesia yang akan melaksanakan POPM filariasis dengan target penduduk minum obat sebanyak 34,1 juta yang kita mulai pada hari ini,” terang Subuh saat menghadiri acara Belkaga dan Gerakan Masyarakat Minum Obat Bersama untuk Keluarga Indonesia Bebas Kaki Gajah di Lapangan Desa Jatisono, Kecamatan Gajah, Demak, Sabtu (7/10/2017).

Menteri Kesehatan (Menkes), Nila Djuwita F. Moeloek, meminta masyarakat untuk lebih waspada terhadap filariasis. Hal itu dikarenakan penyakit itu tidak dapat diobati, melainkan hanya bisa dicegah dengan cara meminum obat Diethyl Carbamazine Citrate (DEC) yang dikombinasikan dengan Albendazole secara rutin, setiap setahun sekali,.

“Kita harus eliminasi penyakit kaki gajah. Kalau kakinya sudah sebesar kaki gajah apakah bisa kita sembuh? Jawabannya tidak bisa. Kalau kita tidak bisa sembuhkan, artinya penting sekali untuk kita mencegah dengan meminum obat anti filariasis,” beber Menkes.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

lowongan pekerjaan
, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
”Akad” Populer karena Berbeda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (14/10/2017). Esai ini karya Romensy Augustino, mahasiswa Jurusan Etnomusikologi Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Alamat e-mail penulis adalah romensyetno@yahoo.com. Solopos.com, SOLO – -Youtube adalah salah satu media sosial yang menjadi rujukan…