Kelompok Kesenian Topeng Ireng Merapi saat tampil dalam Festival Budaya dan Kuliner di Taman Kuliner Sleman, Jumat (27/5/2016). (Abdul Hamied Razak/JIBI/Harian Jogja) Kelompok Kesenian Topeng Ireng Merapi saat tampil dalam Festival Budaya dan Kuliner di Taman Kuliner Sleman, Jumat (27/5/2016). (Abdul Hamied Razak/JIBI/Harian Jogja)
Senin, 9 Oktober 2017 14:40 WIB Sekar Langit Nariswari/JIBI/Harian Jogja Sleman Share :

Festival Upacara Adat di Sleman Ini Ternyata Sarat Makna

Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman menyelenggarakan Festival Upacara Adat.

Solopos.com, SLEMAN— Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman mengadakan Festival Upacara Adat atau Tradisi Budaya di area parkir utara Lapangan Denggung, Tridadi Sleman pada Sabtu (7/8/2017) hingga Minggu (8/10/2017). Seluruh 17 kecamatan di Sleman mengirimkan perwakilannya masing-masing dalam acara ini.

Kepala Dinas Kebudayaan Sleman Aji Wulantara mengatakan, acara digelar dalam rangka menggugah kembali kekayaan warisan budaya Sleman. Menurutnya, upacara adat maupun tradisi budaya di dalamnya sarat akan muatan pesan moral.

“Festival ini bertujuan sebagai upaya pelestarian budaya sekaligus penguatan nilai-nilai kearifan lokal bagi masyarakat,” ujarnya dalam rilis yang diterima Sabtu (8/10/2017). Upacara adat atau tradisi budaya dinilai menjadi salah satu karya manusia yang harus terus diaktualisasi agar bermanfaat.

Sejumlah upacara adat ditampilkan dalam acara ini antara lain Tunggul Wulung, Tingkeban atau Mitoni, Suran Mbah Demang, Tedhak Siten, dan Merti Desa. Peserta terbaik akan ditentukan melalui aspek kreatifitas, simbol upacara adat tradisi budaya, dan harmonisasi.

Sementara itu, Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatu menyampaikan bahwa upacara adat atau tradisi budaya merupakan bagian keistimewaan yang harus dilestarikan sebagai sebuah warisan luhur yang menjadi identitas bagi suatu wilayah. “Kegiatan ini merupakan media untuk menampilkan dan melestarikan kearifan lokal di Kabupaten Sleman,” jelasnya.

Menurutnya kegiatan festival tersebut juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat tentang filosofi yang terkandung disetiap upacara adat/tradisi budaya. Selain itu juga merupakan salah satu upaya strategi untuk melestarikan warisan budaya tradisional dari nenek moyang. “Jangan sampai warisan budaya yang kita miliki ini punah. Apalagi berbagai macam kesenian tradisionalyang kita miliki mengandung nilai-nilai dan pesan moral yang bermanfaat bagi masyarakat,” kata Muslimatun.

lowongan pekerjaan
Penerbit Ziyad Visi Media, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…