Dwi Hartanto. (Sumber akun facebook Dwi Hartanto)
Senin, 9 Oktober 2017 11:40 WIB Nugroho Nurcahyo/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Dwi Hartanto Tak Pernah Sebut Nama Almamaternya

Dwi Hartanto tidak pernah menyebut nama almamaternya IST Akprind.

Solopos.com, JOGJA—Institut Sains dan Teknologi Akademi Perindustrian (IST Akprind) Jogja, almamater tempat Dwi Hartanto mengenyam pendidikan sarjana dibikin terkejut dengan kelakuan alumnusnya yang menebar banyak bualan di berbagai forum. Dwi Hartanto ternyata tak pernah sebut nama almamaternya.

Rektor IST Akprind, Amir Hamzah, mengakui Dwi Hertanto adalah lulusan Jurusan Teknik Informatika Fakultas Teknologi Industri yang tamat pada 2005. “Kami kaget dengan berita ini. Walaupun sebenarnya ini sudah dunia alumni, tapi jelas jadi membawa nama Akprind,” ujar Amir saat dihubungi Harianjogja.com melalui ponsel, Minggu (8/10/2017).

Sebelumnya,  Akprind sempat merasa bungah dan bangga ketika pertama kali mendengar heboh The Next Habibie yang dilekatkan sejumlah media massa kepada Dwi Hartanto seusai ajang Diaspora Indonesia akhir 2016 silam.

Hanya saja Amir dan sejumlah rekannya di Akrpind sempat masygul. Sebab Dwi saat itu sama sekali tak menyebut nama almamaternya saat kuliah S1 di Jogja. “Padahal S-1 itu kan fase penting dalam dunia akademik, sebelum ia melanjutkan ke jenjang berikutnya,” kata pria kelahiran Magelang 54 tahun lalu itu.

Baca Juga : Dwi Hartanto Mengaku Alumnus IST Akprind, Rektor Kaget

Tak disebutnya Akprind, membuatnya ragu yang dibicarakan itu adalah alumnus kampus mereka. IST Akprind pun sempat melacak keberadaan Dwi, tapi kandas karena tak menemukan kontak untuk menghubunginya.

“Awalnya kami ingin mengecek apakah betul Dwi lulusan kampus kami. Motif awalnya sebetulnya prestasi Dwi itu bisa untuk mengangkat nama kampus, bisa untuk promosi,” kata pengajar yang pernah menjadi Dosen Berprestasi Tingkat III Kopertis Wilayah V tersebut.

“Tetapi sejak awal kami sebenarnya sudah masygul. Sebab Dwi bilang S1 dia di Jepang, tanpa menyebut pernah menempuh S-1 di Indonesia apalagi Akprind,” tutur dia.

Seperti dikutip dari Liputan6.com, Dwi membuat heboh lantaran pada Februari 2017 lalu, Dwi mengaku telah menamatkan studi doktoralnya di TU-Delft bidang kedirgantaraan, dengan beasiswa dari pemerintah Belanda.

Pemuda itu juga mengaku mengikuti kompetisi riset teknologi kedirgantaraan bergengsi di Jerman pada Juni 2017, yang diikuti oleh ESA (Eropa), NASA (AS), DLR (Jerman), ESTEC (Belanda), JAXA (Jepang), UKSA (Inggris), CSA (Kanada), KARI (Korea), AEB (Brazil), INTA (Spanyol), dan negara-negara maju lain.

Namun, pada Minggu (8/10/2017) ia kembali mengguncang dunia dengan mengirim surat pengakuan bahwa informasi prestasi yang ia sebutkan adalah tidak benar.

Baca Juga : Dulu Tak Mengakui, Dwi Hartanto Kini Bikin Malu Kampus IST Akprind

“Saya bermaksud memberikan klarifikasi dan memohon maaf atas informasi-informasi yang tidak benar tersebut,” lanjut Dwi menguak kebohongannya.

Permohonan maaf sebanyak lima lembar yang diparaf oleh Dwi di atas materai itu juga mengklarifikasi seluruh pengakuan palsu dan sesumbar Dwi atas klaim prestasi yang telah ia sebutkan.

Pada akhirnya, dalam surat tersebut, pria yang sempat digadang-gadang sebagai ‘The Next Habibie‘ itu mengatakan, “Saya mengakui itu adalah kebohongan semata.”

lowongan pekerjaan
PT. SO GOOD FOOD, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…