Senin, 9 Oktober 2017 20:40 WIB Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Di Jogja, Jumlah Taksi Konvensional Kalah Banyak dengan Taksi Online

Jumlah taksi konvensional mulai menurun.

Solopos.com, JOGJA— Keberadaan taksi online di Jogja membuat perusahaan taksi konvensional ketir-ketir. Tak hanya menurunkan pendapatan namun juga mengurangi jumlah taksi konvensional yang kini beroperasi.

Branch Manager Indra Klana Taksi, Alex Eman mengatakan, kondisi bisnis jasa transportasi taksi konvensional di Jogja memang belum seperti Jakarta yang jumlah perusahaannya merosot drastis dari 32 menjadi empat perusahaan taksi. “Tapi kondisinya hampir mendekati Jakarta. Sekarang semua masih berjalan tapi tinggal bertahan saja,” kata Alex, Senin (9/10/2017).

Saat ini, ada 20 perusahaan taksi konvensional di DIY dengan jumlah armada 1.000 unit. Semua perusahaan masih aktif, hanya saja jika dilihat dari jumlah armada yang beroperasi serta pendapatannya sudah mulai menunjukan penurunan yang signifikan.

Alex mengatakan, penurunan drastis mulai dirasakan sejak Januari 2017 lalu saat taksi online mulai banyak beroperasi di Jogja. Dari 1.000 armada yang ada, saat ini hanya 70%-80% armada yang beroperasi. Artinya, jumlah taksi konvensional yang beroperasi saat ini tingal sekitar 700 hingga 800 unit taksi konvensional.

Sedangkan taksi online, ia memperkirakan, berdasarkan pantauan di lapangan serta jumlah panggilan yang pernah ada sebelumnya, jumlah armada taksi online lebih besar dibanding taksi konvensional. “Perkiraan kami [taksi online] sampai 3.000, sementara kita [taksi konvensional] hanya 1.000,” katanya.

“Pengemudi pada takut jalan karena kalau jalan enggak ada hasilnya, di lapangan susah cari penumpang,” kata pria yang juga menjabat sebagai bendahara Organisasi Angkutan Darat (Organda) DPD DIY ini.

Menurutnya, gempuran taksi online membuat pengemudi konvensional semakin kesulitan mendapatkan pelanggan. Ia bahkan memastikan, lambat laun ada perusahaan taksi yang akhirnya tidak beroperasi karena suasana persaingan semakin ketat dan riskan bagi kalangan taksi konvensional. Perusahaan taksi konvensional semakin terancam gulung tikar.

Kendati sudah ada aturan tarif batas bawah, tetapi pada praktiknya ada taksi online yang tidak menghiraukannya. Hal ini yang membuat taksi online terkesan lebih murah, belum lagi jika ada promo-promo yang ditawarkan.

Sementara jika dilihat dari segi jumlah pendapatan, Alex menghitung terjadi penurunan sampai 60%. Saat taksi konvensional masih menjadi primadona, satu pengemudi bisa setor sampai Rp275.000 per hari, tetapi saat ini hanya Rp100.00-Rp110.000 saja.

Pengemudi taksi reguler juga sudah berupaya mengikuti perkembangan zaman dengan menggunakan sistem online. Sayangnya, kata Alex, tidak semua pengemudi berhasil. “Sekarang kuenya semakin kecil karena pemainnya banyak,” tegasnya.

lowongan pekerjaan
STAFF ADMINISTRASI & KEUANGAN, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…