Ilustrasi obat-obatan (JIBI/Harian Jogja/Reuters) Ilustrasi obat-obatan (JIBI/Harian Jogja/Reuters)
Senin, 9 Oktober 2017 09:55 WIB Beny Prasetya/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Apoteker DIY Jaga Ketat Peredaran Obat, Beli Antibiotik Harus dengan Resep Dokter

Ikatan Apoteker Indonesia Pengurus Daerah (IAI PD) DIY gaungkan peperangan melawan obat ilegal, Minggu (8/10/2017).

Solopos.com, JOGJA-– Ikatan Apoteker Indonesia Pengurus Daerah (IAI PD) DIY gaungkan peperangan melawan obat ilegal, Minggu (8/10/2017). Hal tersebut dinyatakan seluruh anggota IAI PD DIY dan simpatisan dalam acara yang memperingati Hari Apoteker Se-Dunia dan HUT Kota Jogja.

Ketua IAI PD DIY, Wimbuh Dumadi mengatakan, acara peringatan Hari Apoteker Se-Dunia itu mengambil tema Apoteker Perangi Obat Ilegal. Dipilihnya 8 Oktober sekaligus untuk memeriahkan HUT Kota Jogja. “Puncaknya hari ini, dan kita canangkan aksi apoteker perangi obat ilegal,” kata Wimbuh.

Ia juga mengatakan bahwa anggota IAI dan simpatisan yang hadir dirahapkan tidak ikut mengunakan obat ilegal. Ia juga tak mau bahwa anggota IAI melakukan pendistribusian obat diluar ketentuan yang ada. “Praktik farmasi yang benar, harus bertanggung jawab,” tegasnya.

Dalam acara yang dimulai pukul 06.30 WIB itu tersebut dihadiri 1.300 apoteker dan ratusan simpatisan yang mengunakan baju biru muda. Acara yang dimulai dengan senam aerobik di pelataran Monumen Serangan Umum Satu Maret .

Selanjutnya acaranya dilanjutkan dengan sosialiasi dan edukasi tentang obat ilegal dan penyakit anemia terhadap apoteker dan simpatisan.

Wimbuh mengatakan, masyarakat juga harus mengerti bahwa obat merupakan komoditi luar biasa. Obat tidak boleh diperlakukan secara sembarangan, seperti asal minum tanpa resep dan kententua berlaku.

“Masyarakat harus Dagusibu. Dapatkan obat dari mana harus jelas, gunakan sesuai aturannya, simpan sesuai ketentuan, dan buang dengan benar,” jelas Wimbuh.

Kepala BPOM DIY, I Gusti Ayu Adhi Aryapatmi, mengatakan bahwa pihaknya mengapresiasi apoteker di DIY yang telah menabuh genderang perang terhadap obat ilegal. “Kami menyambut gembira, apresiasi kami yang setinggi – tingginya,” katanya.

Ia menjelaskan, bahwa penggunaan obat ilegal belum diatur lebih lanjut dalam UU Narkoba dan Psikotropika. Maka dukungan dari apoteker yang telah ikut berperang merupakan hal yang menggembirakan. “Ini memerlukan kerjasama dan ini kejahatan manusia,” jelasnya.

Selaku Ketua BPOM DIY, ia berbangga kepada apoteker DIY yang menjaga ketat peredaran obat. Ia salut bagaimana obat seperti antibiotik benar-benar harus dengan resep dokter. “Teman Saya [waktu di DIY] sempat marah, membeli antibiotik saja kok susah,” tegasnya.

Ia juga menyambungkan bahwa obat campuran Paracetamol, Caffeine, dan Carisoprodol yang sempat menghebohkan Kendari tidak ditemukan di DIY. Hal itu ia dapat saat melakukan pengawasan bersama Dinas Kesehatan dan Kepolisian. “Obat [PCC] itu dicabut izinnya Tahun 2013, dan sekarang masih diproduksi,” jelasnya.

lowongan pekerjaan
PT. ATALIAN GLOBAL SERVICE, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
”Akad” Populer karena Berbeda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (14/10/2017). Esai ini karya Romensy Augustino, mahasiswa Jurusan Etnomusikologi Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Alamat e-mail penulis adalah romensyetno@yahoo.com. Solopos.com, SOLO – -Youtube adalah salah satu media sosial yang menjadi rujukan…