Komunitas Laku Lampah Solo mengunjungi bangunan peninggalan Belanda yakni penjara lama di Kampung Baru, Pasar Kliwon, Sabtu (7/10/2017). (Hijriyah Al Wakhidah/JIBI/Solopos) Komunitas Laku Lampah Solo mengunjungi bangunan peninggalan Belanda yakni penjara lama di Kampung Baru, Pasar Kliwon, Sabtu (7/10/2017). (Hijriyah Al Wakhidah/JIBI/Solopos)
Minggu, 8 Oktober 2017 23:35 WIB Hijriyah Al Wakhidah/JIBI/Solopos Solo Share :

WISATA SOLO
Bernostalgia di Penjara Lama Belanda dan Eks Kampung Krapyak

Komunitas Laku Lampah Solo menjelajahi penjara lama Belanda dan eks Kampung Krapyak.

Solopos.com, SOLO — Sebuah prasasti bertuliskan angka tahun 1832 masih terlihat jelas di sisi selatan bangunan Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB) Penabur Gladak Solo.

Selain prasasti itu, ada satu lagi prasasti di depan gereja dan merupakan prasasti restorasi gereja bertuliskan angka tahun 1904. Gereja di seberang Benteng Vastenburg itu adalah salah satu bangunan peninggalan Belanda dan menjadi ikon bersejarah.

Arsitektur bangunan gereja itu praktis membawa pengunjungnya ke nuansa masa lampau. Dari gereja itu, Komunitas Laku Lampah Solo mengawali penelusurannya menguak cerita sejarah Kampung Baru, Kecamatan Pasar Kliwon, melalui agenda Soerakarta Walking Tour, Sabtu (7/10/2017).

“Belanda sengaja membangun gereja ini untuk tempat beribadah umat Kristiani,” kata Koordinator Laku Lampah Solo, Fendy Fawzi Alfiansyah, saat berbincang dengan Solopos.com, di sela-sela Walking Tour, kemarin.

Dari GPIB Penabur, Laku Lampah masuk ke Kampung Simpon. Mereka menuju bangunan kuno yang dulunya adalah kompleks penjara lama Belanda.

Bangunan yang berada tepat di depan SMP Muhammadiyah 1 Solo yang lebih dikenal dengan SMP Muhammadiyah Simpon masih menunjukkan keutuhannya sebagai bangunan kuno, namun sudah banyak beralih fungsi sebagai permukiman.

“Dulu ini adalah penjara lama Belanda dan pernah menjadi penjara anak. Kami belum mendapatkan referensi kapan bangunan ini didirikan namun saat pemberontakan PETA [Pembela Tanah Air] pecah pada 1945, Belanda sudah memanfaatkan penjara ini,” ujar Fendy.

Dari bangunan penjara lama, Laku Lampah bergeser ke arah barat 50 meter hingga 100 meter. Mereka tiba di suatu tempat yang pada era penjajahan Belanda disebut Krapyak. Oleh Keraton Solo, Krapyak dijadikan kandang binatang liar seperti macan, banteng, hasil buruan para pangeran, bangsawan, atau prajurit Keraton. Dari sinilah lahir asal usul nama Gladak.

“Jadi binatang-binatang itu kemudian diadu dengan para ksatria, pangeran, atau orang hukuman Keraton, dalam sebuah ajang atau tradisi yang disebut Rampogan Macan. Kalau di Spanyol namanya gladiator,” tutur Fendy.

Binatang itu dibawa ke arena pertarungan dengan cara diseret paksa atau digladak sehingga kawasan itu dikenal dengan nama Gladak. Rampogan Macan menjadi ajang hiburan saat itu. Bahkan Raja keraton di dampingi penguasa Belanda saat itu selalu duduk di Pagelaran untuk menyaksikan pertarungan antara manusia dengan binatang liar tersebut.

Siapa pun yang kalah atau menang dalam Rampogan Macan itu, binatang liar itu akan tetap disembelih kemudian dagingnya dibagi-bagikan kepada rakyat. “Ada filosofi kenapa binatang itu tetap disembelih meski menang bertarung. Filosofi ini tidak disadari Belanda saat itu. Jadi, sekuat apa pun Belanda berkuasa, masyarakat pribumi yakin tetap akan menang.”

Secara administratif wilayah Kampung Baru meliputi Gladak ke utara hingga Jembatan Arifin, ke barat sampai Pring Gading, ke selatan hingga pertigaan Jl. Imam Bonjol sampai Jl. Slamet Riyadi ke arah Gladak.

Menurut Fendy, Kampung Baru pernah bernama Kampung Lojiwurung karena saat Jl. Slamet Riyadi masih berwujud sungai, kawasan itu tidak bisa diapa-apakan. Belanda maupun Keraton tidak bisa membuat bangunan di sana karena sering kebanjiran.

Sejak Keraton Kasunanan Surakarta masuk wilayah Provinsi Jawa Tengah, secara administrasi eks wilayah Gubernuran Belanda itu menjadi Kampung Baru.

lowongan pekerjaan
sales, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…