Salah satu adegan wayang orang Sotya Gandhewa yang dipentaskan dalam rangka Dies Natalis Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta ke-53 di Teater Besar kampus setempat, Jumat (6/10/2017) malam.(Istimewa/Dokumentasi Wayang Kautaman) Salah satu adegan wayang orang Sotya Gandhewa yang dipentaskan dalam rangka Dies Natalis Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta ke-53 di Teater Besar kampus setempat, Jumat (6/10/2017) malam.(Istimewa/Dokumentasi Wayang Kautaman)
Minggu, 8 Oktober 2017 20:41 WIB Ika Yuniati/JIBI/Solopos Issue Share :

Tampil Beda, Wayang Kautaman di ISI Solo Memukau Penonton

Wayang Kautaman dengan lakon Sotya Gandhewa di Gedung Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, Jumat (6/10/2017) malam.

Solopos.com, SOLO--Tabuhan gamelan menjadi penanda dimulainya pentas Wayang Kautaman dengan lakon Sotya Gandhewa di Gedung Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, Jumat (6/10/2017) malam. Dengan background layar putih, panggung wayang orang yang melibatkan para seniman Solo ini dihidupkan.

Tak ada seting adegan dengan pergantian background. Tim Produksi menguatkan narasi cerita menggunakan tata lampu artistik yang didominasi sorot merah, hijau, dan ungu.

Keindahan panggung tersebut kemudian disempurnakan dengan gerak tari serta antawacana detail oleh para pemain yang notabene seniman senior Solo. Ada Wasi Bantolo memerankan Arjuna, Achmad Dipoyono sebagai Ekalaya, dan Ali Marsudi menjadi Durna. Juga didukung para maestro tari Solo Wahyu Santoso Prabowo, Rusini, dan Elly D. Luthan.

Cerita bermula dari Durna yang merasa dikejar usia. Mimpinya menjadi seorang kesatria tak terkalahkan telah kandas. Kini ia merupakan seorang guru di Sokalima, pembimbing sekumpulan kesatria Hastina, Pandawa, dan Kurawa. Sebagai seorang ayah ia sangat berharap kepada
Aswatama, yang justru menganggapnya lebih menyayangi Arjuna ketimbang anaknya.

Rasa cinta pada Arjuna juga membuatnya menolak niat pemburu berbakat, Ekalaya yang ingin berguru. Ekalaya akhirnya meninggal saat berseteru dengan Arjuna. Kejadian yang menewaskan pemanah hebat tersebut membuat Durna tersudutkan. hingga membuatnya memutuskan untuk mengekang tangan kiri dan membatasi segala keinginannya. Cerita diakhiri dengan terpecahnya murid-murid Durna di Kurusetra.

Kepedihan hati Durna sebagai seorang pendidik sekaligus abdi negara ini dipentaskan dengan cerita penuh selama dua jam. Penampilan kedua Wayang Kautaman di ISI Solo tersebut disambut tepuk tangan meriah. Di antara ratusan penonton, hanya beberapa yang beranjak pergi meninggalkan area pertunjukkan sebelum usai.

“Eksplorasi garapnya bagus. Gerak tari para pemain sangat detail karena memang mereka notabene penari lama Solo. Tapi tata lampu panggung sedikit mengganggu. Beberapa tidak sesuai dengan adegan yang dimainkan,” kata salah satu penonton yang juga seorang Seniman Teater senior Gigok
Anuraga selesai acara.

Sebelumnya saat berbincang di Griya Solopos, Rabu (4/10/2017), sutradara sekaligus penulis naskah Nanang Hape mengatakan semua unsur pendukung Sotya Gandewa hampir sama dengan wayang pada umumnya. Yang membedakan hanyalah inovasi garapan, proses, dan eksplorasi cerita yang dia kerjakan bersama tim sejak April lalu.

“Semua kita garap, plot, alur, padat, kalimat-kalimat yang efektif, dramatiknya. Kami justru ke situ.
Sebenarnya enggak ada yang baru, yang baru adalah keseriusan, eksplorasi maksimalnya. Agar wayang enggak hanya dianggap sebagai kenangan masa lalu. Tetapi tontonan semua orang, semua kalangan,” kata Nanang.

lowongan pekerjaan
sales, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…