Menteri Kesehatan Nila Farid Moeloek didampingi Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dan Bupati Demak M. Natsir serta Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Muhammad Subuh menekan tombol sirine secara bersama-sama sebagai tanda dimulainya bulan eliminasi penyakit kaki gajah di Lapangan Desa Jatisono, Kecamatan Gajah, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Sabtu (7/10/2017). (JIBI/Solopos/Antara/Akhmad Nazaruddin Lathif) Menteri Kesehatan Nila Farid Moeloek didampingi Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dan Bupati Demak M. Natsir serta Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Muhammad Subuh menekan tombol sirine secara bersama-sama sebagai tanda dimulainya bulan eliminasi penyakit kaki gajah di Lapangan Desa Jatisono, Kecamatan Gajah, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Sabtu (7/10/2017). (JIBI/Solopos/Antara/Akhmad Nazaruddin Lathif)
Minggu, 8 Oktober 2017 02:50 WIB JIBI/Solopos/Antara Semarang Share :

Menkes Bagi-Bagikan Sertifikasi Eliminasi Filariasis di Demak

Menteri Kesehatan Nila Farid Moeloek membagikan sertifikat eliminasi filariasis alias penyakit kaki gajah di Demak, Jateng.

Solopos.com, DEMAK — Menteri Kesehatan Nila Farid Moeloek menyerahkan sertifikat eliminasi filasiasis atau penyakit kaki gajah kepada 13 kabupaten dan kota atas keberhasilan dalam pengendalian penyakit kaki gajah di wilayah masing-masing.

“Kita harus eliminasi kaki gajah. Kalau sudah sebesar kaki gajah tidak bisa sembuh. Yang bisa dilakukan adalah mencegah,” kata Menkes dalam acara peringatan Bulan Eliminasi Kaki Gajah (Belkaga) 2017 di Lapangan Desa Jatisono, Kecamatan Gajah, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Sabtu (7/11/2017).

Wilayah yang menerima sertifikat tersebut adalah Kota Depok, Kota Dumai, Kota Gorontalo, Kabupaten Belitung, Kabupaten Bangka Barat dan Kabupaten Lima Puluh Kota. Selanjutnya adalah Kabupaten Parigi Moutong, Kabupaten Polewali Mandar, Kabupaten Gorontalo, Kabupaten Gorontalo Utara, Kabupaten Pahuwato, Kabupaten Enrekang dan Kabupaten Alor.

Kabupaten dan kota tersebut menunjukkan penurunan prevalensi penyakit kaki gajah yang signifikan sehingga tidak memungkinkan adanya penularan kembali berdasarkan hasil evaluasi penilaian penularan tahap ketiga. Sementara pada 2016, sertifikat eliminasi filariasis diberikan kepada empat daerah, yakni Kota Waringin Barat, Kabupaten Kolaka Utara, Kabupaten Bombana serta Kota Bogor.

Daerah yang sebelumnya merupakan daerah endemis penyakit kaki gajah mendapatkan sertifikat eliminasi filariasis saat memenuhi kriteria, antara lain telah melaksanakan program pemberian obat pencegahan massal filariasis selama lima tahun berturut-turut dengan cakupan lebih dari 65 persen cakupan total populasi tercapai.

Kemudian prevalensi mikrofilaria di desa penyangga dan tempat pengecekan kurang dari satu persen setelah putaran POPM efektif terakhir di setiap desa serta dinyatakan lulus dalam survei penilaian penularan selama tiga kali, yakni setelah pelaksanaan tahun kelima POPM filariasis, akhir tahun kedua periode stop POPM filariasis dan akhir tahun keempat periode stop POPM Filariasis.

Dari 236 daerah yang merupakan daerah endemis penyakit kaki gajah, sebanyak 150 daerah masih melaksanakan pemberian obat pencegahan massal (POPM) filariasis. Sementara 86 lainnya telah selesai melaksanakan POPM selama lima tahun berturut-turut dan sedang dalam tahap evaluasi.

Pemerintah menargetkan bisa mewujudkan keluarga di Indonesia terbebas dari penyakit kaki gajah pada 2020. Menteri Kesehatan Nila Farid Moeloek menyatakan dari ratusan kabupaten dan kota di Indonesia yang masih menjadi daerah endemis filasiasis atau penyakit kaki gajah, Kabupaten Demak adalah salah satunya.

Di Kabupaten Demak hingga kini masih ada 41 penderita kaki gajah. Untuk bisa bebas dari penyakit kaki gajah diakuinya tidak mudah karena membutuhkan dukungan semua pihak, termasuk masyarakat dan pencanangan bulan eliminasi kaki gajah ini merupakan langkah akselerasi untuk mewujudkan keluarga bebas dari penyakit kaki gajah.

Banyak kendala untuk mengiliminasi penyakit kaki gajah, di antaranya masih banyaknya populasi nyamuk serta perlu diperbanyak petugas juru pemantau jentik. “Kami minta, masyarakat untuk memulai pola hidup sehat karena dari nyamuk bisa menularkan berbagai penyakit, salah satuya penyakit kaki gajah,” ujarnya.

Selain itu, dia juga meminta pemerintah daerah memperkuat layanan kesehatan primer di tingkat Puskesmas. “Puskesmas harus proaktif datangi keluarga guna mencegah kemungkinan terserang penyakit karena bisa diobati secepatnya,” ujarnya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

lowongan pekerjaan
PT. SO GOOD FOOD, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…