Gubernur Jateng Ganjar Pranowo berdialog dengan warga Desa Jatisono, Kecamatan Gajah, Kabupaten Demak, yang belum memiliki jamban. Ganjar dalam pencanangan bulan eliminasi penyakit kaki gajah di Lapangan Desa Jatisono, Sabtu (7/10/2017), memberikan bantuan pembuatan jamban untuk tujuh warga desa setempat, karena mereka mengaku tidak memiliki dana yang cukup. (JIBI/Solopos/Antara/Akhmad Nazaruddin Lathif) Gubernur Jateng Ganjar Pranowo berdialog dengan warga Desa Jatisono, Kecamatan Gajah, Kabupaten Demak, yang belum memiliki jamban. Ganjar dalam pencanangan bulan eliminasi penyakit kaki gajah di Lapangan Desa Jatisono, Sabtu (7/10/2017), memberikan bantuan pembuatan jamban untuk tujuh warga desa setempat, karena mereka mengaku tidak memiliki dana yang cukup. (JIBI/Solopos/Antara/Akhmad Nazaruddin Lathif)
Minggu, 8 Oktober 2017 08:50 WIB JIBI/Solopos/Antara Semarang Share :

KESEHATAN JATENG
Pemerintah Kabupaten dan Kota Dituntut Kreatif Bantu Warga Sediakan Jamban

Kesehatan warga Jateng membutuhkan kreativitas pemerintah kabupaten dan kota membantu penyediaan jamban.

Solopos.com, DEMAK — Pemerintah kabupaten dan kota di Jawa Tengah dituntut kreatif membantu masyarakat kurang mampu menyediakan fasilitas jamban sehat. Tuntutan itu disampaikan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo seusai pencanangan bulan eliminasi penyakit kaki gajah di Lapangan Desa Jatisono, Kecamatan Gajah, Kabupaten Demak, Sabtu (7/10/2017).

“Di Jateng memang masih banyak warga yang belum memiliki jamban karena yang memiliki akses jamban hingga 100% baru Kabupaten Grobogan,” akunya. Menurut dia, kabupaten tersebut bisa dijadikan contoh oleh daerah lain sehingga semua warganya bisa memiliki akses jamban hingga 100%.

Untuk itu, kata dia, semua pihak perlu terlibat untuk mengampanyekan pentingnya memiliki jamban yang sehat. BPR BKK Kabupaten Grobogan, katanya, memiliki kreativitas dengan membuat produk kredit khusus jamban.

Sementara di Kabupaten Demak, kata dia, sesuai yang dijelaskan oleh bupatinya ada gerakan sedekah jamban. “Jika semua daerah memiliki kreativitas serupa, tentunya akan menjadi gerakan luar biasa,” ujarnya.

Sebetulnya, kata dia, masing-masing pemerintah daerah memiliki anggaran untuk membantu warga kurang mampu membangun jamban. Hanya saja, imbuh Ganjar, kemampuan anggarannya tentu terbatas, sehingga harus didorong lewat cara lain, seperti menggandeng pihak swasta seperti yang digagas Kabupaten Demak lewat gerakan sedekah jamban atau kredit jamban.

Kehadiran Ganjar Pranowo di Desa Jatisono juga membawa berkah bagi tujuh warga desa setempat, karena mendapatkan bantuan jamban gratis. Hani, salah seorang warga Desa Jatisono mengaku belum memiliki jamban yang sehat, karena baru mengumpulkan dana untuk membangunnya.

Ia mengaku berterima kasih kepada Gubernur Jateng Ganjar Pranowo karena dibantu membangun jamban yang sehat. Warga lainnya, Kasminah juga mendapatkan bantuan serupa akan dibuatkan jamban di rumahnya. Selama ini, akunya, setiap buang hajat menumpang di rumah anaknya.

Bupati Demak M. Natsir mengungkapkan, dalam rangka meningkatkan jumlah desa yang bebas buang air besar sembarang, dicanangkan program sedekah jamban. Untuk saat ini, lanjut dia, dari 249 desa di Kabupaten Demak terdapat 50 desa yang bebas membuang air besar sembarang. Puluhan desa yang dinyatakan bebas buang air besar sembarangan, kata dia, mendapatkan sertifikat khusus.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

lowongan pekerjaan
PT. SO GOOD FOOD, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…