Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati (dua dari kiri) membuka dompetnya saat dimintai uang Mbak Paiman (tiga dari kiri) di Desa Glonggong, Gondang, Sabtu (7/10/2017). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos) Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati (dua dari kiri) membuka dompetnya saat dimintai uang Mbak Paiman (tiga dari kiri) di Desa Glonggong, Gondang, Sabtu (7/10/2017). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos)
Minggu, 8 Oktober 2017 12:35 WIB Tri Rahayu/JIBI/Solopos Sragen Share :

KEMISKINAN SRAGEN
Sudah Dibikinkan Rumah, Warga Lansia Ini Masih Minta Uang ke Bupati

Seorang warga miskin Sragen yang sudah dibantu bedah rumah masih meminta uang kepada Bupati.

Solopos.com, SRAGEN — Puluhan personel TNI/Polri dan warga bergotong-royong membongkar rumah di Dukuh Ngundaan RT 003, Desa Glonggong, Gondang, Sragen, Sabtu (7/10/2017).

Rumah berukuran 9 meter x 5 meter milik Paiman, 89, berdinding gedek, berlantai tanah, dan berstruktur atap dari bambu dirobohkan. Personel Polri menurunkan genting. Personel TNI mengusung batu bata dan adonan pasir dan semen untuk membuat fondasi rumah.

Para pejabat DPRD, Pemkab Sragen, Polres, dan Kodim ikut terlibat dalam gotong-royong itu. Para pejabat itulah yang menggerakkan puluhan personel TNI/Polri. (Baca: Miskin, Kakek-Kakek Sragen Ini Tidur Satu Bilik dengan 4 Ekor Ayam)

Mereka tergabung dalam Angkringan Shoping Community (Ashoco) atau Komunitas Jarang Pulang yang dimotori Wakil Ketua DPRD Sragen Bambang Widjo Purwanto. Semula rumah itu dihuni Paiman, 89, dan adiknya, Wagiyem, 75.

Paiman yang sudah lanjut usia itu sempat tidur bersama keempat ekor ayamnya. Kini, ayam-ayam itu sudah dijual ke Pasar Gondang dan laku Rp350.000. Uang hasil penjualan ayam itu digunakan untuk membeli beras, minyak, gula, dan kebutuhan pokok lainnya.

Untuk sementara Paiman dan Wagiyem tinggal di rumah Saini, 55, yang merupakan anak Wagiyem. Selama ini keluarga Kutano, 60, dan Saini, 55, yang menghidupi dua orang lanjut usia itu.

Di tengah aktivitas ramai itu, hadir sosok perempuan berhijab dengan gaun panjang bermotif batik warna merah. Nyaris semua warga setempat berebut tangan perempuan yang akrab disapa Mbak Yuni itu.

Ibu dari tiga anak itu tidak lain Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati. Bupati ingin melihat langsung kondisi rumah Paiman yang kabarnya tidur satu bilik dengan ayamnya.

“Bedah rumah seperti ini mestinya tidak berhenti di sini tetapi juga di daerah lain yang dimotori Ashoco. Silakan para wartawan kalau menjumpai rumah serupa lapor ke saya biar Ashoco yang bergerak,” pesan Yuni saat melihat gereget TNI/Polri, Ashoco, dan warga saat membedah rumah.

Yuni pun penasaran ingin bertemu Paiman yang sudah berkurang pendengarannya. Paiman duduk di amben kayu dengan menundukkan kepala. Yuni datang dan langsung menjabat tangan Paiman. “Mbah, tahu tidak siapa saya? Ini saya, Mbak Yuni.”

Omahe ngendi [rumahnya mana]?”

“Sragen, Mbah.” Sejumlah warga memberi tahu Paiman kalau Yuni itu Bupati Sragen.

Hla kok ora ngeki duit [Hla kok tidak memberi uang]?”

Pertanyaan Paiman itu disambut gelak tawa Yuni dan para pejabat yang hadir. Tanpa basa-basi, Yuni mengeluarkan dompet bermotif garis warna cokelat. Beberapa lembar uang bergambar proklamator digenggamnya dan diserahkan kepada Paiman.

Wagiyem yang duduk disamping Paiman pun mendapat cipratan uang dari Bupati. “Dienggo tuku rokok mbah. Jaluk sing akeh! [Untuk beli rokok, Mbah. Minta yang banyak!]” celetuk Wakil Ketua DPRD Sragen Bambang Widjo Purwanto yang tinggal di desa sebelah.

Beberapa warga lanjut usia lainnya juga mendapat uang dari Yuni saat berpamitan karena masih banyak agenda pada Jumat itu. Bukan hanya Bupati, Dandim 0725/Sragen Letkol (Arh) Camas Sigit Prasetyo, Kapolres Sragen AKBP Arif Budiman, Sekretaris Daerah Tatag Prabawanto, legislator Partai Kebangkitan Bangsa Fatchurrahman, dan pejabat penting lainnya juga turun hadir dalam gotong-royong itu.

“Bedah rumah ini menelan dana Rp7,5 juta dari Dinas Sosial. Sebenarnya dananya belum turun. Karena darurat, Ashoco memberi talangan dulu agar rumah Mbah Paiman itu layak dihuni. Yang penting bagi kami kepala desa dan camat harus peka dengan kondisi warganya. Kalau ada kasus seperti ini segera sampaikan ke pemerintah,” ujar Bambang Pur yang juga Ketua Ashoco.

lowongan pekerjaan
Penerbit Ziyad Visi Media, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…