Seorang warga melintas di depan Kantor Kelurahan Wonoboyo, Wonogiri, Sabtu (7/10/2017). (Ahmad Wakid/JIBI/Solopos) Seorang warga melintas di depan Kantor Kelurahan Wonoboyo, Wonogiri, Sabtu (7/10/2017). (Ahmad Wakid/JIBI/Solopos)
Minggu, 8 Oktober 2017 14:35 WIB Ahmad Wakid/JIBI/Solopos Wonogiri Share :

ASAL USUL
Kelurahan di Wonogiri Ini Dinamai Wonoboyo karena Dianggap Berbahaya

Desa Wonoboyo di Kecamatan Wonogiri berasal dari kata wono dan baya (bahaya).

Solopos.com, WONOGIRI — Kelurahan Wonoboyo terletak di Kecamatan Wonogiri, Kabupaten Wonogiri. Kelurahan ini diapit Desa Bulusur di sebelah timur dan Kelurahan Giripurwo di sebelah barat.

Jembatan Pokoh di atas aliran sungai Bengawan Solo secara administratif masuk wilayah Kelurahan Wonoboyo. Nama Kelurahan Wonoboyo berasal dari dua kata, yakni wana yang berarti hutan dan baya yang berarti buaya.

Namun setelah ditelusuri lebih dalam, kata baya dari nama Wonoboyo bukan berarti buaya melainkan bahaya. Dalam kamus bahasa Sansekerta, kata wana mempunyai arti hutan.

Sedangkan, kata baya mempunyai dua arti yakni buaya dan bahaya. Dalam hal penamaan kelurahan itu baya diartikan bahaya sehingga wonoboyo berarti hutan yang berbahaya.

Hal itu tidak lepas dari sejarah tempat tersebut pada zaman dulu. Dulu, wilayah yang merupakan cikal bakal Wonoboyo merupakan kawasan yang ditakuti masyarakat sekitar, terutama para pedagang maupun masyarakat yang ingin datang ke Wonogiri melalui Sungai Bengawan Solo.

“Di sini dulu masih berupa hutan belantara. Kawasan ini, dihuni gerombolan begal. Kawasan ini sangat ditakuti,” kata salah satu tokoh masyarakat Kelurahan Wonoboyo, Suyadi, 75, saat berbincang dengan Solopos.com di rumahnya, Sabtu (7/10/2017).

Menurutnya, para begal itu bertindak seperti bajak laut yang menyerang perahu para pedagang maupun warga biasa. Mereka merampas barang-barang berharga yang ada di perahu tersebut. Bahkan, mereka tidak segan-segan menghabisi nyawa para korban.

“Warga yang melewati hutan ini dengan perahu langsung dibegal. Karena berbahayanya kawasan ini kemudian diberi nama Wonoboyo,” jelas warga RT 002/RW 008 Wonoboyo itu.

Menariknya, meski pada zaman dulu Wonoboyo dikenal sebagai kawasan orang jahat dan kejam, sekarang seakan berbanding terbalik. Taman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa yang merupakan tempat peristirahatan terakhir para pejuang yang gugur berada di Kelurahan Wonoboyo.

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…