Gapura gerbang masuk Dukuh Kleben, Kelurahan Mandan, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Sukoharjo. (Trianto Hery Suryono/JIBI/Solopos) Gapura gerbang masuk Dukuh Kleben, Kelurahan Mandan, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Sukoharjo. (Trianto Hery Suryono/JIBI/Solopos)
Sabtu, 7 Oktober 2017 16:00 WIB Trianto Hery Suryono/JIBI/Solopos Sukoharjo Share :

ASAL USUL
Asale Dukuh Kleben Sukoharjo dari Kalimat Kelep Yo Ben

Asal usul penamaan Dukuh Kleben dari kata kelep yo ben.

Solopos.com, SUKOHARJO — Dukuh Kleben merupakan salah satu dukuh di Kelurahan Mandan, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Sukoharjo. Meski nama Kleben sudah cukup familiar bagi masyarakat di sekitar wilayah itu, namun jarang orang mengetahui asal muasal nama Kleben.

Tokoh masyarakat Kleben, Sadimin, 70, bercerita nama Kleben berasal dari dari kata kelep yo ben yang artinya tak masalah meskipun tergenang air. Kata itu menunjukkan wilayah Kleben dulunya kerap dihampiri banjir. Namun kenapa lokasi itu menjadi langganan banjir?

Sadimin mengatakan sebelum dibangun Waduk Gajah Mungkur atau Bendungan Somoulun di Wonogiri, daerah Kleben menjadi langganan banjir.

“Nama Kleben sudah ada sebelum Kemerdekaan RI 1945. Nenek moyang dahulu mendefinisikan nama Kleben asal kata dari kelep yo ben. Walau air menggenangi rumah dan pekarangan warga atau pemilik rumah tidak mau berpindah lokasi,” katanya.

Sadimin mengatakan warga Kleben terbiasa mengungsi di saat air menggenangi rumah dan lahan pekarangan.

“Zaman setelah Gestok (Gerakan Satu Oktober 1965] atau tahun 1966 banjir bandang terjadi di Kleben, termasuk Solo. Air setinggi satu meter lebih. Saya sendiri sempat kaget menyeberang jalan yang digenangi air saat itu karena kedalamannya sebatas dagu,” jelasnya sembari menunjukkan dagunya.

Menurutnya, lokasi mengungsi warga di zaman itu tidak jauh yakni berada di lahan yang kini dibangun Sanggar Kesenian dengan ketua Widi.

“Di lahan milik Pak Widi itu, warga mengungsi dan melihat hamparan tanah seperti laut karena banjir menggenangi seluruh lahan pertanian dan pemukiman. Warga sudah terbiasa melihat genangan air. Namun semenjak dibangun Bendungan Somoulun [Waduk Gajah Mungkur] sekitar tahun 1984-an banjir tidak lagi menggenang Kleben. Kleben tak lagi kelep [tergenang air],” tambah dia.

Lelaki kelahiran 1957 itu mengatakan kondisi sekarang sudah berubah di antaranya permukiman di Kleben sudah padat.

Untuk menuju lokasi Kleben masyarakat dari luar Sukoharjo bisa melalui simpang lima atau Proliman ambil jalan serong kanan menuju Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sukoharjo atau menuju Kantor Kelurahan Mandan. Sesampai di simpang empat atau tempat ibadah gereja berbelok ke kanan atau arah Banmati.

Di kanan Dukuh Kleben terdapat saluran air yang tak pernah surut. Air saluran melimpah untuk tanaman pertanian.

Sementara itu, tokoh muda Kleben, Widi, mengaku tidak tahu persis cerita sejarah Kleben. Dia mengatakan nama tempat memiliki sejarah yang harus diketahui oleh generasi penerus.

lowongan pekerjaan
, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
”Akad” Populer karena Berbeda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (14/10/2017). Esai ini karya Romensy Augustino, mahasiswa Jurusan Etnomusikologi Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Alamat e-mail penulis adalah romensyetno@yahoo.com. Solopos.com, SOLO – -Youtube adalah salah satu media sosial yang menjadi rujukan…