Warga Dusun Dlimosari, Desa Tanjungsari, Banyudono, Boyolali, memblokade proyek tol Semarang-Solo, Selasa (3/10/2017). (Akhmad Ludiyanto/JIBI/Solopos) Warga Dusun Dlimosari, Desa Tanjungsari, Banyudono, Boyolali, memblokade proyek tol Semarang-Solo, Selasa (3/10/2017). (Akhmad Ludiyanto/JIBI/Solopos)
Jumat, 6 Oktober 2017 09:35 WIB Aries Susanto/JIBI/Solopos Boyolali Share :

TOL SEMARANG-SOLO
Setelah Diblokade, Pelaksana Tol Penuhi Tuntutan Warga Boyolali Buka Akses Pertanian

Pelaksana Tol Semarang-Solo akhirnya memenuhi tuntutan warga untuk membuka akses kampung.

Solopos.com, BOYOLALI — Warga Dusun Dlimosari, Desa Tanjungsari, Kecamatan Banyudono, Boyolali, akhirnya bisa bernapas lega. Tuntutan mereka untuk dibuatkan akses pertanian yang selama ini tertutup proyek tol Semarang-Solo akhirnya dikabulkan.

PT Waskita Karya selaku pelaksana proyek tol Semarang-Solo menyatakan kesanggupan membuat akses yang diminta warga itu dalam mediasi yang difasilitasi Pemerintah Desa Tanjungsari dan kepolisian, Rabu (4/10/2017). Dalam mediasi di Balai Desa Tanjungsari tersebut, PT Waskita Karya menyanggupi membuatkan terowongan sebagai akses pertanian warga.

Warga menyambut keputusan itu dengan antusias dan berjanji segera membuka blokade di lokasi proyek. “Warga sudah lega mendengar jawaban PT Waskita Karya. Intinya, permintaan warga dikabulkan dan segera dibuatkan akses pertanian berupa terowongan,” ujar Kepala Desa Tanjungsari, Joko Sarjono, kepada Solopos.com, Kamis (5/10/2017).

Joko menjelaskan terowongan yang akan dibangun berukuran 3 meter persegi. Terowongan itu dibangun untuk menghubungkan area pertanian warga Dukuh Dlimosari, Tanjungsari, dengan Dusun Jomboran.

Pelaksana Proyek juga menjanjikan terowongan bakal jadi sebelum waktu lima bulan ke depan. “Warga akan mengajukan surat dulu ke Bupati dan PT SNJ sebagai syarat administrasi. Nantinya, pelaksana proyek adalah PT Waskita Karya,” ujarnya.

Kepala Proyek dari PT Waskita Karya, Gilang Rahmadani, mengatakan sebenarnya sudah membuatkan akses warga menuju ke lokasi pertanian. Hanya, lokasinya tak lurus dan memberatkan warga.

Atas desakan warga, dia tak keberatan untuk membangunkan lagi akses yang lebih mudah dijangkau warga. “Kami sudah oke. Dalam waktu dekat ini, terowongan segera kami bangun,” terangnya.

Dengan terjadinya kesepakatan itu, warga pun menyatakan membubarkan diri. Mereka tak lagi memblokade jalan tol Solo-Semarang dengan bambu, kayu, dan papan.

Sebelumnya, PT Waskita yang menemui peserta aksi sempat berdialog. Namun, mereka belum dapat memberikan keputusan dan berjanji menyampaikan tuntutan warga kepada penentu kebijakan.

Diberitakan sebelumnya, seorang warga setempat, Wardiyo, 41, mengaku sudah lama menanti kepastian dari pengembang soal pembukaan akses yang tertutup jalan tol. “Kami sudah cukup lama menunggu jawaban pengembang. Tapi sampai saat ini belum ada jawaban, makanya kami menuntut kepastian dengan cara seperti ini,” ujarnya di lokasi.

lowongan pekerjaan
CV. HORISON, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
”Akad” Populer karena Berbeda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (14/10/2017). Esai ini karya Romensy Augustino, mahasiswa Jurusan Etnomusikologi Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Alamat e-mail penulis adalah romensyetno@yahoo.com. Solopos.com, SOLO – -Youtube adalah salah satu media sosial yang menjadi rujukan…