Ilustrasi fogging (Dok/JIBI/Harian Jogja) Ilustrasi fogging atau pengasapan untuk memutus daur hidup nyamuk (JIBI/Harian Jogja/Desi Suryanto)
Jumat, 6 Oktober 2017 15:20 WIB Abdul Hamid Razak/JIBI/Harian Jogja Sleman Share :

Sudah Masuk Musim Hujan, Waspada Sarang Nyamuk DBD

Jelang musim hujan, warga diminta mewaspadai penyebaran sarang nyamuk

Solopos.com, SLEMAN- Jelang musim hujan, warga diminta mewaspadai penyebaran sarang nyamuk penyebab demam berdarah dengue (DBD). Cara efektif untuk memberantas nyamuk dengan perilaku hidup besih dan sehat (PBHS).

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman Nurulhayah mengakui, sering kali masyarakat terlena ketika musim hujan datang. Mereka tidak lagi memerhatikan kebersihan lingkungan di sekitarnya.

“Ini kerap terjadi saat awal musim hujan. Oleh karenanya, kami meminya agar warga tetap memerhatikan PHBS,” kata Nurulhayah di kantornya, Kamis (5/10/2017).

Imbauan Nurul bukan tanpa sebab. Periode hujan antara akhir tahun hingga awal tahun, seperti saat ini merupakan masa di mana banyak kasus DBD muncul. Di wilayah Sleman, kasus DBD dari Januarai hingga Maret 2017 tercatat 126 kasus. “Saat ini musim pancaroba, kegiatan bersih-bersih di lingkungan harus terus dilakukan,” katanya.

Saat curah hujan tinggi, katanya, hal itu menyebabkan lembabnya lingkungan. Kondisi itu menjadi faktor utama terjadinya kasus DBD. Dia meminta agar warga memerhatikan genangan air di sekitar lingkungannya. Sampah dan barang bekas yang menampung air juga menimbulkan banyaknya sarang nyamuk.

“Saat ini memang tren DBD belum terlihat tetapi antisipasi perlu dilakukan sejak dini,” katanya.

Ditambahkan Kabid Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinkes Sleman Novita Krisnaeni, pengendalian penyakit DBD menjadi salah satu skala prioritas penanganan Dinkes. Hal ini dikarenakan penyebaran kasus DBD hampir merata di wilayah Sleman. Selain pengaruh iklim (musim penghujan), masih banyak ditemukan genangan air yang potensial menjadi tempat perindukan nyamuk aedes aegypty.

“Faktor lain masalah kelembapan udara dan perilaku masyarakat yang kurang peduli dengan PHBS,” katanya.

Dinkes terus membentuk kader jumantik di beberapa Puskesmas. Salah satunya, membentuk ‘pasukan’ jumantik cilik. Jumlah kelompok jumantik cilik di Sleman ada 45 kelompok. Dari jumlah tersebut kader cilik sebanyak 1.527 orang sementara kader jumantik dewasa sebanyak 9.242 orang.

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI & KEUANGAN BISNIS, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Jokowi Raja Batak

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (13/01/2018). Esai ini karya Advent Tarigan Tambun, inisiator Sinabung Karo Jazz 2017. Alamat e-mail penulis adalah atambun@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Saya bukan ahli budaya Batak. Dengan jujur saya harus mengatakan bahwa pengetahuan saya tentang budaya…