Ilustrasi penjemuran gabah hasil panan petani. (JIBI/Solopos/Antara/Rahmad) Ilustrasi penjemuran gabah hasil panan petani. (JIBI/Solopos/Antara/Rahmad)
Jumat, 6 Oktober 2017 10:15 WIB Tri Rahayu/JIBI/Solopos Sragen Share :

PERTANIAN SRAGEN
3 Tahun Mati Suri, 400-an Usaha Penggilingan Padi Bangkit Lagi

Pertanian Sragen, pengusaha penggilingan padi mulai bangkit.

Solopos.com, SRAGEN — Sebanyak 400 unit penggilingan padi kecil dan menengah di Kabupaten Sragen mengalami mati suri sejak 2013 lalu lantaran tidak mampu bersaing dengan perusahaan bermodal besar.

Sejumlah pengusaha membentuk Perkumpulan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras Indonesia (Perpadi) sebagai upaya membangkitkan semangat 600-an unit penggilingan padi di Sragen.

Persoalan tersebut disampaikan Ketua Perpadi Sragen Suwondo saat dihubungi, Kamis (5/10/2017). ” Dengan harga Rp5.000/kg gabah kering panen (GKP) itu petani tidak rugi. Justru pengusaha penggilingan padi kecil yang rugi karena tidak bisa bersaing dengan pemodal besar,” ujarnya.

Dia menyampaikan Perpadi sebenarnya menyesuaikan harga pasar dalam pembelian padi atau beras tetapi tidak berani melebihi ketentuan harga dari pemerintah terutama untuk beras karena sudah ada harga eceran tertinggi (HET) beras. Dia menyatakan Perpadi tidak berani menjual beras di atas HET, yakni Rp9.450/kg untuk beras medium dan Rp12.800/kg untuk beras premium.

Dengan harga tinggi sekarang, kata dia, petani mau menjual beras kemana. Kalau harga beras di pasaran melebihi HET, Suwondo khawatir Satuan Tugas Pangan bisa beroperasi dengan sasaran para penggilingan padi. Padahal saat ini penggilingan padi tidak ada stok beras. Dia menyampaikan para pengusaha penggilingan padi kecil tidak bisa mengikuti pengusaha dengan modal besar.

“Ya, kondisi tersebut mengakibatkan 400-an pengusaha penggilingan padi dari 600-an pengusaha penggilingan padi di Sragen menjadi mati suri. Hidup tak mau, mati pun enggan. Masalahnya hanya tidak bisa bersaing dari hulu sampai hilir,” tambahnya.

Kesepakatan yang dibangun Dinas Ketahanan Pangan (Distapang) Sragen di RM Monica Sragen pada Selasa (3/10/2017) malam memberi angin segar bagi penggilingan padi kecil menengah.

Suwondo menyampaikan kesepakatan itu menjamin gabah dibeli langsung dari petani bukan lewat broker dan pengusaha penggilingan padi dan beras bisa menjual beras setengah jadi.

“Dengan sistem itu saya optimistis pengusaha penggilingan padi yang mati suri mulai bangkit kembali. Artinya, penggilingan padi kecil bisa hidup dan pengusaha bermodal besar juga bisa jalan,” imbuhnya.

Terpisah, Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Sragen Suratno menyampaikan tidak ingin melihat petani menjadi korban dalam persaingan usaha yang tidak sehat.

“Persoalan perberasan ini menjadi masalah bersama dan dicari solusi bersama. Pertamuan di RM Monica itu sudah menjadi titik terang untuk masalah itu,” tambahnya.

lowongan pekerjaan
STAFF SURVEY,MARKETING,SPG,SPB, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Ketika Uang Tunai Terpinggirkan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (16/10/2017). Esai ini karya Riwi Sumantyo, dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah riwi_s@yahoo.com. Solopos.com, SOLO — Perkembangan teknologi digital yang super cepat mengubah banyak hal, baik di…