Kaesang menceritakan biaya hidupnya di Singapura (Youtube) Kaesang menceritakan biaya hidupnya di Singapura (Youtube)
Jumat, 6 Oktober 2017 08:00 WIB Chelin Indra Sushmita/JIBI/Solopos.com Issue Share :

MOST POPULAR YOUTUBE
Terkuak, Ini Biaya Hidup Kaesang di Singapura

Most popular Youtube kali ini tentang biaya hidup Kaesang di Singapura.

Solopos.com, SOLO – Gaya hidup mewah sangat biasa diterapkan oleh mereka yang bergelimang harta. Namun, hal itu tidak berlaku bagi Kaesang Pangarep, putra bungsu Presiden Joko Widodo (Jokowi). Meski ayahnya adalah orang nomor satu di Indonesia, ternyata kehidupan Kaesang jauh dari kata mewah.

Seperti diketahui, Kaesang menetap di Singapura selama enam tahun. Kaesang menuntut ilmu di Singapura sejak duduk di bangku SMA. Lantas, seperti apakah kehidupan Kaesang di Negeri Singa? Apa saja yang dia kerjakan selain belajar?

Semua pertanyaan itu akhirnya terjawab lewat video dari youtuber kenamaan, Kevin Hendarwan. Lewat vlog yang diunggah di channel Youtube pribadinya, Selasa (3/10/2017), Kaesang bercerita secara blakblakan soal kehidupannya di Singapura.

Menurut Kaesang, kehidupan di Jakarta dan Singapura tidak berbeda jauh. Jika Anda mengira Kaesang hidup mewah di negara tetangga, maka anggapan itu salah besar. Kehidupannya di Singapura cukup sederhana. Dia punya cara jitu menjalani hidup sederhana di tengah kota yang semuanya serba mahal.

“Bisa dibikin murah, sebulan sekitar SGD50 [setara Rp493.763]. Katakanlah Rp500.000, beli Indomie SGD2 dapat lima. Satu Indomie dibagi tiga untuk satu hari, jadi bisa tuh lima Indomie buat lima hari,” tutur Kaesang.

“Enggak bisalah, di Jakarta aja sebulan Rp500.000 susah. Pernah enggak?” tanya Kevin. “Pernah, waktu itu bapak ngirimin duit telat. Bukan telat, tapi lupa kalau harusnya ngirimin duit,” jawab Kaesang santai.

Cara itu dilakukan bagi mereka yang mengirit. Sementara bagi yang hidup normal biasanya lebih banyak mengeluarkan biaya. Menurut Kaesang, pengeluaran terbesar adalah untuk memenuhi kebutuhan jajan. “Kalau aku sehari makan dua kali habis SGD10 sampai SGD13 [sekitar Rp98.000 sampai Rp120.000], enggak makan pagi. Kalau makan pagi nanti jadi SGD20. Jadi bangunnya di-telatin. Habis salat subuh tidur lagi, kalau enggak nanti laper,” terang Kaesang.

Kaesang mengatakan biaya untuk makan dan jajan lebih mahal daripada transportasi. Ongkos untuk kendaraan umum dalam sehari biasanya hanya SGD5 sekitar Rp49.000. “Ongkos itu pergi pulang paling cuma SGD5. Kalau tempat tinggal yang enggak pakai kamar mandi dan AC biasanya SGD400. Kalau aku yang SGD800 sampai SGD1.000 sebulan. Fasilitas sudah lumayan, ada AC. Lokasinya yang dekat kampus,” sambung dia.

Pemuda yang masih menempuh pendidikan di Singapore Institut of Management, itu menceritakan kegiatannya selain belajar. “Kuliah, makan, tidur, main gim, ngedit video kalau perlu. Pulang pergi ke Solo jualan kaos,” kelakarnya.

Menariknya, Kaesang mengaku sudah jarang mendapat kiriman uang dari orang tua setelah memiliki bisnis kaus. Dia mengaku tak mendapat kiriman uang jajan selama hampir empat bulan. “Kadang-kadang enggak dikirim. Ini malah sudah empat bulan enggak dikirim, tapi masih bisa survive. Biar kalau bapak nonton, agak nyinggung sedikit. Pak, sudah empat bulan enggak di-kirimin pak. Empat bulan lho pak,” ujar Kaesang.

Tak ketinggalan, Kaesang juga memberitahukan biaya kuliah di Singapura. Dia mengatakan jika biaya pendidikan di Singapura memang sangat mahal. “Kalau enggak dapat subsidi itu bisa sampai Rp200 juta per semester. Tapi, kalau aku dapat subsidi cuma Rp10 juta. Kalau mau dapat subsidi harus sekolah di tempat pemerintah, enggak bisa kalau yang swasta,” paparnya.

Saat ini, Kaesang masih menyelesaikan kuliah yang menurut jadwal bakal rampung 2019 mendatang. Setelah lulus, dia berencana pulang ke Indonesia untuk mengembangkan bisnisnya. 

lowongan pekerjaan
NSC FINANCE KARTASURA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Wacana Lama Densus Antikorupsi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (20/10/2017. Esai ini karya Hafid Zakariya, Ketua Program Studi Ilmu Hukum di Universita Islam Batik (Uniba) Solo. Alamat e-mail penulis adalah hafidzakariya@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Rencana pembentukan Detasemen Khusus Antikorupsi yang digulirkan kembali oleh…