Nur Astuti Hasanah, 27, merawat suaminya, Ramto, 39, di rumahnya Dukuh Dukuh, Desa Randulanang, Jatinom, Klaten, Jumat (6/10/2017). (Cahyadi Kurniawan/JIBI/Solopos) Nur Astuti Hasanah, 27, merawat suaminya, Ramto, 39, di rumahnya Dukuh Dukuh, Desa Randulanang, Jatinom, Klaten, Jumat (6/10/2017). (Cahyadi Kurniawan/JIBI/Solopos)
Jumat, 6 Oktober 2017 21:35 WIB Cahyadi Kurniawan/JIBI/Solopos Klaten Share :

KISAH TRAGIS
Gara-Gara Tersengat Listrik, Pria Jatinom Klaten Kehilangan Kedua Kakinya

Seorang pria asal Jatinom, Klaten, kehilangan kedua kakinya akibat tersengat listrik beberapa waktu lalu.

Solopos.com, KLATEN — Ramto, 39, berusaha menutup matanya dari silau mentari yang masuk melalui jendela kamarnya. Sejak mengalami kecelakaan kerja, Juni lalu, matanya lebih sensitif terhadap sinar matahari.

“Mata saya terasa bureng [kabur] kalau melihat sinar matahari. Kalau saya paksakan, nanti malam baru kembali normal,” kata dia saat ditemui wartawan di kamarnya yang redup karena hampir seluruh jendela tertutup tirai hijau, Jumat (6/10/2017).

Didampingi istrinya, Nur Astuti Hasanah, 27, ia menceritakan musibah yang membuatnya harus kehilangan dua kaki dan tangan kirinya. Pada 9 Juni lalu, pria warga Dukuh Dukuh RT 007/RW 004, Desa Randulanang, Jatinom, ini bekerja di sebuah proyek konstruksi di Karangwuni, Meger, Ceper.

Ia bertugas di bagian mechanical engineering [ME]. Pagi itu, ia memasang pipa lubang drainase. Ia berniat membuka lubang di antara kerangka besi yang hendak dicor menggunakan kunci besi sepanjang satu meter.

Ia tahu di atas kepalanya ada kabel listrik tegangan tinggi. Saat hendak membuat lubang itulah, besi di tangannya tertarik medan magnet listrik.

Ia pun tersengat listrik dan jatuh ke tanah dari ketinggian sembilan meter. “Saya lalu dibawa ke Klinik Karangwuni. Lalu dirujuk ke RSI Klaten, dan malamnya dirujuk ke RS Sardjito, Yogyakarta. Di sana opname selama 54 hari dan harus menjalani tiga kali operasi,” tutur dia.

Operasi pertama adalah amputasi kedua kakinya. Kemudian, tangan kirinya juga diamputasi pada operasi kedua. Terakhir, cangkok kulit telinga sampai rahang akibat luka bakar.

“Awalnya saya ingin tangan ini [tangan kiri] dipertahankan, tapi enggak bisa. Biaya pengobatan di rumah sakit habis Rp156 juta. Semua biaya ditanggung KIS [Kartu Indonesia Sehat],” beber dia sambil membetulkan posisi bantalnya.

Tak berhenti di situ, sepulang dari rumah sakit, ia harus menjalani pemeriksaan kesehatan rutin. Ada sembilan kali pemeriksaan oleh dokter yang datang ke rumahnya. Satu kali pemeriksaan membutuhkan biaya Rp1,5 hingga Rp2,5 juta.

“Pemeriksaan ini tidak ditanggung KIS. Padahal, masih ada 1-2 kali pemeriksaan lagi sampai dinyatakan sembuh,” timpal istrinya, Nur Astuti, yang memutuskan keluar dari status Wiyata Bakti dari sebuah sekolah dasar demi merawat suaminya.

Bapak dua putra berusia tiga tahun dan lima tahun itu menuturkan perusahaan tempatnya bekerja sempat memberikan bantuan berupa biaya pengobatan dan akomodasi selama di rumah sakit dengan mentransfer Rp1 juta per pekan.

Namun, bantuan itu diputus sejak pemeriksaan kali kedua di rumahnya. “Perusahaan juga sempat berjanji membelikan kursi roda. Tapi sampai sekarang enggak ada kabar,” beber Ramto.

Untuk keperluan sehari-hari dan pemeriksaan rutin, Ramto dan keluarganya mengandalkan bantuan saudara, tetangga, dan para dermawan yang peduli. Ada sepetak tanah seluas 2.500 meter persegi yang ditanami palawija dan dirawat ibunya, Ngasiyem, 80.

Ramto yang dulu menjadi tulang punggung keluarga itu kini hanya bisa terbaring di kamar tidurnya. “Saya hanya berharap ada kepedulian perusahaan untuk memenuhi janjinya,” ucap dia.

Kepala Dusun 1 Desa Randulanang, Sarjono, mengatakan pemerintah desa sudah menyampaikan musibah yang dialami Ramto kepada petugas Dinas Sosial Kecamatan Jatinom. Ia berharap dari pemerintah kecamatan bisa menyampaikan informasi itu ke Pemerintah Kabupaten Klaten agar ada solusi guna meringankan beban Ramto.

“Selama ini ada bantuan tak hanya dari warga sekitar tapi juga daerah lain berupa uang. Banyak juga perangkat yang menyiapkan mobil mereka untuk mengantar berobat Ramto jika diperlukan,” ujar Sarjono.

lowongan pekerjaan
Harian Umum SOLOPOS, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Daya Beli Menurun

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (17/10/2017). Esai ini karya Ginanjar Rahmawan, mahasiswa Program Doktor Bidang Pemberdayaan Masyarakat dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah Rahmawan@stiesurakarta.ac.id. Solopos.com, SOLO–Belakangan ini beberapa kawan saya yang…