Kendaraan memadati ruas Jl. MT Haryono saat simulasi rekayasa lalu lintas proyek flyover Manahan, Solo. (M.Ferri Irawan/JIBI/Solopos)
Jumat, 6 Oktober 2017 19:35 WIB Irawan Sapto Adhi/JIBI/Solopos Solo Share :

FLYOVER MANAHAN SOLO
MRLL Disimulasikan, Ini Curhatan Warga soal Sulitnya Lolos dari Kemacetan

Kemacetan lalu lintas akibat pembanguan flyover Manahan Solo diperkirakan berlangsung selama delapan bulan.

Solopos.com, SOLO — Penyelenggaraan simulasi manajemen dan rekayasa lalu lintas (MRLL) pembangunan jalan layang (flyover) Manahan meninggalkan kesan tersendiri bagi Supriyani, 43.

Dia menjadi salah satu orang yang merasa cemas dengan pemberlakukan MRLL tersebut saat pembangunan flyover Manahan mulai November 2017 mendatang. Dari simulasi itu, Supriyani tahu ia akan menghadapi kemacetan luar biasa di berbagai ruas jalan yang menjadi rute menuju tempat kerjanya di Jl. Wora-Wari saat perlintasan sebidang Manahan ditutup Pemerintah Kota (Pemkot) Solo.

“Saya mau ke sini [Jl. Wora-Wari] susahnya minta ampun. Sampai ribet. Saya kan rumahnya di Gilingan. Pertama saya menghadapi kemacetan di perempatan Gilingan, kemudian ketemu lagi di Palang Kereta Api Balapan dan proliman Balapan. Arus lalu lintas saya temui lumayan landai ketika sudah sampai di Jl. Gajah Mada. Namun di Jl. Yosodipuro saya juga menemui sedikit kemacetan,” kata Supriyani saat berbincang dengan Solopos.com, Jumat (6/10/2017).

Supriyani sulit membayangkan ketika harus menghadapi kemacetan luar biasa setiap harinya saat berangkat dan pulang kerja selama pembangunan flyover Manahan. Warga Kampung Cinderejo Lor RT 003/RW 005 Gilingan, Banjarsari, yang bekerja sebagai Manajer Toko Bangunan (TB) Graha Surya Gemilang di Jl. Wora-Wari itu mengatakan butuh waktu lebih dari sejam untuk bisa sampai di tempat kerjanya saat simulasi MRLL, Rabu lalu. (Baca: Nyaris Macet di Mana-Mana, Ini Foto-Foto Pantauan Lalu Lintas Solo)

Supriyani sempat mencoba lewat jalan lain, yakni Jl. Setiabudi, untuk menuju tempat kerjanya. Namun, jalan tersebut juga macet karena kemasukan kendaraan yang tidak bisa lewat Jl. R.M. Said.

“Namun kabarnya Jl. R.M. Said akan dibuka menjadi dua arah lagi. Kemungkinan Jl. Setiabudi tidak semacet kemarin saat Jl. R.M. Said berlaku searah. Saya juga bingung saat Jl. R.M. Said searah. Saya tidak bisa belok kiri masuk Pasar Nongko. Alhasil harus berputar lagi cari jalan lain,” jelas Supriyani.

Diwawancarai terpisah, seorang warga Jl. Kalitan, Kelurahan Penumping, Laweyan, Edi Haryanto, 58, merasa dirugikan dengan arus lalu lintas di Jl. Kalitan yang semakin padat saat dilaksanakan proyek pembangunan flyover Manahan. Suara bising kendaraan yang semakin banyak melintas di Jl. Kalitan mengganggu kenyamanan warga.

Selain itu, kata dia, ketika jalanan ramai warga jelas lebih sulit mengakses Jl. Kalitan dan tidak nyaman karena macet. Edi berharap penutupan perlintasan Manahan tidak dilakukan terlalu lama. Dia berharap pembangunan flyover bisa selesai diselesaikan tepat waktu.

“Warga seperti saya yang tinggal di tepi Jl. Kalitan juga khawatir sampai tergusur akibat rencana pelebaran jalan. Apabila ada warga yang terdampak, pemerintah harus mengajak berunding terlebih dahulu untuk menemukan solusi bersama. Saya tinggal di Jl. Kalitan sudah sejak 1977. Jujur saya takut apabila Jl. Kalitan jadi dilebarkan hingga memangkas rumah warga,” ujar Edi.

Ditemui Solopos.com di Museum Keris, Jumat siang, Wali Kota Solo, F.X. Hadi Rudyatmo, meminta pengertian warga terkait dampak pembangunan flyover Manahan. Dia menyadari pembangunan flyover Manahan berdampak terhadap kelancaran arus lalu lintas di Solo khususnya di seputaran Manahan dan Kota Barat.

Rudy mengatakan dampak kemacetan tersebut tidak sebanding dengan manfaat yang akan dirasakan warga setelah flyover Manahan selesai dibangun. Dia yakin arus lalu lintas akan semakin lancar setelah dibangun flyover.

“Saya berharap masyaraat bisa memahami dampak pembangunan flyover karena membuat overpass bukan untuk kita, tapi untuk generasi yang akan datang. Dua puluh tahun ke depan kalau tidak dibuat overpass akan terjadi kemacetan luar biasa di Solo,” tegas Rudy.

Rudy mengatakan pembangunan flyover Manahan diperkirakan hanya delapan bulan. Dia meminta warga bersabar. Rudy menyebut Dishub tengah mencari formula terbaik MRLL untuk mengatasi kemacetan lalu lintas akibat terdampak proyek pembangunan flyover Manahan.

Setelah tersusun MRLL, Pemkot akan menyosialisasikan hal tersebut kepada warga agar bisa memilih jalan yang tepat. Rudy memberi masukan kepada Dishub agar menghilangkan crossing dalam MRLL pembangunan flyover Manahan.

“Kemarin kan uji coba pertama, kan tentu banyak yang perlu dievaluasi. Yang penting besok saya beri masukan ke Kepala Dishub dan Kasatlantas yang membantu, yakni usahakan tidak ada crossing. Kendaraan dibuat mengalir terus tidak berhenti,” jelas Rudy.

lowongan pekerjaan
KONSULTAN PERENCANAAN BANGUNAN GUDANG, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

PROSTITUSI SEMARANG
Isu Penutupan Kian Santer, SK Sepi

Prostitusi di Semarang, salah satunya terpusat di kawasan Resosialisasi Argorejo atau Sunan Kuning (SK). Solopos.com, SEMARANG — Kebijakan Pemerintah Joko Widodo (Jokowi) yang menargetkan Indonesia Bebas Prostitusi 2019 rupanya tak dianggap isapan jempol oleh penghuni Resosialisasi Argorejo atau Sunan Kuning…