Warga berkumpul untuk mencari informasi aktivitas Gunung Agung di Pos Pemantauan Desa Rendang, Karangasem, Bali, Selasa (19/9/2017). (JIBI/Solopos/Antara/Nyoman Budhiana) Warga berkumpul untuk mencari informasi aktivitas Gunung Agung di Pos Pemantauan Desa Rendang, Karangasem, Bali, Selasa (19/9/2017). (JIBI/Solopos/Antara/Nyoman Budhiana)
Jumat, 6 Oktober 2017 09:41 WIB Sunartono/JIBI/Harian Jogja Peristiwa Share :

Fakultas Peternakan UGM Dirikan Posko Pengungsian Ternak Korban Gunung Agung

Fakultas Peternakan UGM merespon peningkatan aktivitas Gunung Agung Bali yang mencapai level awas

Solopos.com, SLEMAN – Fakultas Peternakan UGM merespon peningkatan aktivitas Gunung Agung Bali yang mencapai level awas dengan mendirikan posko khusus untuk pengungsian ternak.

Dekan Fakultas Peternakan UGM, Prof. Ali Agus, menjelaskan pemerintah telah menetapkan daerah di bawah radius kurang dari 12 km untuk dikosongkan. Sekitar 70.000 penduduk akan berpindah dalam barak pengungsian.

Keselamatan ternak menjadi bagian tak terpisahkan dari proses pengungsian itu. Selain posko pengungsian manusia juga diperlukan posko pengungsian ternak. Karena itu Fakultas Peternakan UGM mendirikan posko pengungsian ternak di Desa Ngis, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem.

“Sebagian pengungsi ada yang rela mengambil risiko di KRB [kawasan rawan bencana] untuk tetap memantau dan memberi pakan ternaknya. Pada sisi lain, ada saja oknum yg memanfaatkan kesempatan dengan membeli ternak penduduk dengan harga murah,” terangnya dalam rilis kepada Solopos.com, Kamis (5/10/2017).

Tim dari Fakultas Peternakan UGM telah berangkat ke Bali untuk berkoordinasi dengan BNPB dan Dinas Peternakan setempat pada Minggu (1/10/2017) lalu.

Terdiri atas Bambang Suwignyo, Prof. I Gede Suparta Budisatria, Prof. Budi Guntoro bersama dua mahasiswa selaku relawan. Sedangkan jumlah pengungsi sudah mencapai 144.000 orang dari perkiraan 70.000 orang.

Koordinator Tim Peternakan UGM Bambang Suwignyo menambahkan, saat ini ada 40 titik lokasi ternak yang telah disiapkan. Sapi sebanyak 3.000 ekor sudah dievakuasi dari 20.000 ekor yang ada. Sumber pakan hijauan saat ini sudah kurang. “Konsentrat relatif sudah tersedia. Meski kita belum bisa prediksi sampai berapa lama situasi darurat ini,” ujarnya.

Pihaknya bersiap dengan stok pakan konsentrat serta menawarkan program edukasi pengurangan risiko bencana. Serta mengusulkan program membuat pakan fermentasi dengan melibatkan para pengungsi. Pakan fermentasi ini dapat disimpan dalam waktu lama dan tidak rusak sehingga dapat untuk antisipasi stok jika erupsi berlangsung lama.

“Membuat stok pakan fermentasi akan mengurangi frekuensi peternaik naik ke KRB satu dan dua,” kata dia.

lowongan pekerjaan
, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Daya Beli Menurun

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (17/10/2017). Esai ini karya Ginanjar Rahmawan, mahasiswa Program Doktor Bidang Pemberdayaan Masyarakat dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah Rahmawan@stiesurakarta.ac.id. Solopos.com, SOLO–Belakangan ini beberapa kawan saya yang…