Menteri Kesehatan melihat proses imunisasi Measles Rubella di Madrasah Tsanawiyah Negeri 10, Jl. Damai, Sleman, Selasa (1/8/2017). Pemerintah berkomitmen untuk menghilangkan penularan dan populasi virus campak dan rubella di tahun 2020 serta mengkampanyekan pemberian imunisasi tersebut pada anak usia sembilan bulan sampai usia di bawah 15 tahun, untuk menekan kejadian kasus campak (measles) dan rubella. (Gigih.M. Hanafi/JIBI/Harian Jogja) Menteri Kesehatan melihat proses imunisasi Measles Rubella di Madrasah Tsanawiyah Negeri 10, Jl. Damai, Sleman, Selasa (1/8/2017). (Gigih.M. Hanafi/JIBI/Harian Jogja)
Kamis, 5 Oktober 2017 19:55 WIB David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja Gunung Kidul Share :

Vaksin MR Ditutup, Dinkes Gunungkidul Lakukan Penyisiran Wilayah

Dinas Kesehatan Gunungkidul mengklaim tingkat partisipasi imunisasi MR mencapai 98,50%.

Solopos.com, GUNUNGKIDUL – Dinas Kesehatan Gunungkidul mengklaim tingkat partisipasi imunisasi MR mencapai 98,50%.

Meski pemberian vaksin sudah resmi ditutup, dinas masih akan melakukan penyisirian terhadap anak-anak yang belum mendapatkan vaksin.

Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul Dewi Irawaty mengatakan pelaksanaan imunisasi MR resmi ditutup pada akhir September lalu. Selama pemberian vaksin yang berlangsung dua bulan, tingkat partisipasi warga tinggi.

Dari target 147.000 anak wajib imunisasi, 98,50% di antaranya telah diberikan vaksin untuk mencegah penyebaran penyakit campak dan rubella.

“Secara angka pastinya saya belum dapat, tapi dari sisi presentase mencapai 98,50%,” kata Dewi kepada wartawan, Rabu (4/10/2017).

Menurut dia, tingkat partisipasi imunisasi MR di Gunungkidul terhitung tinggi karena melebihi rataan di Provinsi DIY yang capaiannya di kisaran 95,7%. Dewi menegaskan, dengan tingginya capaian tersebut, maka pelaksanaan imunisasi di Bumi Handayani tidak akan diperpanjang.

Hanya saja, lanjut dia, dinas kesehatan masih membuka kesempatan kepada anak-anak yang belum diimunisasi untuk mendapatkan vaksin.

“Meski sudah ditutup, tapi kami akan terus melakukan penyisiran,” ungkap mantan Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan ini.

Dewi tidak menampik, selama pemberian imunisasi terdapat penolakan. Beberapa penolakan dapat terlihat di sejumlah pesantren di Ngiplar dan Playen. Namun demikian, sambung dia, hal tersebut bukan menjadi masalah karena proses jalan terus hingga capaian di Gunungkidul mendekati dari target yang telah ditentukan sejak awal.

“Penolakan yang terjadi bukan menjadi masalah karena hal ini sebagai proses dinamika di lapangan saat pelaksanaan program,” ujarnya.

lowongan pekerjaan
, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
”Akad” Populer karena Berbeda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (14/10/2017). Esai ini karya Romensy Augustino, mahasiswa Jurusan Etnomusikologi Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Alamat e-mail penulis adalah romensyetno@yahoo.com. Solopos.com, SOLO – -Youtube adalah salah satu media sosial yang menjadi rujukan…