Presiden Joko Widodo saat menghadiri Kongres Pancasila IX dii Balairung Universitas Gadjah Mada (UGM) di Jalan Persatuan, Sleman, Sabtu (22/7/2017). (Gigih M. Hanafi/JIBI/Harian Jogja)
Kamis, 5 Oktober 2017 22:00 WIB Lingga Sukatma Wiangga/JIBI/Bisnis Politik Share :

PILPRES 2019
Parpol Mau Populer? Tempel Saja Jokowi

Tingginya elektabilitas Jokowi jelang Pilpres 2019 membuat popularitas parpol di sekitarnya ikut terdongkrak.

Solopos.com, JAKARTA — Masih tingginya elektablitas Joko Widodo (Jokowi) sebagai calon presiden potensial pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 dapat dijadikan kendaraan bagi partai politik untuk mendompleng popularitas.

Direktur Eksekutif Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Djayadi Hanan mengatakan partai pendukung pemerintah bisa mengatrol elektabilitas melalui citra positif Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat ini.

Pihaknya mencatat sejak pertengahan 2016 kepuasan atas kinerja presiden selalu di atas 60% dan cenderung stabil. Menurutnya, ada kecenderungan yang kuat jika elektabilitas calon presiden meningkat hal itu pun akan berbanding lurus dengan partai pengusung.

Bukan hanya Jokowi dan PDIP, hal itu pun terjadi pada Partai Gerindra dan Prabowo Subianto atau Partai Demokrat dengan Susilo Bambang Yudhoyono serta Megawati Sukarnoputri dengan PDIP. Bahkan, kata dia, partai pendukung di luar partai utama saat ini bisa ikut mengatrol elektabilitas melalui citra Jokowi.

Seperti diketahui, ada lima partai koalisi pemerintah saat ini di luar PDIP yaitu PAN, PPP, PKB, Partai Golkar, dan Partai Hanura. Dia mencontohkan, dari hasil survei dengan pertanyaan semi terbuka, dukungan kepada Jokowi sebesar 45,6%. Berikutnya ada Prabowo 18,7%, Susilo Bambang Yudhoyono 3,9% dan nama-nama lain hanya di bawah 2%.

Survei itu dilakukan kepada 1.057 responden di 34 provinsi pada periode 3-10 September. Pada saat bersamaan, pilihan terhadap PDIP hanya sekitar 27% namun secara paralel meningkat seiring elektabilitas Jokowi yang naik.

Pihaknya mencatat, pada Januari 2017 persentase dukungan terhadap Jokowi hanya sebesar 36,8% dan PDIP 23,6%. Adapun pada Mei 2017 persentase dukungan terhadap Jokowi 41,7% dan PDIP 25,8%.

“Ada yang mendukung Jokowi karena mendukung PDIP, tapi ada juga sisa persentase dukungan terhadap Jokowi namun bukan dari PDIP. Partai lain bisa menarik suara-suara tersebut,” katanya, Kamis (5/10/2017).

Djayadi menjelaskan, menularkan elektabilitas tersebut bisa dilakukan partai pendukung dengan mengasosiasikan diri lebih kuat dengan Jokowi. Caranya, dengan menyatakan secara terang-terangan dan masif mendukung Jokowi atau bahkan meminta sang presiden menyatakan secara langsung bahwa dirinya didukung partai tertentu.

Selain itu, partai pendukung pun bisa lebih mensosialisasikan program Jokowi dan menyukseskannya hingga akar rumput. Sementara itu, Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar Tubagus Ace Hasan Syadzily mengatakan pihaknya sudah ‘mengasosiasikan’ diri dengan Jokowi sejak tahun lalu.

Hal itu terbukti dari dipasangnya propaganda hingga ke daerah-daerah yang menyatakan Golkar mendukung Jokowi pada pemilu presiden 2019. Selain itu, kata dia, pihaknya gencar mensosialisasikan dan mendukung program pemerintah hingga ke daerah-daerah.

Dia menilai, Golkar dengan segala permasalahan yang dihadapi masih berada di peringkat dua besar partai yang menjadi pilihan masyarakat. Adapun elektabilitas partai berlambang beringin pada survei SMRC mencapai 11% di bawah PDIP dan di atas Gerindra yang mencapai 10,2%.

lowongan pekerjaan
SUNAN TOUR AND TRAVEL, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Ketika Uang Tunai Terpinggirkan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (16/10/2017). Esai ini karya Riwi Sumantyo, dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah riwi_s@yahoo.com. Solopos.com, SOLO — Perkembangan teknologi digital yang super cepat mengubah banyak hal, baik di…