Seorang petani, Bukhori, 45, melubangi tanah di lahan yang digarapnya di Dusun Suruhan, Gambirmanis, Pracimantoro, Wonogiri, Kamis (5/10/2017). Sedianya dia menanam jagung setelah hujan kembali turun. (Rudi Hartono/JIBI/Solopos) Seorang petani, Bukhori, 45, melubangi tanah di lahan yang digarapnya di Dusun Suruhan, Gambirmanis, Pracimantoro, Wonogiri, Kamis (5/10/2017). Sedianya dia menanam jagung setelah hujan kembali turun. (Rudi Hartono/JIBI/Solopos)
Kamis, 5 Oktober 2017 13:35 WIB Rudi Hartono/JIBI/Solopos Wonogiri Share :

PERTANIAN WONOGIRI
Hujan Enggan Turun Lagi, Petani Pracimantoro Waswas Bibit Jagung Mati

Pertanian Wonogiri, petani mulai menanam padi dan jagung.

Solopos.com, WONOGIRI — Sejumlah petani di Pracimantoro, Wonogiri, berspekulasi menanam bibit padi, jagung, dan kacang tanah  setelah hujan mengguyur kawasan setempat sepekan lalu. Bibit itu berpotensi mati jika hingga sepekan ke depan tidak hujan lagi.

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Gambir Makmur, Gambirmanis, Pracimantoro, Sugeng Priyono, saat ditemui di desa setempat, Kamis (5/10/2017), menyampaikan sudah 90 persen petani di desanya menanam padi yang divariasikan dengan jagung (tumpangsari) atau menanam jagung variasi kacang tanah.

Menurut dia, luas lahan ditanami jagung dan kacang tanah lebih kurang 400 hektare (ha) atau separuh dari luas tanam, yakni 914 ha. Petani menanam setelah hujan kali pertama mengguyur pascamusim kemarau. Petani berspekulasi hujan akan terus terjadi.

Namun, di luar dugaan setelah masa itu tidak hujan lagi, bahkan cuaca sangat panas. Jika tidak ada hujan hingga lima hari hingga sepekan ke depan, kemungkinan besar bibit jagung dan kacang tanah akan mati.

Sebab, bibit jagung yang terpendam tanah basah dan tidak terkena air lagi akan menjamur atau tepo akhirnya bisa mati. Sedangkan bibit kacang tanah bisa mati karena setelah terpendam tanah basah bisa gagal bertunas atau calon tunas dapat mengering, jika tidak mendapat asupan air lagi.

“Kalau bibit mati petani harus menanam lagi. Kalau itu terjadi ya rugi semua. Petani Gambirmanis pernah menanam bibit jagung dan kacang tanah dua kali beberapa tahun lalu. Kondisinya persis seperti kali ini. Melihat cuaca yang panas seperti ini petani ketir-ketir. Semoga dalam waktu dekat hujan lagi,” kata Sugeng diamini Kades, Sunardi.

Dia bercerita modal untuk membeli bibit jagung besar, terlebih saat ini harganya naik Rp5.000/kg-Rp20.000/kg. Musim tanam sebelumnya harga bibit jagung Rp60.000/kg, sekarang mencapai Rp65.000/kg-Rp80.000/kg. Lahan seluas 1 ha membutuhkan lebih dari 4 kg bibit. Untuk bibit kacang tanah petani tidak membelinya karena petani memiliki persediaan dari hasil panen sebelumnya.

Kondisi yang sama terjadi di Desa Jimbar, Pracimantoor. Kades Jimbar, Sutrisno, menyampaikan mayoritas petani di desanya menanam jagung. Luas tanam jagung mencapai lebih dari 200 ha. Saat ini petani waswas karena hujan tak kunjung mengguyur lagi.

“Ihtiar yang bisa dilakukan hanya berdoa, semoga segera hujan lagi,” kata Kades.

lowongan pekerjaan
PT SAKA JAYA ENGGAL CIPTA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
”Akad” Populer karena Berbeda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (14/10/2017). Esai ini karya Romensy Augustino, mahasiswa Jurusan Etnomusikologi Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Alamat e-mail penulis adalah romensyetno@yahoo.com. Solopos.com, SOLO – -Youtube adalah salah satu media sosial yang menjadi rujukan…