ilustrasi wayang orang (M.Ferri Setiawan/JIBI/Solopos) ilustrasi wayang orang (M.Ferri Setiawan/JIBI/Solopos)
Kamis, 5 Oktober 2017 15:26 WIB Ika Yuniati/JIBI/Solopos Issue Share :

Meriahkan HUT ISI Solo, Wayang Kautaman Pentaskan Sotya Gandhewa

Wayang Kautaman pernah sukses menggelar pertunjukan lakon Sotya Gandhewa di Jakarta.

Solopos.com, SOLO--Sukses pada 2016 lalu di Jakarta, Wayang Kautaman kembali mementaskan lakon Sotya Gandhewa di panggung Solo. Masih disutradarai Nanang Hape, wayang serius yang digarap dengan konsep artistik memukau tersebut bakal menyapa masyarakat Solo dalam serangkaian peringatan Dies Natalis ke-53 Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, di Teater Besar, Jumat (6/10/2017).

Meski sebelumnya pernah dipentaskan dengan judul yang sama, penggarapan Sotya Gandhewa untuk Solo ini sedikit berbeda. Mulai dari para pemain dan konsep artistik yang tidak sama persis. Tetapi dari sisi penggarapan tetap sama, yaitu mereka memaksimalkan setiap detail pertunjukkan mulai garap lakon, tata panggung, desain artistik, dan lainnya. Bahkan persiapan pentas dilakukan sejak April lalu.

Berdasarkan informasi yang diunggah dalam akun instagram resmi mereka @Wayangkautaman sejumlah penari senior Solo terlibat dalam pentas Sotya Gandhewa kedua. Mereka seperti Rusini, Wahyu Santoso Prabowo, dan Wasi Bantolo. Ada juga penata tari asal Makassar, Elly D Luthan. Dengan penata tari Achmad Dipoyono, dan Wahyu Sapto Pamungkas. Sedangkan musik diserahkan kepada Blacius Subono.

Produser Pelaksana Prapto Panuju saat bertandang ke Griya Solopos, Rabu (4/10) mengatakan garapan mereka sangat serius. Enggak terlalu modern tetapi banyak melibatkan konsep artistik yang tak pernah terfikirkan oleh garap wayang orang lainnya. Di Jakarta mereka juga memasukkan unsur multimedia sebagai background panggung. Meski sedikit berbeda, pentas di Solo nanti dijanjikan sangat menarik bagi semua kalangan.

“Anak-anak ke depan perlu wayang ini. Biar masyarakat enggak minder dengan kesenian besar di negara lain,” kata dia.

Sutradara Nanang Hape menambahkan semua unsur pendukungnya hampir sama dengan wayang orang pada umumnya. Yang membedakan hanyalah segi kreativitas yang dimaksimalkan. Mulai dari penggarapan plot, alur padat, kalimat yang efektif, dan eksplorasi lain. Dengan proses yang serius tersebut, ia mengklaim selama tiga kali penggarapan respons penonton sangat bagus. Tiket ketiga pentas yang digelar di Jakarta tersebut selalu sold out.

“Semua kita garap, plot, alur, padat, kalimat-kalimat yang efektif, dramatiknya. Kami justru ke situ. Sebenarnya enggak ada yang baru, yang baru adalah keseriusan, eksplorasi maksimalnya. Agar wayang enggak hanya dianggap sebagai kenangan masa lalu. Tetapi tontonan semua orang, semua kalangan,” kata Nanang.

Sotya Gandhewa menceritakan tentang kegamangan Pandhita Durna sebagai guru Arjuna sekaligus pengabdi negara di bawah kepemimpinan Duryudana. Kepentingan negara ternyata bertolak belakang dengan tugasnya sebagai guru para ksatria Hastina. Hal ini sekaligus menyoroti kebijakan pemerintah yang tak jarang berbenturan dengan idealisme pendidikan.

lowongan pekerjaan
CV. HORISON, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

Makin Banyak Mahasiswa Asing Kuliah di UMY

Dalam lingkungan akademik, sebanyak 31 universitas di Asia termasuk dalam 100 besar universitas terbaik dunia Solopos.com, BANTUL-Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) kembali menerima 79 mahasiswa asing dari 14 negara di tahun akademik 2017/2018. Jumlah itu lebih banyak dar tahun sebelumnya. Tercatat…